Wall Street Mendatar Jelang Rilis Laporan Keuangan Raksasa Perusahaan Teknologi

Oleh Agustina Melani pada 28 Apr 2021, 05:51 WIB
Diperbarui 28 Apr 2021, 05:51 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street cenderung mendatar pada perdagangan saham Selasa, 27 April 2021.  Hal ini terjadi setelah indeks saham acuan sentuh rekor pada perdagangan sesi sebelumnya dan investor bersiap hadapi laporan keuangan raksasa perusahaan teknologi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham S&P 500 sedikit berubah dengan susut kurang dari 0,1 persen ke posisi 4.186,72 setelah sentuh posisi tertinggi.

Indeks saham Dow Jones mendatar ke posisi 33.984,93. Indeks saham Nasdaq melemah 0,3 persen ke posisi 14.090,22.

Saham Tesla merosot 4,5 persen setelah perusahaan melaporkan laba bersih capai USD 438 juta. Tesla juga mengalahkan perkiraan wall street untuk laba bersih dan pendapatan.

 Kinerja Tesla didorong penjualan bitcoin. Saham Tesla cenderung bergejolak sepanjang tahun berjalan 2021, dengan turun lebih dari 20 persen dari posisi rekor tertingginya. Namun, saham Tesla masih naik lebih dari 300 persen di atas 12 bulan.

Di sisi lain, saham UPS melonjak lebih dari 10 persen setelah mengalahkan perkiraan wall street untuk laba perusahaan. Perseroan menyatakan ada kenaikan 27 persen pada kuartal I 2021.

Musim laporan laba kuartal I mulai meningkat pada pekan ini dengan rilis perusahaan teknologi antara lain Alphabet, Microsoft, dan AMD setelah bel perdagangan. Sementara itu, Apple dan Facebook menyusul pada Rabu, 28 April 2021.

"Terlepas dari kenyataan ekspektasi tinggi, saya yakin kita akan melihat saham FANG memberikan hasil dan saya pikir itu adalah katalisator untuk melanjutkan lintasan S&P 500 ke level tertinggi baru sepanjang masa. Itu adalah fokus terpenting minggu ini,” ujar dia dilansir dari CNBC, Rabu (28/4/2021).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saham GameStop Menguat

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Sejauh ini, 84 persen perusahaan yang masuk S&P 500 melaporkan kinerja keuangan yang positif secara mengejutkan, berdasarkan data FactSet.

Meski demikian, pergerakan saham cenderung mendatar di tengah hasil kinerja yang kuat dengan indeks saham sentuh rekor dan valuasi yang tinggi.

Di sisi lain, data ekonomi seperti harga rumah pada Februari 2021 menunjukkan kenaikan terbesar dalam 15 tahun dengan naik 12 persen year over year  (YoY) dan naik 11,2 persen pada Januari 2021. Hal itu berdasarkan data indeks S&P CoreLogic Case Shiller.

Sementara itu, kepercayaan konsumen naik tajam dengan indeks the conference board melompat 121,7 ke level tertinggi sejak Februari 2020.

Saham GameStop naik lebih dari lima persen setelah ritel video game ini menyatakan menjual 3,5 juta saham tambahan. Selain itu, perseroan menaikkan biaya USD 551 juta untuk mempercepat perubahan menjadi perusahaan e-commerce.

"Langkah-langkah luas yang kuat menunjukkan saham berpotensi menguat. Meski pun valuasi dinaikkan, valuasinya masih terlihat masuk akal ketika memperhitungkan suku bunga dan inflasi,” ujar Equity Strategist LPL Financial, Jeff Buchbinder.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menanti Hasil Rapat the Fed

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas
Perbesar
Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Adapun bank sentral AS atau the Federal Reserve memulai pertemuan kebijakan dua hari pada Selasa pekan ini. Bank sentral diperkirakan tidak akan mengambil tindakan apapun, tetapi para ekonom mengharapkan bank sentral AS mempertahankan kebijakannya.

Survei CNBC terbaru melihat bank sentral tetap menahan dan mempertahankan program pembelian asetnya pada tingkat yang sama untuk sisa tahun 2021 meski ada kekhawatiran tentang ekonomi yang memanas.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓