Melihat Kinerja Operator Seluler di Indonesia

Oleh Dian Tami Kosasih pada 24 Jun 2021, 18:25 WIB
Diperbarui 24 Jun 2021, 18:25 WIB
20160602-Teknologi-Seluler-Jakarta-AY
Perbesar
Pengunjung saat melintas di pameran Indonesia Cellular Show 2016 di JCC, Jakarta, Kamis (2/6). Pameran tersebut merupakan ajang untuk mendekatkan para operator telekomunikasi Indonesia dengan pengunjung langsung. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Data Fitch Solutions menyebut, ada 348,26 juta langganan seluler terdaftar di Indonesia pada akhir September 2020. Terdapat tiga operator seluler yang mendominasi yakni Telkomsel, Indosat dan XL Axiata. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 3,7 persen year on year. Sebelumnya, terdapat kebijakan terkait registrasi SIM pada kuartal 1 2018.

Saat itu pasar mengalami kerugian sekitar 68,5 juta pelanggan. Potensi pertumbuhan yang cukup besar terjadi mengingat dominasi layanan prabayar dan multiple kepemilikan SIM. Fokus operator dalam meluncurkan jaringan seluler di daerah pedesaan dan tertinggal juga dapat mendukung pertumbuhan di sektor ini.

Pada kuartal I 2020, ketiga operator melaporkan penurunan basis langganan karena penonaktifan SIM yang tidak aktif. Meski demikian, pemulihan kembali terjadi di kuartal III 2020, ketiga operator utama mencatat pemulihan. Telkomsel yang merupakan jaringan seluler Telkom, berhasil menjadi pemimpin, walupum pangsa pasarnya jatuh sejak 2008.

Saat ini perusahaan memegang 50 persen pasar, pada kuartal III 2020. Ini mendominasi pasar dengan lebih dari 170.12mn langganan, karena dukungan keuangan yang kuat, dan kemampuan untuk menggabungkan layanan kabel Telkom dengan layanan selulernya. Bersama Indosat dan XL Axiata, ketiganya menguasai 80 persen pasar ponsel di Indonesia.

Sementara itu, pemain alternatif telah memperluas dan memberikan persaingan yang lebih besar kepada pemain lama, dorongan penonaktifan SIM pada 2018 telah menyebabkan perusahaan yang lebih kecil menyusut secara signifikan. Indosat hadir dengan lebih dari 10 juta pelanggan pada awal 2005.

Saat itu pangsa pasarnya perusahan mencapai puncaknya, yakni 30 persen. Namun, angka tersebut merosot ke level terendah, yakni 18 persen di Kuartal III 2013. Basis pelanggan Indosat telah menyusut dengan cepat mengikuti registrasi SIM di 2018.

Saat itu perusahaan memiliki 23 persen pangsa pasar. Angka itu kembali merosot ke 16,4 persen pada kuartal I 2019, sebelum pulih ke 17,3 persen pada kuartal III 2020. Kehilangan pelanggan yang signifikan menunjukkan bahwa Indosat menyimpan sejumlah besar SIM yang tidak aktif.

Basis pelanggannya mencapai 60,4 juta pada akhir September 2020, menjadikannya operator terbesar kedua di negara ini. XL Axiata, yang dikendalikan oleh Grup Axiata Malaysia membuntuti Indosat, mengklaim 56,88 juta pelanggan di Kuartal III 2020. Angka tersebut membawa perusahaan menguasai pangsa pasar sekitar 16,3 persen.

Pada 2019, perusahaan kalah dari Indosat, yang telah berusaha untuk mengimbangi kerugian pelanggannya dengan menurunkan harga dan memperkenalkan lebih banyak alokasi data yang menarik. Seperti Indosat dan Telkomsel, XL Axiata juga berupaya memigrasikan pelanggan prabayar hemat ke layanan pascabayar premium.

Jika memungkinkan, sebagian besar pertumbuhan yang terlihat akhir-akhir ini terjadi di arena prabayar. Ini mengejar strategi merek ganda, Axis Telekom, yang diakuisisi pada kuartal I 2014. Pada Mei 2020, Axiata mengungkapkan XL sedang dalam pembicaraan dengan semua pesaingnya untuk kesepakatan pertukaran saham potensial.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pangsa Pasar

Ini Yang Harus Dilakukan Operator Jika Layanannya Terganggu
Perbesar
Kualitas layanan telekomunikasi operator seluler sedang banyak dikeluhkan oleh para pelanggannya.

Spekulasi XL sedang mencari merger muncul segera setelah merger yang diusulkan dengan operasi Asia dari perusahaan telekomunikasi Norwegia, Telenor runtuh pada September 2019.

Pada Desember 2020, CK Hutchison dan Ooredoo menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) untuk bersama-sama menjajaki potensi penggabungan unit mereka di Indonesia. PT Hutchison 3 Indonesia yang hadir dengan merek 3/Tri Indonesia tidak mempublikasikan hasil operator. Namun, data perusahaan menunjukkan bahwa operator memiliki 34,16 juta langganan pada akhir kuartal II 2020. Hal ini memberikan pihaknya pangsa pasar efektif sebesar 10,3 persen pada saat itu.

Pada akhir 2019, Smartfren Telecom yang merupakan hasil merger antara Smart Telecom dan Mobile-8 menyatakan, mereka memiliki 23,46 juta pelanggan seluler. Angka ini tumbuh sedikit menjadi 25,5 juta pada akhir September 2020, untuk pangsa pasar sekitar 7,3 persen. 

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓