Penambang Bitcoin Bakal Hijrah ke Texas Setelah China Perketat Uang Kripto

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 16 Jun 2021, 10:40 WIB
Diperbarui 16 Jun 2021, 10:40 WIB
Bitcoin - Image by Benjamin Nelan from Pixabay
Perbesar
Bitcoin - Image by Benjamin Nelan from Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - China telah lama menjadi rumah bagi lebih dari separuh penambang bitcoin dunia. Akan tetapi, pemerintah China sekarang ingin penambang itu keluar secepatnya.

Pada Mei 2021, pemerintah China menyerukan tindakan keras terhadap penambangan dan perdagangan bitcoin. Hal itu memicu apa yang disebut di kalangan crypto atau kripto sebagai ‘migrasi penambangan besar-besaran’. Eksodus ini sedang berlangsung sekarang bisa menjadi pengubah permainan untuk pasar kripto di Texas.

Meskipun kurangnya cadangan sempat menyebabkan pemadaman listrik berhari-hari pada musim dingin lalu. Dilansir dari CNBC, Rabu (16/6/2021), Texas dikenal memiliki harga energi terendah di dunia dan pangsa terbaru mereka terus tumbuh. pada 2019, 20 persen energi berasal dari angin.

Hal itu menimbulkan deregulasi jaringan listrik yang memungkinkan pelanggan memilih penyedia listrik. Ditambah,  para pemimpin politik negara tersebut sangat pro kripto. Kondisi inilah yang diimpikan penambang yang mencari sumber energi ramah dan murah.

"Anda akan melihat perubahan dramatis selama beberapa bulan ke depan," kata Brandon Arvanaghi, yang sebelumnya merupakan insinyur keamanan di bursa kripto Gemini. 

"Kami memiliki Gubernur seperti Greg Abbott di Texas yang mempromosikan pertambangan. Ini akan menjadi industri nyata di Amerika Serikat, yang akan menjadi luar biasa,” ia menambahkan.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

IMF: Bitcoin sebagai Alat Pembayaran Timbulkan Banyak Masalah

Bitcoin - Image by VIN JD from Pixabay
Perbesar
Bitcoin - Image by VIN JD from Pixabay

Sebelumnya, juru bicara International Monetary Fund (IMF), Gerry Rice memberikan komentar terkait penggunaan bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah di El Salvador.

Seperti dilansir Coindesk, Jumat, 11 Juni 2021, Rice mengatakan, adopsi bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah menimbulkan sejumlah masalah ekonomi makro, keuangan, dan hukum.

"Hal ini yang memerlukan analisis yang sangat hati-hati sehingga kami mengikuti perkembangan dengan cermat dan akan melanjutkan konsultasi kami dengan pihak berwenang," katanya.

Ia juga menambahkan, aset kripto memiliki risiko tinggi, sehingga langkah-langkah pengaturan yang efektif sangat penting ketika berhadapan dengan mata uang digital.

Tim IMF akan melakukan diskusi virtual dengan Presiden Nayib Bukele mengenai program kredit potensial, termasuk kebijakan untuk memperkuat tata kelola ekonomi dan Pasal IV El Salvador. El Salvador menjadi negara pertama yang mengadopsi bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah.

Keputusan ini diambil setelah sebagian besar anggota parlemen menyetujui proposal Presiden El Salvador, Nayib Bukele. Seperti dilansir CNN, Kamis, 10 Juni 2021, saat ini negara tersebut telah menerima bitcoin sebagai alat pembayaran seperti dollar Amerika Serikat.

Undang-undang menyatakan, semua agen ekonomi harus menerima bitcoin sebagai bentuk pembayaran barang atau jasa.Tak hanya itu, bitcoin saat ini juga bisa digunakan untuk pembayaran.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓