Melihat Gerak Saham Telkom Usai Telkomsel Suntik Dana ke Gojek

Oleh Agustina Melani pada 12 Mei 2021, 08:09 WIB
Diperbarui 12 Mei 2021, 08:10 WIB
IHSG Awal Pekan Ditutup di Zona Hijau
Perbesar
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Telkomsel resmi menyuntikkan dana investasi sebesar USD 300 juta atau setara Rp 4,2 triliun di Gojek.  Langkah tersebut untuk mengakselarasi kemajuan ekosistem digital inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap gerak saham induk usaha Telkomsel yaitu PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan ada sentimen tersebut?

Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih bergerak terbatas meski ada sentimen tersebut.  Pada pengumuman Telkomsel menambah investasi ke Gojek, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) justru melemah terbatas.

Pada Senin, 10 Mei 2021, saham TLKM melemah 0,63 persen ke posisi Rp 3.170 per saham. Saham TLKM berada di posisi tertinggi Rp 3.200 dan terendah Rp 3.160 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 13.641 kali dengan nilai transaksi Rp 417,5 miliar.

Akan tetapi, saham TLKM akhirnya berbalik arah ke zona hijau pada perdagangan 11 Mei 2021. Saham TLKM ditutup naik 0,32 persen ke posisi Rp 3.180 per saham. Saham TLKM berada di posisi tertinggi Rp 3.200 dan terendah Rp 3.150 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 17.911 kali dengan nilai transaksi Rp 349,9 miliar.

Sepanjang tahun berjalan 2021, saham TLKM melemah 3,93 persen ke posisi Rp 3.180 per saham. Saham TLKM berada di posisi tertinggi Rp 3.640 dan terendah Rp 3.040 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 1.610.310 kali dengan nilai transaksi Rp 38,8 triliun.

Head of Research PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi. Ia menuturkan, investasi anak usaha Telkom ke Gojek memberikan dampak positif bagi perseroan ke depan.

Akan tetapi, pergerakan saham Telkom yang melemah, menurut Lanjar, karena faktor perang harga di industri telekomunikasi yang semakin ketat. Ini ditunjukkan dengan para emiten yang berlomba menawarkan produk unlimited dengan harga lebih murah.

"Hal ini dapat mempengaruhi ARPU (average revenue per user) dan nantinya akan berpengaruh juga untuk pendapatan perusahaan," kata dia, saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Rabu, (12/5/2021).

Lanjar menambahkan, di sisi lain daya beli masyarakat yang belum pulih juga turut menjadi tantangan para operator seluler saat ini.

Lanjar menuturkan, pihaknya masih melihat prospek yang positif untuk Telkom. Terutama kalau dilihat dari bisnis Indihome yang cukup signifikan, dan kontribusi Indihome pada total pendapatan Telkom juga terus meningkat.

"Kami masih merekomendasikan buy untuk Telkom dengan target 4.030," ujar dia.

2 dari 3 halaman

Belum Direspons Investor

Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah
Perbesar
Layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hal senada dikatakan Analis PT Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas. Ia menuturkan langkah anak usaha Telkom tersebut berdampak positif ke depan. Hal ini karena berpeluang menciptakan kinerja yang bagus atas investasi tersebut.

“Tapi untuk ke sahamnya untuk saat ini pasar belum merespons karena memang kondisi indeks dalam tren penurunan. Tapi jangka panjangnya positif untuk Telkom sendiri,” kata dia.

Sukarno menuturkan investasi tersebut dapat berdampak positif seiring aksi korporasi merupakan bagian dari strategi Telkomsel dalam memperkuat trifecta bisnis antara lain Digital Connectivity, Digital Platform, dan Digital Services. "Rekomendasi buy atau akumulasi buy (saham Telkom,” ujar dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓