Wall Street Tertekan Imbas Sentimen Uang Kripto hingga The Fed

Oleh Agustina Melani pada 20 Mei 2021, 05:52 WIB
Diperbarui 20 Mei 2021, 05:52 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Reaksi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street memangkas kerugian dan mengakhiri sesi bergejolak dari posisi terendah pada perdagangan saham Rabu, 19 Mei 2021. Hal ini seiring sebagian besar mata uang kripto sudah pulih, tetapi tekanan masih membebani.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones merosot 164,62 poin atau 0,5 persen ke posisi 33.896,04. Indeks saham Dow Jones sempat anjlok 586 poin ke posisi terendah.

Indeks saham S&P 500 susut 0,3 persen menjadi 4.115,69 didorong sembilan dari 11 sektor saham merosot. Indeks saham menguat dari penurunan 1,7 persen pada awal sesi perdagangan, dan cenderung mendatar ke posisi 13.299,74. Hal ini seiring sebagian besar saham teknologi kembali pulih termasuk Facebook, Netflix, Microsoft, dan Alphabet.

Indeks saham acuan menambah kerugian pada perdagangan Rabu sore setelah risalah the Federal Reserve pada pertemuan April mengisyaratkan mempertimbangkan kembali program pembeliana set dalam pertemuan mendatang.

Wall street cenderung bergejolak seiring saham teknologi yang melemah pada pagi hari seiring investor bingung dengan tiba-tiba mata uang kripto turun termasuk bitcoin.

Kemudian pelemahan meluas ke sektor lain dengan indeks saham S&P 500 turun ke posisi terendah. Namun, sektor saham ritel terutama yang melaporkan pendapatan yang solid termasuk Target menguat.

Di sisi lain, mata uang digital terbesar di dunia anjlok 30 persen ke posisi di atas USD 30.000, menurut Coin Metrics. Pada Selasa, China memperingatkan lembaga keuangan untuk tidak melakukan bisnis terkait kripto yang mungkin memicu aksi jual.

Mata uang kripto memulihkan kondisi pada perdagangan sore dan turun 7 persen. Rata-rata mata uang kripto utama menutup sebagian dari kerugiannya karena harga bitcoin kembali bangkit.

Saham teknologi yang terkait dengan bitcoin mengalami penurunan terbesar. Tesla yang memegang bitcoin turun 2,5 persen. Microstrategy, perusahaan lain yang membeli bitcoin dalam jumlah besar turun 6,6 persen. Coinbase, bursa kripto merosot hampir enam persen.

"Tidak ada pertanyaan bitcoin telah menjadi spekulasi pasar yang merajalela dan berisiko. Ini harus benar-benar dipantau dan sekarang hindari risiko,” ujar Chief Investment Officer Bleakley Advisory Group, Peter Bookcvar, dilansir dari CNBC, Kamis (20/5/2021).

Saham Tertekan

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Saham berada di bawah tekanan akhir-akhir ini dengan indeks saham Nasdaq anjlok hampir lima persen pada Mei 2021. Hal ini seiring kekhawatiran inflasi yang meningkat.

Tekanan inflasi dapat mengurai kebijakan akomodatif the Federal Reserve yang dapat merugikan perusahaan teknologi yang bertahun-tahun mengandalkan biaya pinjaman ringan untuk dongkrak pertumbuhan.

Sementara itu, Cathie Wood Ark Innovation ETF (ARKK) turun 1,8 persen mendorong penurunan pada 2021 menjadi lebih dari 17 persen.

"Ini pasti akan terjadi di beberapa titik dan sedikit pengaturan ulang dalam harga kripto kemungkinan lebih sehat melawan pasar saham yang negatif,” ujar Analis Barclays Jordan Klein.

The Fed Isyaratkan Pengurangan

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Risalah the Fed mengatakan kenaikan kuat dalam aktivitas ekonomi akan menjamin diskusi tentang pengetatan kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang.

"Sejumlah peserta menyarankan jika ekonomi terus membuat kemajuan pesar menuju tujuan komite, mungkin tepat di beberapa titik dalam pertemuan mendatang untuk mulai membahas rencana menyesuaikan laju pembelian aset," tulis risalah the Fed.

Ketua the Federal Reserve Jerome Powell mengatakan, setelah pertemuan, pemulihan tetap tidak merata dan jauh dari selesai. Ekonomi masih belum menunjukkan standar kemajuan substansial lebih lanjut yang telah ditetapkan komite sebelum akan mengubah kebijakan.

"Pasar saat ini sedang kuat berdasarkan likuiditas yang luar bias aini. Semua orang takut ketika likuiditas itu mulai menghilang. Komentar tersebut menunjukkan pada titik tertentu, the Fed mengambil sebagian dari likuiditas itu. Kami pikir pasar sangat sensitif terhadap itu,” ujar David Katz dari Matrix Asset Advisors.

Adapun sentimen yang membantu pada perdagangan Rabu yaitu kinerja Target. Saham pengecer besar itu naik enam persen setelah mengatakan penjualan melonjak 23 persen pada kuartal lalu.

Indeks saham acuan utama alami penurunan berturut-turut dibebani kelemahan di sektor saham teknologi dan data perumahan yang lunak pada Selasa sehingga memicu aksi jual.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓