IHSG Menghijau, Investor Asing Incar Saham INDF hingga IPTV

Oleh Agustina Melani pada 22 Jun 2021, 09:20 WIB
Diperbarui 22 Jun 2021, 12:01 WIB
Pergerakan IHSG Turun Tajam
Perbesar
Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau pada awal pembukaan perdagangan saham Selasa (22/6/2021). Gerak IHSG yang menghijau tersebut mengikuti bursa saham Asia dan wall street yang positif.

Pada pra pembukaan perdagangan, IHSG naik 0,17 persen ke posisi 6.006. IHSG menguat 0,65 persen ke posisi 6.035 pada pukul 09.00 WIB. Indeks saham LQ45 naik 0,43 persen ke posisi 862. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Awal sesi perdagangan, IHSG berada di posisi tertinggi 6.037 dan terendah 6.006. Sebanyak 230 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. 119 saham melemah dan 138 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 82.189 kali dengan volume perdagangan 1,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 846 miliar.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menguat. Sektor saham IDXHealth pimpin penguatan 2,84 persen. Diikuti sektor saham IDXProperty mendakiĀ  1,25 persen dan IDXNoncylical menguat 0,66 persen. Sementara itu, IDXTrans melemah 0,56 persen.

Top Gainers dan Losers

IHSG Ditutup Melemah ke 6.023,64
Perbesar
Pengendara sepeda motor melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (10/10/2019). IHSG ditutup melemah 0,09 persen atau 5,52 poin ke level 6.023,64 dari penutupan perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:

-Saham BIKA naik 34,67 persen

-Saham ATIC naik 24,86 persen

-Saham TRUE naik 24,58 persen

-Saham BINA naik 20 persen

-Saham INAF naik 19,38 persen

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

-Saham EDGE melemah 6,99 persen

-Saham HITS melemah 6,99 persen

-Saham IDPR melemah 6,88 persen

-Saham TECH melemah 6,85 persen

-Saham AGRS melemah 6,83 persen

Aksi Investor Asing

IHSG Menguat 11 Poin di Awal Tahun 2018
Perbesar
Suasana pergerakan perdagangan saham perdana tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Saham-saham yang dibeli investor asing antara lain:

-Saham INDF senilai Rp 4,5 miliar

-Saham DMMX senilai Rp 2,3 miliar

-Saham BMRI senilai Rp 2,2 miliar

-Saham AMRT senilai Rp 1,9 miliar

-Saham IPTV senilai Rp 775 juta

Saham-saham yang dijual investor asing:

-Saham BBRI senilai Rp 13,5 miliar

-Saham EXCL senilai Rp 10,2 miliar

-Saham BBNI senilai Rp 9,5 miliar

-Saham ERAA senilai Rp 8,1 miliar

-Saham ASII senilai Rp 7 miliar

Bursa Saham Asia

Akhir 2019, IHSG Ditutup Melemah
Perbesar
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bursa saham Asia sebagian besar menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng melemah 0,22 persen dan indeks saham Singapura tergelincir 0,23 persen.

Indeks saham Korea Selatan Kospi naik 0,56 persen, indeks saham Nikkei menguat 2,53 persen. Indeks saham Shanghai mendaki 0,63 persen dan indeks Taiwan menanjak 0,73 persen.

Mengutip laporan PT Ashmore Asset Management Indonesia, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat didorong saham siklikal setelah pernyataan bank sentral AS atau the Federal Reserve yang hawkish pada pekan lalu.

Indeks saham acuan naik 1,4 persen sehingga hentikan penurunan beruntun empat hari. 11 sektor saham menguat dengan sektor energi dan keuangan memimpin.

Saham siklikal menguat pada pekan lalu karena inflasi dan laju pemulihan ekonomi akan segera mencapai puncaknya. Kenaikan tajam dengan imbal hasil obligasi AS karena pejabat bank sentral AS mengamati kebijakan moneter yang lebih ketat.

Selain itu, Presiden AS Joe Biden usul mengeluarkan triliunan dolar AS dan kenaikan memasuki tahap procedural dan politik di Kongres yang akan memakan waktu setidaknya hingga September untuk diselesaikan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓