Investasi di Sayurbox dan Halodoc, Grup Astra Kucurkan USD 40 Juta

Oleh Agustina Melani pada 21 Apr 2021, 19:46 WIB
Diperbarui 21 Apr 2021, 19:46 WIB
Gedung PT Astra International Tbk (Foto: Astra)
Perbesar
Gedung PT Astra International Tbk (Foto: Astra)

Liputan6.com, Jakarta - Grup Astra investasi di dua perusahaan rintisan dengan total USD 40 juta. Hal ini sebagai bagian dari inisiatif perseroan untuk mempercepat transformasi digital.

Grup Astra investasi sekitar USD 5 juta atau sekitar Rp 72,66 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 14.532) di Sayurbox. Sayurbox merupakan e-commerce grocery farm-to-table platform and distributor of fresh goods.

Selain itu, grup Astra juga investasi USD 35 juta atau sekitar Rp 508,71 miliar di Halodoc. Halodoc merupakan platform kesehatan berbasis online. Adapun investasi tersebut dilakukan masing-masing pada Maret dan April 2021.

"Grup merupakan investor utama pada funding rounds baru dari kedua start-up asal Indonesia ini," ujar Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Djony Bunarto Tjondro, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (21/4/2021).

2 dari 3 halaman

Kinerja Kuartal I 2021

Gedung PT Astra International Tbk (Foto: Astra)
Perbesar
Gedung PT Astra International Tbk (Foto: Astra)

Sebelumnya, PT Astra International Tbk catat pendapatan Rp 51,70 triliun pada kuartal I 2021. Realisasi pendapatan itu turun empat persen dari periode kuartal I 2020 sebesar Rp 54 triliun. Pendapatan turun itu mendorong laba bersih susut selama kuartal I 2021.

Laba perseroan merosot 22 persen dari Rp 4,8 triliun pada kuartal I 2020 menjadi Rp 3,72 triliun pada kuartal I 2021. Laba bersih per saham turun 22 persen dari Rp 119 pada kuartal I 2020 menjadi Rp 92 pada kuartal I 2021.

Nilai aset bersih per saham pada 31 Maret 2021 sebesar Rp 3.971. Angka itu meningkat tiga persen dibandingkan posisi pada 31 Desember 2020. Kas bersih tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan grup mencapai Rp 15,9 triliun pada 31 Maret 2021 dibandingkan Rp 7,3 triliun pada akhir 2020.

Arus kas yang lebih tinggi pada kuartal I 2021 disebabkan kinerja bisnis yang membaik, belanja modal dan modal kerja lebih rendah. Jika volume bisnis terus membaik hingga akhir tahun, belanja modal dan modal kerja kemungkinan akan meningkat.

Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan grup meningkat dari Rp 39,2 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp 40,3 triliun pada 31 Maret 2021.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓