Catatan Fitch Solutions Terkait Prospek Sektor Perdagangan Farmasi

Oleh Agustina Melani pada 24 Jun 2021, 16:40 WIB
Diperbarui 24 Jun 2021, 16:41 WIB
Gambar Ilustrasi Obat-Obatan
Perbesar
Sumber: Freepik

Liputan6.com, Jakarta - Fitch Solutions memandang Indonesia akan terus berupaya mengurangi ketergantungan pada impor bahan aktif farmasi yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan manufaktur lokal.

Namun, saat ini impor menyumbang 90 persen dari seluruh kebutuhan farmasi dalam negeri. Pada sisi negatifnya, impor kemungkinan terkena dampak negatif didorong oleh penguatan manufaktur dalam negeri meskipun neraca perdagangan akan terus melebar.

Pandangan itu disampaikan Fitch Solutions dalam laporan bertajuk Indonesia Pharmaceutial & Healthcare Report Include 10-year forecasts to 2030.

Ekspor diperkirakan akan terlihat stabil meski pertumbuhan lebih lambat, sebagian besar menargetkan Asia Tenggara. Kinerja ekspor diperkirakan lebih baik ketimbang impor meningkat dari Rp 7,8 triliun pada 2020 menjadi Rp 8,1 triliun pada 2021. Kemudian meningkat menjadi Rp 9,8 triliun pada 2025.

Tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau compounded annual growth rate (CAGR) atas investasi dalam 10 tahun sebesar 5,9 persen untuk mata uang lokal dan 6,8 persen dalam dolar AS.

Fitch Solutions menilai, seiring sektor farmasi Indonesia semakin matang, perusahaan akan berusaha menangkap peluang di kawasan Asia Tenggara yang lebih luas di pasar Asia. Penjualan untuk 10 negara anggota ASEAN akan meningkat didukung peluncuran perawatan kesehatan universal seperti di pasar Vietnam dan Filipina. Selain itu seperti MediShield Life Singapura.

"Kami mengharapkan kenaikan output yang digunakan untuk pasar lokal, yang mendorong asuransi dalam rumah makin luas,” tulis laporan Fitch Solutions yang dikutip Kamis, (24/6/2021).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Indonesia Basis Manufaktur untuk Ekspor

Ilustrasi obat kanker/dok. Unsplash Myriam
Perbesar
Ilustrasi obat kanker/dok. Unsplash Myriam

Fitch Solutions mencatat perusahaan farmasi multinasional juga telah menggunakan Indonesia sebagai basis manufaktur untuk ekspor. Ini termasuk Bayer yang berbasis di Jerman.

Pada 2015, perseroan habiskan dana USD 3,4 juta untuk memperluas kapasitas produksi di Cimanggis, Jawa Barat dengan tujuan memungkinkan perusahaan untuk ekspor produk perawatan kesehatan global setidaknya ke 50 negara dalam tiga tahun ke depan.

Bayer Indonesia mengumumkan pada 2019 berharap dapat meningkatkan ekspor dari fasilitas manufaktur dari 30 persen menjadi 65 persen kontainer setiap bulan, atau naik 50.

Di sisi lain pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan menjadi katalis bagi ekspor farmasi Indonesia. Meskipun integrasi akan tetap menjadi proses bertahap karena perbedaan dalam standar peraturan antara anggota ASEAN yang tujuan akhirnya akan sangat positif karena berupaya menyelaraskan peraturan farmasi dan menghilangkan hambatan teknis untuk perdagangan obat.

Selain memfasilitas akses ke pasar Asia Tenggara, ini juga akan memungkinkan produsen obat di Indonesia mencapai lebih besar skala ekonomi dan memungkinkan untuk bersaing di pasar seperti China.

"Kami menyoroti produsen obat di Indonesia terutama telah mengantisipasi peluang akan muncul dari yang lebih besar integrasi. Misalnya Kalbe Farma berencana memproduksi obat kanker untuk memenuhi kebutuhan pasar lobal dan bersiap untuk ekspr,” tulis laporan Fitch Solutions.

Demikian pula, Darya-Varia Laboratoria menantikan peluncurkan MEA yang diyakini akan sangat bermanfaat terutama kepada perusahaan mitra yang mapan. Industri dalam negeri juga investasi di fasilitas hulu dalam upaya melindungi industri dari devaluasi mata uang.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓