Wall Street Bervariasi Imbas Aksi Jual Saham Teknologi

Oleh Agustina Melani pada 05 Mei 2021, 05:51 WIB
Diperbarui 05 Mei 2021, 09:46 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street beragam pada perdagangan saham Selasa, 4 Mei 2021. Hal ini dipicu aksi jual saham teknologi dan saham lainnya sehingga menghapus keuntungan indeks saham acuan utama.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham S&P 500 tersungkur imbas aksi jual saham sektor teknologi dan high growth. Indeks saham S&P 500 turun 0,7 persen ke posisi 4.164,66 setelah melemah 1,5 persen ke posisi terendah.

Tekanan terhadap saham perusahaan teknologi raksasa membawa indeks saham Nasdaq susut 1,9 persen ke posisi 13.633,50, terburuk sejak Maret 2021.

Apple, perusahaan publik terbesar di AS turun 3,5 persen. Induk usaha Google, Alphabet melemah 1,6 persen, saham Facebook tergelincir 1,3 persen dan produsen listrik Tesla susut 1,7 persen.

Selain itu, perusahaan produsen chip Nvidia dan Intel masing-masing tergelincir 3,3 persen dan 0,6 persen. Sementara itu, indeks saham Dow Jones menguat dipicu saham Dow Inc dan Caterpillar.

Indeks saham Dow Jones naik 19,8 poin atau 0,1 persen ke posisi 34.133,03 setelah sempat melemah lebih dari 300 poin.

Wall street mengalami tekanan didorong sejumlah faktor. Akan tetapi, pengamat menilai sejumlah sentimen bervariasi mulai dari kenaikan inflasi, kekhawatiran the Federal Reserve akan menerapkan tapering lebih awal, dan potensi kenaikan pajak.

Wall street sentuh level terendah setelah Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan, kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga untuk menjaga ekonomi.

2 dari 4 halaman

Kekhawatiran Tapering

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Ahli strategi ISI Evercore Dennis DeBusschere mengatatakan, meski pergerakan suku bunga yang moderat mungkin bukan sirene yang keras investor khawatir tentang the Federal Reserve. Akan tetapi, ia tetap percaya kekhawatiran tapering atau pengurangan stimulus memainkan peran.

"Yang terbaik yang dapat kami sampaikan kekhawatiran pasokan adalah masalah utama bagi investor  dan ekspektasi inflasi menjadi angin,” tulis dia dilansir dari CNBC, Rabu (5/5/2021).

Ia menambahkan, bukan cerita meski the Federal Reserve memperkirakan kenaikan suku bunga yang jauh lebih cepat melawan apa yang diinginkan.

"Ceritanya adalah inflasi dan angka pertumbuhan yang lebih kuat mengarah lebih banyak ke inflasi mengingat kendala pasokan dan apa artinya bagi saham,” ujar dia.

Kekhawatiran dari sisi penawaran dengan semakin banyak eksekutif dan direksi mengatakan kenaikan harga mulai mengikis keuntungan.

CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffett mengatalam, selama pertemuan tahunan perusahaannya, ia melihat inflasi sangat besar dan perusahaannya menaikkan harga.

Perusahaan lain seperti Clorox mengatakan, harga yang dibayar untuk bahan baku membuat biaya produksi meningkat sehingga meneruskannya kepada pelanggan. Harga komoditas, kayu, jagung hingga palladium telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir.

3 dari 4 halaman

Kekhawatiran Pasar

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Yang lain mengatakan, kinerja pendapatan yang melonjak tidak dapat memadamkan kegelisahan pasar. Bahkan memperhitungkan kerugian pada Selasa, 4 Mei 2021. Namun, indeks saham S&P 500 masih naik lebih dari 10 persen sepanjang 2021.

"Kami telah melalui periode dua hingga tiga minggu dengan melihat berita yang sangat baik mendapat sedikit atau tidak ada reaksi di pasar. Investor merasa tidak nyaman di level tertinggi baru dan sudah 25 kali indeks S&P cetak posisi tertinggi sepanjang 2021,” kata Chief Market Strategist National Securities, Art Hogan.

Ia menambahkan, ada kekhawatiran lonjakan ekonomi akan memakan waktu lebih lama seiring warga sudah perlahan-lahan merasa nyaman untuk keluar.

”Ekuitas terlihat mahal, tetapi tidak dari sudut pandang ke depan,” kata dia.

Dengan pasar pada titik tertinggi sepanjang masa, investor terpecah antara memainkan kembali saham ritel dan terus bertaruh pada saham teknologi yang baru melaporkan kinerja keuangan.

Pada awal pekan, saham ritel memimpin kenaikan dengan saham Gap dan Macy naik lebih dari tujuh persen. Sementara itu, saham Pfizer menguat sedikit setelah hasil kuartalan yang mengalahkan harapan dan menaikkan kinerja 2021.

Saham CVS Health melonjak 4,4 persen. Saham United Steel melonjak 7,9 persen.

"Investor bisa semakin kecewa karena saham tidka berkinerja baik dalam menghadapi berita kinerja pendapatan yang fantastis,” ujar Chief Invesment Strategist Leuthold Group, Jim Paulsen.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓