Wall Street Anjlok, Investor Khawatir The Fed Lebih Cepat Dongkrak Suku Bunga

Oleh Agustina Melani pada 19 Jun 2021, 06:17 WIB
Diperbarui 19 Jun 2021, 06:44 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Reaksi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Jumat, 18 Juni 2021. Indeks Dow Jones catat penurunan terburuk sejak Oktober menyusul pelaku pasar khawatir the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS dapat menaikkan suku bunga lebih cepat.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones susut 533,37 poin atau 1,6 persen ke posisi 32.290,08. Indeks S&P 500 tergelincir 1,3 persen menjadi 4.166,45. Indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatat posisi terendah jelang akhir perdagangan. Indeks Nasdaq melemah 0,9 persen ke posisi 14.030.

Pada pekan ini, indeks Dow Jones anjlok 3,5 persen, indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 1,9 persen dan 0,2 persen. Presiden the Federal Reserve St Louis Jim Bullard mengatakan, wajar bagi the Federal Reserve (the Fed) untuk sedikit “hawkish” pekan ini.

Kenaikan suku bunga pertama dari bank sentral AS kemungkinan terjadi pada 2022. Komentar Bullard datang setelah the Fed pada menambahkan dua kenaikan suku bunga dalam perkiraan 2023 dan meningkatkan proyeksi inflasi pada 2021. Hal tersebut menekan bursa saham.

"Ketakutan yang dipegang oleh beberapa investor adalah jika the Fed memperketat kebijakan lebih cepat dari yang diharapkan untuk membantu mendinginkan tekanan inflasi, ini dapat membebani pertumbuhan ekonomi di masa depan,” ujar Trust Advisory Services Chief Market Strategist Keith Lerner, dilansir dari CNBC, Sabtu (19/6/2021).

Sektor saham yang paling sensitif terhadap pemulihan ekonomi memimpin aksi jual pekan ini. Sektor energi dan industri S&P 500 masing-masing turun 5,2 persen dan 3,8 persen pada pekan ini.

Sementara itu, sektor keuangan dan material masing-masing tergelincir 6 persen.  Sektor saham ini telah memimpin pasar pada 2021 menyusul pembukaan kembali ekonomi.

Saham Bank Tertekan

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Penurunan saham terjadi karena tindakan the Fed menyebabkan perataan drastis yang disebut kurva imbal hasil treasury. Ini berarti imbal hasil treasury berdurasi lebih pendek, seperti tenor dua tahun. Sementara imbal hasil obligasi bertenor lebih lama seperti 10 tahun menurun.

Penurunan imbal hasil obligasi jangka panjang mencerminkan berkurangnya optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara imbal hasil jangka pendek menunjukkan harapan kenaikan suku bunga the Fed.

Fenomena ini merugikan saham bank terutama karena pendapatannya bisa terpukul ketika selisih antara suku bunga jangka pendek dan panjang menyempit.

Saham Bank of America dan JPMorgan Chase masing-masing turun lebih dari dua persen. Saham Citigroup turun 1,8 persen, dan membukukan penurunan harian ke-12 berturut-turut.

Harga Komoditas Melemah

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Ketua the Federal Reserve Jerome Powell mengatakan, para pejabat telah membahas pengurangan pembelian obligasi dan pada titik tertentu akan mulai memperlambat pembelian aset.

“Baru pertama minggu ini dari perubahan akhirnya dalam kebijakan the Fed adalah pengingat kondisi moneter darurat dan era uang bebas pada akhirnya akan berakhir. Kami mengharapkan serangkaian tambahan dari prospek inflais ramah the Fed dalam beberapa bulan mendatang,” tulis Strategist MRB Partners.

Harga komoditas berada di bawah tekanan pekan ini karena China berusaha untuk mendinginkan kenaikan harga dan dolar AS menguat. Harga tembaga, emas dan platinum jatuh pada Jumat pekan ini.

Pada Jumat pekan ini bertepatan dengan “quadruple witching” triwulanan yang berarti opsi dan kontrak berjangka pada indeks dan saham berakhir. Peristiwa ini mungkin telah berkontribusi pada perdagangan yang fluktuaktif selama sesi perdagangan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓