Larangan Pencatatan Saham Perusahaan China Luokung Dicabut di Bursa AS

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 07 Mei 2021, 12:51 WIB
Diperbarui 07 Mei 2021, 12:52 WIB
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Liputan6.com, New York - Nasdaq telah menarik keputusan untuk menghapus saham Luokung Technology Corp. Hal ini menyusul putusan hakim di pengadilan setempat untuk menangguhkan larangan investasi yang akan segera diberlakukan di bawah pemerintahan Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dilansir dari Channelnewsasia, Jumat (7/5/2021), kabar ini membawa saham perseroan naik hampir 20 persen. Luokung mengeluarkan rilis pers pada Kamis, 6 Mei 2021 mengatakan, Nasdaq telah menarik surat delisting dan saham Perseroan akan terus diperdagangkan di pasar, tidak ditangguhkan pada 7 Mei. 

Hingga berita ini ditulis, juru bicara baik dari Nasdaq menolak maupun Departemen Kehakiman AS tidak belum menanggapi permintaan komentar.

Luokung adalah perusahaan kedua dalam daftar AS yang diduga sebagai perusahaan militer Komunis China yang dikenai larangan investasi untuk memenangkan perintah awal yang menghentikan penunjukan tersebut.

Hakim Pengadilan Distrik AS Rudolph Contreras di Washington mengeluarkan perintah serupa pada Maret untuk mendukung pembuat ponsel pintar yang berbasis di Beijing, Xiaomi.

"Banyak asosiasi yang menurut Departemen Pertahanan paling bermasalah - seperti dugaan Luokung tentang perampokan ke dalam sistem luar angkasa atau potensi kontrak masa depan dengan Pusat Informasi Geospasial Nasional China, tampaknya tidak terwujud, juga tidak akan menanggungnya. buah sebelum kasus ini dapat diputuskan manfaatnya," tulis hakim dalam putusannya.

Dia menambahkan, pemerintah belum mengidentifikasi satu pun transfer teknologi dari Luokung ke Republik Rakyat China. Lebih dari 40 perusahaan ditambahkan ke daftar perusahaan Amerika Serikat yang dikenakan larangan investasi jelang hari-hari berakhirnya pemerintahan Trump.

2 dari 3 halaman

Penutupan Wall Street pada 6 Mei 2021

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan saham Kamis, 6 Mei 2021 seiring investor mengantisipasi rilis data tenaga kerja  untuk mengukur pemulihan pasar tenaga kerja.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones naik 0,9 persen hingga sentuh rekor ke posisi 34.548,53. Indeks saham S&P 500 mendaki 0,8 persen ke posisi 4.201,62. Indeks saham Nasdaq bertambah 0,4 persen ke posisi 13.632,84.

Penguatan wall street didukung data klaim penggangguran. Untuk pertama pertama kali, klaim pengangguran mencapai 498.000 hingga 1 Mei, dan sentuh level terendah di era pandemi COVID-19. Klaim pengangguran itu lebih baik dari perkiraan Dow Jones di kisaran 527.000.

Data tersebut dirilis sebelum data tenaga kerja April 2021 yang diumumkan pada Jumat,7 Mei 2021. Ekonom berharap 1 juta tenaga kerja bertambah pada April 2021 dan tingkat pengangguran turun menjadi 5,8 persen dari 6 persen.

“Data ekonomi hari ini membuktikan selangkah lagi penuh untuk pemulihan ekonomi, lebih cepat dari yang diharapkan,” ujar Managing Director of Investment Strategy E-Trade Financial, Mike Loewengart, dilansir dari CNBC, Jumat (7/5/2021).

Ia menambahkan, penguatan data tenaga kerja akan membuat semua tertuju mengenai langkah the Federal Reserve atau bank sentral AS  selanjutnya.

Saham PayPal naik 1,9 persen setelah perseroan melaporkan kinerja lebih baik dari yang diharapkan.Pendapatan naik 31 persen.  Sementara itu, Etsy merosot lebih dari 14 persen setelah memperingatkan penjualan akan melambat karena peningkatan dari pandemi COVID-19 berkurang.

Di sisi lain, indeks saham Nasdaq mencatat sesti negatif empat kali berturut-turut pada Rabu, dan alami penurunan harian terpanjang sejak Oktober. Pada pekan ini, indeks saham teknologi cenderung melemah.

“Momentum pendapatan sektor teknologi terhadap pasar yang lebih luas mencapai puncaknya pada akhir Mei 2020,” ujar Chief Market Strategist Truist Keith Lerner, dilansir dari CNBC, Jumat (7/5/2021).

Ia menambahkan, pihaknya mengharapkan ekonomi jauh di atas tren pada 2021 dan 2022 sehingga valuasi akan diuntungkan. “Memang ketika melihat indikasi valuasi, didominasi oleh keuangan dan cenderung memiliki eksposur yang lebih besar ke sektor yang sensitif secara ekonomi sehingga lebih dimanfaatkan untuk pemulihan ekonomi,” kata dia.

Indeks Russell 1000 value telah naik 17 persen sepanjang 2021. Sedangkan indeks Russell 1000 growth telah tumbuh lima persen.

Namun, dia menambahkan kekhawatiran masih tetap ada di pasar. Pertama, paket stimulus federal telah mendorong pertumbuhan, dan pada titik tertentu ekonomi harus kembali ke pertumbuhan organik.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓