Saham UNVR Merosot Sejak 2018, Ini Kata Analis

Oleh Agustina Melani pada 08 Mei 2021, 19:24 WIB
Diperbarui 08 Mei 2021, 19:24 WIB
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)

Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) cenderung koreksi sejak 2018. Namun, analis menilai pemulihan ekonomi yang terjadi akan menjadi sentimen positif untuk saham UNVR.

Mengutip data RTI, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melemah 18,78 persen ke posisi Rp 45.400 per saham pada 2018. Saham UNVR sempat berada di posisi tertinggi Rp 58.100 dan terendah Rp 38.900. Total frekuensi perdagangan saham 885.172 kali dengan nilai transaksi Rp 28,3 triliun.

Di sisi lain, kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk positif pada 2018. Laba Unilever tumbuh 30,05 persen menjadi Rp 9,10 triliun pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 7 triliun. Penjualan naik 1,45 persen dari Rp 41,20 triliun pada 2017 menjadi Rp 41,80 triliun pada 2018.

Koreksi harga saham berlanjut pada 2019. Saham UNVR susut 7,49 persen ke posisi Rp 42.000 per saham. Saham UNVR berada di posisi tertinggi Rp 50.525 dan terendah Rp 40.350 per saham. Total frekuensi perdagangan saham  934.893 kali dengan nilai transaksi Rp 26,2 triliun.

Kinerja keuangan Unilever turun pada 2019. Hal ini terutama dari sisi laba. Tercatat laba perseroan turun 18,84 persen dari Rp 9,08 triliun pada 2018 menjadi Rp 7,39 triliun pada 2019. Namun, penjualan naik tipis 2,68 persen menjadi Rp 42,99 triliun pada 2019 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 41,80 triliun.

Pada 2020, saham UNVR tergelincir 12,50 persen ke posisi Rp 7.350 per saham. Saham UNVR berada di posisi tertinggi Rp 8.800 dan terendah Rp 5.275 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 1.691.252 kali dengan nilai transaksi Rp 29,8 triliun.

Unilever Indonesia menggelar aksi korporasi dengan melakukan pemecahan nilai nominal saham mulai 2 Januari 2020. Perseroan melakukan pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:5 sehingga dari nilai nominal Rp 10 per saham menjadi Rp 2 per saham. Mengutip data RTI, dengan demikian, jumlah saham  menjadi 30,52 miliar saham.

Di tengah pandemi COVID-19, laba Unilever Indonesia turun tipis 3,1 persen dari Rp 7,39 triliun pada 2019 menjadi Rp 7,16 triliun pada 2020. Penjualan susut 7,8 persen dari Rp 42,92 triliun pada 2019 menjadi Rp 42,97 triliun.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kata Analis

Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Perbesar
Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Head of Research PT Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi menuturkan, saham kapitalisasi besar terdampak perhitungan indeks baru menggunakan free float saham pada 2018. Hal itu pengaruhi posisi investor institusi.

"Banyak institusi me-rebalancing dengan mengurangi bobot pada saham-saham big cap yang memiliki free float tidak terlalu besar,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Ia mengatakan, secara kinerja sebenarnya tidak begitu bermasalah lantaran mulai bangkit pada awal 2019. "Hanya saja kembali terbawa arus aksi jual investor akibat dampak dari kasus investasi yang meluas di Indonesia dan awal mula COVID-19," kata dia.

Pandemi COVID-19 yang terjadi berdampak terhadap ekonomi Indonesia yang berimbas terhadap daya beli. "Ini memperparah pergerakan harga saham dan optimisme di awal 2020," ujar dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Selanjutnya

IHSG
Perbesar
Pekerja berbincang di dekat layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Pada pemukaan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini naik tipis 0,09% atau 4,88 poin ke level 5.611,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ia menuturkan, saham UNVR tertekan seiring seiring usaha yang dijalankan berkaitan erat dengan daya beli masyarakat.

Lanjar menilai, daya beli masyarakat masih belum pulih. Hal ini melihat pertumbuhan inflasi yang masih di bawah 2 persen dan termasuk pertumbuhan inflasi terendah lebih dari 10 tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada April 2021 mencapai 0,13 persen. Dengan demikian, inflasi tahun kalender Januari-April 2021 mencapai 0,58 persen dan inflasi tahun ke tahun 1,24 persen.

Lanjar menambahkan, krisis kesehatan yang melanda dunia sekarang akibat penyebaran COVID-19 masih belum mereda. Hal ini pengaruhi kondisi bisnis yang berdampak terhadap ekonomi masyarakat.

"Hal tersebut yang membuat aktivitas bisnis terganggu sehingga penghasilan masyarakat pun belum pulih yang membuat daya beli masyarakat yang menurun,” kata dia.

Ia menambahkan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia menjadi cermin masih rendahnya dyaa beli masyarakat di Indonesia. PDB yang masih terganggu pada  besaran konsumsi masyarakat masih rilis di zona kontraksi untuk kuartal I 2021. Adapun PBD Indonesia minus 0,74 persen selama tiga bulan pertama 2021.

"Saya kira hal tersebut yang mendasari harga saham UNVR dan kinerja bisnisnya menurun,” ujar dia.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓