Wall Street Merosot dari Rekor Tertinggi, Indeks Nasdaq Turun 1 Persen

Oleh Agustina Melani pada 20 Apr 2021, 05:41 WIB
Diperbarui 20 Apr 2021, 05:41 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Reaksi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Memulai awal pekan ini, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street merosot dari rekor tertingginya. Hal ini dipicu sektor saham teknologi yang melemah di pasar.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones melemah 123,04 poin atau 0,4 persen ke posisi 34.077,63. Indeks saham Dow Jones turun dari level tertingginya pada sesi perdagangan sebelumnya.

Indeks saham S&P 500 susut 0,5 persen ke posisi 4.163,26 setelah sentuh rekor tertinggi baru pada Jumat. Indeks saham Nasdaq susut satu persen ke posisi 13.914,77.

Sementara itu, bitcoin tergelincir setelah sentuh posisi tertinggi sepanjang masa di kisaran USD 64.841 pada Rabu pekan lalu. Hal itu berdasarkan data dari Coin Metrics. Bitcoin susut sekitar 19 persen sebelum stabil. Mata uang kripto tersebut berada di posisi USD 55.866 pada awal pekan ini.

Saham Tesla, pemegang bitcoin turun lebih dari tiga persen. Coinbase, platform perdagangan uang kripto susut 2,6 persen.

"Setiap kali aset utama melihat penurunan besar pada saat pasar yang luas berada pada posisi mahal, biasanya berdampak negatif pada pasar saham meski pun hanya berumur pendek," ujar Chief Market Strategist Miller Tabak, Matt Maley, dilansir dari CNBC, Selasa (20/4/2021).

2 dari 3 halaman

Pelaku Pasar Tetap Optimistis terhadap Bursa Saham

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Saham Coca Cola naik 0,6 persen setelah raksasa konsumen itu melaporkan pendapatan dan laba lebih baik. Perseroan menyatakan permintaan telah kembali ke tingkat sebelum pandemi COVID-19 pada Maret 2021.

Saham turun dari keuntungan selama sepekan karena pendapatan melampaui perkiraan dan data ekonomi yang kuat mengangkat indeks saham acuan.

Indeks saham S&P 500 dan Dow Jones masing-masing naik 1,4 persen dan 1,2 persen pada pekan lalu. Indeks saham acuan tersebut naik untuk empat minggu berturut-turut. Indeks saham Nasdaq menguat dalam tiga minggu berturut-turut.

Musim laporan laba kuartal pertama dimulai dengan awal yang kuat dipimpin oleh hasil kuat dari bank. Laba sektor keuangan telah melampaui harapan sebesar 38 persen. Sementara di S&P 500 telah mengejutkan naik 12 persen. Hal itu berdasarkan data dari Credit Suisse.

"Kami tetap bullish di pasar saham ekuitas secara keseluruhan dan melihat kekuatan berkelanjutan di sektor siklikal yang akan mendapatkan keuntungan dari pemulihan ekonomi berbasis luas yang sedang berlangsung," ujar Direktur D.A Davidson, James Ragan.

Ia menambahkan, pihaknya mencari kinerja perusahaan yang sangat kuat pada kuartal I dan II 2021. Pihaknya percaya estimasi laba dapat  direvisi lebih tinggi.

Pada Jumat pekan lalu, UBS menaikkan perkiraan indeks saham S&P 500 pada 2021 di tengah data terbaru yang menandakan pemulihan ekonomi yang kuat. Indeks saham S&P 500 diperkirakan di posisi 4.400 pada akhir 2021.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓