Investor Asing Borong Saham, IHSG Justru Berbalik Arah ke Zona Merah

Oleh Agustina Melani pada 14 Jun 2021, 15:41 WIB
Diperbarui 14 Jun 2021, 17:11 WIB
IHSG Dibuka di Dua Arah
Perbesar
Pekerja duduk di depan layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada penutupan perdagangan saham Senin, (14/6/2021). IHSG berada di zona merah terjadi di tengah aksi beli investor asing mencapai Rp 2,47 triliun di seluruh pasar.

Mengutip data RTI, IHSG melemah 0,25 persen ke posisi 6.080,38. Indeks saham LQ45 susut 0,64 persen ke posisi 895,89. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Pada awal pekan ini, IHSG berada di posisi tertinggi 6.124,87 dan terendah 6.071,72. Sebanyak 309 saham merosot sehingga menekan IHSG. 187 saham menguat dan 155 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 1.142.030 dengan volume perdagangan 22,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 9,6 triliun. Investor asing beli saham Rp 2,47 triliun di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 14.134.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham tertekan. Sektor saham IDXTechno naik 11,86 persen, dan catat penguatan terbesar. Diikuti sektor saham IDXProperty menguat 2,38 persen dan sektor saham IDXHealth menguat 0,29 persen.

Sementara itu, sektor saham IDXIndustry melemah 2,27 persen, dan catat penurunan terbesar. Diikuti sektor saham IDXNoncylical melemah 1,51 persen dan sektor saham IDXTrans merosot 1,94 persen.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Top Gainers dan Losers

Pergerakan IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2020). Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,66% atau 33,67 poin ke level 5.116,66 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:

-Saham HDFA naik 35 persen

-Saham BPTR naik 34,82 persen

-Saham CANI naik 34,44 persen

-Saham TRUE naik 34,07 persen

-Saham LAND naik 25,93 persen

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

-Saham LUCY melemah 9,8 persen

-Saham MSIN melemah 6,99 persen

-Saham DNAR melemah 6,98 persen

-Saham ASBI melemah 6,95 persen

-Saham BCAP melemah 6,93 persen

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bursa Saham Asia

Pasar Saham di Asia Turun Imbas Wabah Virus Corona
Perbesar
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Bursa saham Asia bervariasi. Indeks saham Korea Selatan Kospi naik 0,09 persen dan indeks saham Jepang Nikkei mendaki 0,74 persen. Indeks saham Thailand melemah 0,32 persen dan indeks saham Singapura susut 0,13 persen.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kata Analis

IHSG Dibuka di Dua Arah
Perbesar
Layar informasi pergerakan harga saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Direktur Riset dan Investasi PT Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menuturkan, pelaku pasar menanti pertemuan bank sentral mulai dari bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve, Bank Indonesia (BI), dan bank sentral Jepang.

Nico mengatakan, pelaku pasar akan memperhatikan rencana bank sentral untuk mengurangi pembelian obligasi. Sentimen tersebut sudah mulai terasa pada Januari 2021. Hal ini setelah inflasi AS sudah naik di atas dua persen.

“Pelaku pasar mencermati bank sentral AS untuk mengetahui rencana pengurangan pembelian obligasi. Rencana tersebut akan mempengaruhi emerging market termasuk Indonesia. Namun, hal itu belum tentu,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, jika the Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat (AS) mendiskusikan rencana mengenai pengurangan pembelian obligasi dalam pertemuan pada pekan ini sehingga menjadi tanda rencana taper tantrum.

“Pelaku pasar dapat memperhatikan dan mencermati situasi kondisi saat ini.” kata dia.

Selain itu, perkembangan kasus COVID-19 juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ia menuturkan, perkembangan kasus COVID-19 dapat mendorong masyarakat untuk menunda konsumsi misalkan menunda pembelian kendaraan dan rumah. “Orang lebih baik memilih dana nya untuk ditabung. Orang akan konsumsi hingga situasi nyaman. Kemungkinan kecil untuk menerapkan lockdown di Jakarta, tetapi tergantung seberapa vaksinasi dilakukan,” kata dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓