Kini Hadir DeFi Berbasis Kripto, Miliarder Mark Cuban Wanti-Wanti Bank Konvensional

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 15 Jun 2021, 09:54 WIB
Diperbarui 15 Jun 2021, 09:57 WIB
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Liputan6.com, Jakarta - Investor miliarder Mark Cuban sangat optimistis dengan masa depan DeFi, atau keuangan terdesentralisasi (Decentralized finance/DeFi) dan organisasi otonom terdesentralisasi (Decentralized Autonomous Organization/DAO).

Secara umum, DeFi merupakan sistem moneter yang menggunakan blockchain publik. Aplikasi DeFi bertujuan untuk menciptakan kembali sistem keuangan tradisional dengan cryptocurrency atau mata uang kripto. Sementara DAO berperan untuk mengatur dan mengawasi jalannya aplikasi DeFi.

DAO sendiri memiliki fungsi mirip dengan perusahaan atau organisasi tradisional. Akan tetapi, kontrol dalam DAO didemokratisasi.

Daripada memiliki satu pemimpin terpusat, DAO memiliki anggota yang memberikan suara pada keputusan dan aturan, yang kemudian dikodekan ke dalam smart contracts di blockchain. Bitcoin disebut sebagai yang pertama berfungsi penuh berbasis DAO, karena memiliki seperangkat aturan yang telah diprogram

Sebagai gambaran, melalui pinjaman DeFi, pengguna dapat meminjamkan cryptocurrency atau uang kripto seperti yang dilakukan bank tradisional dengan mata uang fiat dan mendapatkan bunga sebagai pemberi pinjaman. Aplikasi pinjaman DeFi, seperti Aave, Compound, dan Maker, diatur oleh DAO.

Struktur protokol terdesentralisasi ini adalah salah satu hal yang menarik minat Cuban dan membuatnya berpikir DeFi bisa menjadi pesaing serius bagi bank tradisional.

Dilansir dari CNBC, Selasa (15/6/2021), Cuban menggunakan Aave sebagai contoh untuk menjelaskan alasannya. "Aave adalah platform yang sepenuhnya otomatis, tanpa izin, dengan tidak ada bankir, tidak ada bangunan, tidak ada pemanggang roti, tidak ada brankas, tidak ada uang tunai, tidak ada uang, tidak ada formulir untuk diisi, tidak ada peringkat kredit yang terlibat," ujar Mark Cuban.

"Semuanya dikendalikan oleh smart contract. Ini sepenuhnya otomatis. Anda tidak perlu mendapatkan persetujuan dari siapa pun dan butuh beberapa menit untuk mengambil pinjaman,” ia menambahkan.

Berisiko

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Dia menuturkan, itulah yang membuat DeFi sangat berisiko. Tidak seperti bank tradisional, pada DeFi tidak ada peraturan atau asuransi atas uang nasabah.

Meskipun pinjaman DeFi dijamin dengan aset kripto lainnya, peminjam yang menggunakan protokol DeFi tidak dapat dimintai pertanggungjawaban jika mereka tidak dapat membayar kembali pinjaman secara efektif.

"Pepatah kripto lama 'jangan memasukkan lebih dari yang Anda mampu untuk kehilangan' menjadi dua kali lipat untuk DeFi," lapor CoinDesk. Memang, data CipherTrace mengungkapkan antara Januari hingga April, sebanyak USD 156 juta aset telah dicuri lewat peretasan terkait DeFi.

Cuban mengakui risikonya dan ada hal-hal teknis yang harus diselesaikan dengan semua teknologi ini. Namun, terlepas dari itu, DeFi sangat ramai akhir-akhir ini. Lebih dari USD 60 miliar aset kripto yang saat ini terkunci dalam protokol DeFi, menurut DeFi Pulse.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓