Wall Street Perkasa, Indeks Dow Jones Melonjak 580 Poin

Oleh Agustina Melani pada 22 Jun 2021, 05:52 WIB
Diperbarui 22 Jun 2021, 08:33 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Senin, 21 Juni 2021. Pasar memulihkan kondisi dari kerugian tajam yang disebabkan perubahan kebijakan bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 586,89 poin atau hampir 1,8 persen menjadi 33.876,97, dan mencatat hari terbaiknya sejak 5 Maret. Indeks S&P 500 menguat 1,4 persen menjadi 4.224,79.

Indeks Nasdaq bertambah 0,8 persen menjadi 14.141,48. Hal ini seiring sejumlah nama perusahaan teknologi ermasuk Amazon, Tesla, Nvidia dan Tentflix mencatat kerugian.

Saham komoditas yang terpukul keras pekan lalu kembali memimpin pasar seiring sektor energi S&P 500 menguat. Devon Energy naik hampir 7 persen. Sementara Occidental Petroleum menguat 5,4 persen.

Pembukaan kembali ekonomi ekonomi mendorong saham Norwegian Cruise Line dan Boeing yang naik lebih dari tiga persen. Sektor saham bank termasuk JPMorgan, Bank of America, dan Goldman Sachs juga menguat. Indeks kapitalisasi kecil Russell 2000 melonjak lebih dari dua persen.

Wall street melemah pada pekan lalu seiring investor mencerna proyeksi ekonomi baru the Fed dan khawatir kenaikan suku bunga datang lebih cepat dari yang diharapkan.

Pada Rabu pekan lalu, bank sentral AS menaikkan harapan inflasi dan memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2023.

"The Fed terinspirasi aksi jual sepertinya sudah berlebihan. Pergeseran hawkish the Fed yang tiba-tiba pekan lalu, dengan dua kenaikan suku bunga sekarang diharapkan pada 2023 membuat pasar lengah,” ujar Senior Financial Market Analyst City Index Fiona Cincotta, dilansir dari CNBC, Selasa (22/6/2021).

Bank Sentral AS Beri Sinyal Lebih Hawkish

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Presiden the Fed St Louis Jim Bullard menuturkan, kalau wajar bagi bank sentral untuk sedikit lebih hawkish atau cenderung agresif dalam kebijakan moneternya dan melihat suku bunga lebih tinggi setelah 2022.

Indeks Dow Jones turun 3,5 persen pada pekan lalu. Sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 1,9 persen dan 0,2 persen pada pekan ini.

"Langkah kejutan the Fed menuju tapering yang membawa pasar lebih rendah pekan lalu hanyalah momen pengakuan untuk tren pengetatan yang dimulai beberapa bulan lalu,” ujar Chief US Equity Strategist Mike Wilson.

Ia menambahkan, ketika dikombinasikan dengan tingkat perubahan puncak dalam revisi ekonomi dan pendapatan sehingga itu membuat musim panas lebih sulit.

Wall Street Tangguh Hadapi Penurunan Bursa Asia dan Bitcoin

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Di sisi lain wall street tangguh dalam menghadapi penurunan di bursa saham Asia dan bitcoin. Indeks Jepang Nikkei melemah 4 persen dengan produsne mobil Nissan dan Honda memimpin penurunan.

Sementara itu, bitcoin tergelincir lebih dari tujuh persen menjadi USD 32.500 seiring China melanjutkan tindakan keras terhadap penambangan uang kripto.

Kurva imbal hasil surat berharga AS mendatar pada pekan lalu sehingga menekan sektor bank. Hal itu juga mengirimkan sinyal potensi perlambatan ekonomi. Imbal hasil surat berharga AS dua tahun naik sehingga mencerminkan harapan kenaikan suku bunga the Fed.

Sementara itu, imbal hasil jangka panjang bertenor 10 tahun melemah seiring optimisme yang berkurang terhadap pertumbuhan ekonomi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓