Harga Bitcoin Sentuh Posisi Rp 427,94 Juta untuk Pertama Kali

Oleh Dian Tami Kosasih pada 23 Jun 2021, 06:56 WIB
Diperbarui 23 Jun 2021, 08:36 WIB
Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay
Perbesar
Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Mencapai level terendahnya sejak 28 Januari 2021, harga bitcoin turun hingga berada di bawah USD 30.000 pada Selasa, 22 Juni 2021.  Seperti dilansir Coindesk, Rabu (23/6/2021), mata uang kripto paling terkenal itu diperdagangkan di angka USD 29.700 atau sekitar Rp 427,94 juta (asumsi kurs Rp 14.409 per dolar AS).

Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 3 persen.Penurunan ini terjadi setelah People's Bank of China diperintahkan untuk berhenti memfasilitasi transaksi kripto. Melihat hal ini, permintaan pasar akan bitcoin melemah, terlebih adanya kekhawatiran regulasi hawkish Federal Reserve.

"Tidak ada bukti langsung yang menunjukkan orang-orang di China membeli saat terjadi penurunan bitcoin. Seperti yang ditunjukkan dalam indeks OTC ChaiNext tether (USDT), nilai bitcoin melayang selama beberapa minggu terakhir di bulan Juni, sehingga menunjukkan sedikit diskon dalam perdagangan USDT, ” kata Analis pertukaran crypto OKEx,Matthew Lam.

Bitcoin sempat berada di puncaknya, saat memiliki nilai di atas USD 64.000 pada pertengahan April 2021. Namun, harga tersebut turun 35 persen pada Mei karena kekhawatiran mengenai dampak lingkungan dari penambangan cryptocurrency dan tindakan keras peraturan baru di China.

Pekan lalu, Federal Reserve secara tak terduga memajukan waktu kenaikan suku bunga pertama hingga 2023, hal ini menambah tekanan bearish di sekitar mata uang kripto.

Sementara bitcoin turun 8 persen setiap 24 jam, koin utama lainnya seperti ether , XRP, dan cardano mengalami kerugian 10 hingga 20 persen.

Tak hanya itu, Dogecoin juga diperdagangkan 25 persen lebih rendah.Matthew Dibb, COO, dan salah satu pendiri Stack Funds, memperkirakan kenaikan bisa saja terjadi.

"Saya pribadi berpikir perdagangan terbaik untuk kripto adalah dominasi bitcoin yang cukup panjang. Jika pasar jatuh, bitcoin harus turun lebih sedikit daripada altcoin. Jika sentimen pulih, bitcoin akan naik lebih dari altcoin," kata Dibb kepada CoinDesk.

China Tindak Keras Penambang Kripto, Harga Bitcoin Merosot

Bitcoin - Image by Benjamin Nelan from Pixabay
Perbesar
Bitcoin - Image by Benjamin Nelan from Pixabay

Sebelumnya, harga bitcoin merosot ke level terendah dalam dua minggu pada Senin, 21 Juni 2021. Hal ini terjadi di tengah laporan China intensifkan tindakan kerasnya terhadap penambangan uang kripto.

Mata uang digital terbesar di dunia ini turun ke level USD 31.760 atau sekitar Rp 458,09 juta (asumsi kurs Rp 14.423 per dolar AS) pada Senin pagi, 21 Juni 2021. Harga bitcoin turun di bawah USD 32.000 untuk pertama kalinya sejak 8 Juni 2021, berdasarkan data Coin Metrics.

Kemudian harga bitcoin ke posisi USD 32.997 pada pukul 10.45 ET turun 3,3 persen pada Senin pekan ini. Selain itu, ether dan XRP masing-masing turun 11 persen dan 10 persen.

Banyak tambang bitcoin di Sichuan pada Minggu tutup setelah pihak berwenang di provinsi barat daya China memerintahkan penghentian penambangan kripto, seperti dilaporkan dari Global Times.

"Lebih dari 90 persen kapasitas penambangan bitcoin China akan tutup," ujar dia dikutip dari CNBC, Senin pekan ini.

Bloomberg dan Reuters juga melaporkan perpindahan dari otoritas Sichuan. Ini mengikuti perkembangan serupa di Mongolia dan Yunnan, China, serta seruan dari Beijing untuk mengatasi penambangan kripto di tengah kekhawatiran atas konsumsi energi yang besar.

Sebelumnya secara terpisah, Bank Sentral China telah mendesak Alipay, layanan pembayaran yang dijalankan afiliasi grup Ant untuk menindak perdagangan kripto. "China sering melakukan ini," ujar CEO CryptoCompare, Charles Hayter, dilansir dari CNBC.

 

Tindakan Keras China

Ilustrasi Bitcoin
Perbesar
Ilustrasi Bitcoin (Ist)

Tindakan keras China telah menyebabkan penurunan signifikan bitcoin, hal itu berdasarkan data blockchain.com. Diperkirakan 65 persen penambangan bitcoin global dilakukan di China.

Proses intensif daya ini telah menimbulkan kekhawatiran yang berkembang atas potensi bahaya lingkungan dari bitcoin dengan semua orang mulai dari CEO Tesla Elon Musk hingga Menteri Keuangan AS Janet Yellen meningkatkan alarm.

China, tempat sebagian besar penambangan bitcoin terkonsentrasi sangat bergantung pada tenaga batu bara. Bulan lalu, sebuah tambang batu bara di Xinjiang banjir dan ditutup,membuat hampir seperempat dari tingkat bitcoin.

Namun, penambang di China sering bermigrasi ke tempat-tempat seperti Sichuan yang kaya tenaga air pada musim hujan. Sejumlah upaya industri telah diluncurkan termasuk bitcoin mining council dan crypto climate accord, dalam upaya untuk mengurangi jejak karbon uang kripto.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓