Kunci Sektor Telekomunikasi Mampu Bertahan di Tengah Pandemi COVID-19

Oleh Dian Tami Kosasih pada 24 Jun 2021, 17:04 WIB
Diperbarui 24 Jun 2021, 17:04 WIB
20161102-Menara Tower-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Menara jaringan telekomunikasi milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, Jakarta, Rabu (2/11). Indonesia menargetkan menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia tenggara tahun 2020. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Layanan telekomunikasi mampu bertahan dengan baik di tengah pandemi COVID-19 yang terjadi. Hal ini tak terlepas dari sifat esensial dan kepentingannya dalam mendukung ekonomi.

Setelah paruh pertama 2020 yang lemah, sebagian besar operator besar telah melaporkan stabilisasi dalam keuangan dan operasional. Perkembangan 5G dan digitalisasi merupakan dua tren utama dan menjadi fokus operator sepanjang 2021.

Tak heran, belanja modal yang digelontorkan sebagian perusahaan dialihkan untuk dua hal tersebut, seperti data yang disebutkan Fitch Solutions.

Sektor telekomunikasi Asia sebagian besar telah menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang diciptakan oleh pandemi COVID-19. Tercermin dalam hasil kuartal ketiga yang lebih stabil.

Kunci utama ada peningkatan di sektor telekomunikasi tercermin dari langkah pasar dan konsumen yang menyesuaikan diri dengan penggunaan sistem digital di berbagai kesempatan.

Hal ini tentu membuat perusahaan telekomunikasi mengalami peningkatan dari sisi pendapatan. Pada tahap awal pandemi, operator telah melaporkan kerugian signifikan karena pelanggan prabayar tak lagi menggunakan layanan sekunder mereka.

Sebagai contoh, operator di Indonesia dan Filipina, mencatat kerugian tajam di kuartal 2 tahun lalu. Meski demikian, perusahaan kembali mencatatkan pertumbuhan di kuartal berikutnya.

Lonjakan koneksi broadband akibat meningkatnya kebutuhan telekomunikasi dan pembelajaran jarak jauh juga memberikan peluang bagi operator meningkatkan pendapatan dan menjual lebih banyak layanan.

Di pasar yang kurang penetrasi, operator incumbent mencatat akselerasi yang tajam dalam penyerapan berlangganan broadband, dengan petahana Filipina Globe Telecom dan PLDT melaporkan peningkatan koneksi hingga 51 persen pada tiga kuartal pertama tahun 2020.

Telkom incumbent Indonesia juga mencatat pertumbuhan yang kuat, sejalan dengan operator di Thailand dan Malaysia. Meski demikian, pertumbuhan langganan broadband yang tinggi diperkirakan akan menurun di kuartal mendatang karena vaksin dan kegiatan ekonomi yang semakin normal.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Layanan 5G Topang Pertumbuhan

Ilustrasi jaringan 5G
Perbesar
Ilustrasi jaringan 5G. (Doc: Cobham)

Peluncuran layanan 5G juga akan menopang pertumbuhan di sektor ini. Pada 2021 antisipasi langganan tetap terpusat pada perangkat konsumen, bukan pada koneksi mesin (M2M).

Sepanjang 2020, operator lebih tertarik untuk menggunakan jaringan seluler konsumen dari pada layanan yang melayani bisnis, karena kasus penggunaan 5G untuk sektor perusahaan juga masih terbatas untuk saat ini.

Hal ini diperkirakan akan berubah sesuai dengan spektrum frekuensi tinggi, yang akan memungkinkan kasus penggunaan 5G yang lebih kompleks. Pada akhir 2020, operator Korea Selatan mulai menguji coba aplikasi mmWave untuk kasus penggunaan komersial.

Sementara itu, operator China juga dilaporkan sedang menguji coba aplikasi sejak pertengahan 2020 dan siap didemonstrasikan pada Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 \. Beragam inovasi pada sistem layanan telekomunikasi diprediksi akan menghidupkan kembali pertumbuhan perusahaan pada tahun-tahun mendatang. 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓