Jurus Adhi Karya agar Tak Rugi Saat Pandemi COVID-19

Oleh Dian Tami Kosasih pada 21 Apr 2021, 13:26 WIB
Diperbarui 21 Apr 2021, 13:26 WIB
Proyek Pembangunan LRT Rampung Desember 2021
Perbesar
Suasana proyek pembangunan LRT Jabodebek di kawasan Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (3/2/2020). PT KAI menanggung 60% dari kebutuhan pembangunan LRT Jabodebek senilai Rp 22,8 triliun sisanya ditanggung PT Adhi Karya dan pemerintah. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta - PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatat laba bersih turun hingga 96 persen sepanjang 2020 karena pandemi COVID-19 yang terjadi.

Melihat hal ini, Direktur Utama Adhi Karya Entus Asnawi Mukhson mengaku harus melakukan sejumlah cara agar tak mengalami kerugian hingga Rp200 miliar pada masa pandemi COVID-19.

"Kami harus membuat skenario planning. Kalau ini terjadi tiga bulan bagaimana, enam bulan bagaimana, sembilan bulan bagaimana. Dari skenario tersebut, kami menemukan kami akan merugi Rp200 miliar jika kami tidak melakukan apa-apa," katanya, Rabu (21/4/2021).

Salah satu cara yang digunakan perusahaan untuk menghadapi pandemi ialah melakukan efisiensi dan memanfaatkan sistem IT, sehingga kerugian yang diprediksi mencapai Rp200 miliar tak terjadi.

Meski demikian, Adhi Karya hanya mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp23,7 triliun. Angka tersebut menurun tajam jika dibandingkan 2019 yang mencapai Rp663,8 miliar.

"Efisiensi kebetulan pada saat pandemi perjalanan dinas tinjauan dan sebagainya kita bisa kurangi. Meeting juga tidak perlu hotel, dan transport bisa melakukan secara efisien. Ini dan dampaknya lumayan luar biasa efisiensinya," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Kinerja Keuangan Adhi Karya

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)

Selain laba, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatat penurunan pendapatan sepanjang 2020. Pendapatan perseroan turun menjadi Rp 10,82 triliun pada 2020. Realisasi pendapatan ini turun 29,2 persen dari periode 2019 sebesar Rp 15,30 triliun.

Beban pokok pendapatan merosot 29,90 persen dari Rp 12,97 triliun pada 2019 menjadi Rp 9,09 triliun. Hal itu mendorong laba bruto susut 25,69 persen menjadi Rp 1,73 triliun pada 2020. Pada periode 2019, perseroan mencatat laba bruto Rp 2,33 triliun.

Meski demikian, perseroan menekan beban usaha 18,61 persen secara year on year. Beban usaha dari Rp 894,06 miliar pada 2019 menjadi Rp 727,68 miliar pada 2020. Perseroan menekan beban penjualan dari Rp 34,49 miliar pada 2019 menjadi Rp 18,62 miliar pada 2020.

Beban umum dan administrasi turun dari Rp 859,57 miliar pada 2019 menjadi Rp 709,06 miliar pada 2020.Laba usaha turun 30,09 persen dari Rp 1,44 triliun pada 2019 menjadi Rp 1,08 triliun pada 2020.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓