Produsen Sepatu Bata Pilih Genjot Bisnis Digital Ketimbang Buka Toko Baru

Oleh Agustina Melani pada 16 Jun 2021, 21:52 WIB
Diperbarui 18 Jun 2021, 05:57 WIB
Ilustrasi Laporan Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Liputan6.com, Jakarta - PT Sepatu Bata Tbk (BATA) bakal mengoptimalkan penjualan dari saluran bisnis digital pada 2021. Dengan strategi tersebut, perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan double digit.

"Fokus penjualan double digit dari 2020, ini target realistis. Kami fokus kembangkan kerja sama franchise, dan ritel terus berjalan," ujar Direktur PT Sepatu Bata Tbk, Hatta Tutuko saat paparan publik pada Rabu (16/6/2021).

Target kinerja penjualan tersebut juga disumbang dari momen Lebaran pada 2021. Hatta menuturkan, kinerja pada Lebaran cukup baik sehingga mendorong perseroan optimistis kinerja 2021 jauh lebih baik dari 2020.

"Semester ini Lebaran kami berhasil, cukup memuaskan. Semester ini bisa ditutup dengan posisi optimis. Jauh lebih baik dari sebelumnya," kata dia.

PT Sepatu Bata Tbk mencatat penjualan turun 49 persen menjadi Rp 459,58 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 931,27 miliar. Perseroan pun alami rugi Rp 177,76 miliar pada 2020 dari periode 2019 untung Rp 23,44 miliar. Saluran bisnis dari ekspor turun menjadi Rp 2,9 miliar pada 2020 dari periode 2019 sebesar Rp 9,81 miliar.

Sedangkan dari domestik merosot menjadi Rp 456,67 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 921,45 miliar.

Sementara itu, Direktur PT Sepatu Bata Tbk, Susan Amin menuturkan, perseroan fokus untuk mengoptimalkan pengeluaran biaya pemasaran dengan tiga area antara lain melalui interaksi di media sosial, berkolaborasi dengan influencer, dan melalui online seperti layanan ChatShop, website Bata dan kolaborasi bersama e-commerce, serta Bata Club Customer.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tutup 50 Toko

Dengan fokus mengoptimalkan saluran penjualan lewat digital, BATA memilih tidak membuka toko baru pada 2021. Hingga Mei 2021, toko perseroan tercatat 460 toko.

"Tahun ini fokus tidak pada pembukaan toko. Kami ke arah digital business," kata dia.

Selain itu, perseroan juga telah menutup 50 toko seiring performa kurang bagus.

"Penutupan toko sengaja tidak ada. Kami tutup toko yang tidak profitable. Kami tak besar-besaran tutup toko," kata dia.

Hatta menambahkan, kondisi pandemi COVID-19 juga berdampak terhadap pengurangan karyawan. Akan tetapi, pihaknya menyatakan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.

"Biasanya (karyawan-red) kontrak sudah habis, kami tidak perpanjang. Kalau pun harus ditambah dengan PHK itu tidak besar. Itu pun kami lakukan sesuai aturan pemerintah," ujar Hatta.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓