Menakar Dampak Potensi Tapering terhadap Indonesia

Oleh Agustina Melani pada 13 Jun 2021, 14:54 WIB
Diperbarui 13 Jun 2021, 14:54 WIB
Pergerakan IHSG Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2020). Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,66% atau 33,67 poin ke level 5.116,66 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Potensi bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed untuk mengurangi stimulus dengan pengurangan pembelian obligasi secara bertahap atau disebut tapering kini menjadi pembicaraan. Akan tetapi, PT Ashmore Asset Management Indonesia melihat, tapering tersebut paling cepat pada 2022.

Mengutip laporan Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (13/6/2021), Ashmore melihat potensi tapering pada 2022 karena belum melihat pemulihan yang kokoh dari dampak pandemi COVID-19. Ini salah satu terlihat dari indeks harga konsumen.

"Namun, kami tidak melihat ini untuk menghambat harga aset sebanyak-banyaknya terutama pasar negara berkembang,” dikutip dari laporan tersebut.

Lalu apakah negara berkembang termasuk Indonesia dapat bertahan dari tapering?

Tidak seperti pada quantative easing pada 2010-2013, Ashmore belum melihat arus besar yang masuk ke pasar negara berkembang saat pandemi COVID-19.

Untuk Indonesia, harga aset telah didukung oleh investor domestik baik ritel dan institusi. Oleh karena itu, jika tapering terjadi lebih awal dari perkiraan, kemungkinan penurunan harga aset tidak menjadi utama. Sejumlah faktor kunci menjadi pertimbangan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

4 Faktor yang Jadi Pertimbangan

Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Perbesar
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pertama, kepemilikan aset di pasar negara berkembang relatif kurang setelah GFC. Porsi obligasi dan saham yang dimiliki investor asing termasuk terendah dalam tiga tahun terakhir di Indonesia. Kedua, neraca transaksi berjalan juga lebih baik saat ini.

Ketiga,mata uang kini lebih murah. Indonesia terutama dengan berbagai stimulus dari sovereign wealth fund (SWF), investasi langsung dan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sektor teknologi berpotensi menjadi penerima utama investasi investor asing yang akan mendukung mata uang.

Keempat, imbal hasil lebih tinggi dari historis dan tetap menarik secara umum. "Risiko utama akan tetap pada defisit fiskal terutama untuk Indonesia,” tulis laporan tersebut.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓