Investasi SBR010 Dijamin Pemerintah, Bagaimana dengan Kripto?

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 21 Jun 2021, 14:51 WIB
Diperbarui 21 Jun 2021, 14:51 WIB
Ilustrasi Keuangan
Perbesar
Investasi menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk capai financial freedom. (Foto: Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerbitkan Savings Bond Ritel seri SBR010. Plt. Direktur SUN DJPPR Kemenkeu, Deni Ridwan mengatakan, instrumen ini merupakan antitesis dari aset kripto yang kini tengah naik daun.

"SBR ini bisa dikatakan antitesis dari kripto. Karena kalau kripto enggak jelas siapa yang menjamin. Investor investasi dengan risiko sendiri. Tapi kalau di SBR ini jelas dijamin oleh Pemerintah, baik untuk pembayaran kupon maupun pembayaran pokoknya nanti ketika jatuh tempo,” kata dia dalam Virtual Launching SBR010, Senin (21/6/2021).

Adapun SBR010 ini memiliki fitur floating with floor. Ketika ada minimal imbal hasil atau kupon yang disesuaikan dengan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate.

"Imbal hasilnya kalau kripto naik turun katau SBR ini nggak akan turun, malah naik, tergantung suku bunga acuannya. Jadi kalau suku bunga lagi rendah, biasanya kalau ekonomi pulih suku bunga akan naik,” ujar Deni.

"Jadi ini menarik. Investor tidak akan terekspos oleh risiko volatilitas suku bunga di pasar,” ia menambahkan.

Namun, sebagai catatan, SBR010 ini tidak dapat dijual atau bersifat non-tradable dengan tenor 2 tahun. Meski begitu, SBR 010 disertai dengan fasilitas early redemption.

"Jadi setelah masuk ke tahun kedua, bulan 13, investor sudah bisa mengambil atau mencairkan investasinya sebesar 50 persen. Jadi ini sangat menarik untuk diversifikasi investasi,” ujar dia.

Deni mengatakan, untuk sebagian investor yang sudah berpengalaman, SBR ini bisa menjadi strategi trading untuk melindungi dana yang digunakan untuk investasi di instrumen lain, atau hedging. Sehingga jika terjadi koreksi pasar akibat kenaikan suku bunga acuan, SBR ini bisa menutupinya karena imbal hasil yang diberikan naik mengikuti suku bunga acuan.

"Kalau investor sudah berpengalaman, SBR ini dipakai untuk hedging investasi di saham atau di obligasi lain karena biasanya kala suku bunga acuan naik, harga saham terkoreksi ke bawah. Sementara SBR ikut naik jadi terkompensasi,” kata Deni.

Menariknya lagi, SBR010 ini cukup terjangkau karena dapat dibeli mulai Rp 1 juta hingga maksimalnya Rp 3 miliar. Pembelian dapat dilakukan secara online melalui 26 mitra distribusi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Mitra Distribusi

Adapun mitra distribusi bank umum meliputi PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk.

Kemudian PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank OCBC NISP Tbk, PT Bank Panin Tbk, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank UOB Indonesia, PT Bank Commonwealth, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dan PT Bank Victoria International Tbk.

Untuk mitra perusahaan efek meliputi PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas.

Untuk mitra perusahaan financial technology meliputi PT Bareksa Portal Investasi, PT Nusantara Sejahtera Investama (Invisee), PT Star Mercato Capitale (Tanamduit),PT Investree Radhika Jaya (Investree), PT Lunaria Annua Teknologi (koinworks), dan PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku).

Proses pemesanan pembelian SBR010 secara online dilakukan melalui empat tahap yaitu registrasi atau pendaftaran, pemesanan, pembayaran dan setelmen atau konfirmasi. Pemesanan pembelian disampaikan melalui sistem elektronik yang disediakan mitra distribusi yang memiliki interface dengan sistem e-SBN.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓