Wall Street Melemah Imbas Pelaku Pasar Menanti Langkah The Fed

Oleh Agustina Melani pada 26 Mei 2021, 06:23 WIB
Diperbarui 26 Mei 2021, 06:23 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Selasa, 24 Mei 2021 melemah. Hal Ini seiring pelaku pasar berusaha mencari arah terutama mengenai langkah the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham S&P 500 melemah 0,2 persen ke posisi 4.188,13. Sektor saham energi menekan indeks saham S&P 500. Indeks saham Nasdaq berakhir mendatar ke posisi 13.657,17. Indeks saham Dow Jones merosot 81,52 poin atau 0,2 persen ke posisi 34.312,46.

Saham perusahaan teknologi raksasa Apple dan Netflix kompak berada di zona negatif. Saham Amazon tertekan setelah Jaksa Agung Karl Racine mengatakan, pihaknya menggugat raksasa e-commerce dengan alasan antitrust.

Ia menuduh praktik Amazon telah menaikkan harga secara tidak adil bagi konsumen dan menekan inovasi. Namun, saham Amazon berbalik arah menguat 0,4 persen.

Saham maskapai dan jalur pelayanan cenderung menguat. Saham United Airlines melonjak 1,5 persen setelah maskapai menyebutkan imbal hasil tiket liburan domestik yang dibeli bulan ini melampaui posisi 2019 di tengah pembukaan kembali aktivitas.

Saham Boeing naik 1,4 persen, saham Norwegian Cruise Line dan Royal Caribbean masing-masing naik lebih dari tiga persen.

"Pasar pada dasarnya dalam pola bertahan hingga acara besar berikutnya yang merupakan jadwal tapering the Federal Reserve (atau bukan jadwal tapering),” ujar Pendiri Sevens Report Tom Essaye dalam sebuah catatan.

Ia menambahkan, volatilitas tambahan akan terjadi sampai pasar memiliki kejelasan lebih lanjut tentang pengurangan stimulus the Federal Reserve (the Fed)dan prospek inflasi jangka panjang.

Harga Bitcoin Naik

Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay
Perbesar
Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay

Di sisi lain, harga bitcoin yang melemah baru-baru ini juga telah memukul saham teknologi antara lain Tesla dan merusak sentimen investor secara keseluruhan menjadi stabil pada awal pekan ini.

Harga kripto kembali mendekati USD 37.600 pada Selasa,25 Mei 2021 setelah turun di bawah USD 32.000 pada Minggu, 23 Mei 2021. Harga kripto kembali menguat seiring Elon Musk sedang diskusi dengan penambang bitcoin mengenai keberlanjutan.

Pemegang besar bitcoin, saham Tesla turun 0,3 persen. Saham Coinbase naik 7,6 persen seiring mendapat dorongan dari rekomendasi beli JPMorgan.

Pada awal pekan, rata-rata indeks saham acuan menguat yang didorong saham teknologi dan perusahaan yang mendapat keuntungan dari pembukaan kembali ekonomi. Hal ini seiring kasus COVID-19 yang turun ke level terendah sejak Juni.

"Senin didorong oleh pengurangan kecemasan karena inflasi. Bukti ketakutan inflasi mereda di pasar obligasi dan komoditas mulai mendorong pasar saham akhir pekan lalu dan berlanjut hingga hari ini," ujar Chief Investment Strategist Leuthold Group, Jim Paulsen.

Ia menambahkan, sektor saham teknologi kembali menguat seiring imbal hasil dan kekhawatiran inflasi mereda. Setelah kenaikan pada awal pekan, indeks saham S&P 500 berada di zona hijau pada Mei. Indeks saham S&P 500 turun hanya 1 persen dari rekor yang dicapai awal bulan ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓