Analis Sebut Penerapan SPAC Perlu Aturan Jelas

Oleh Dian Tami Kosasih pada 17 Apr 2021, 20:24 WIB
Diperbarui 17 Apr 2021, 20:25 WIB
Akhir tahun 2017, IHSG Ditutup di Level 6.355,65 poin
Perbesar
Pekerja tengah melintas di dekat papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Pada penutupan perdagangan saham, Jumat (29/12/2017), IHSG menguat 41,60 poin atau 0,66 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan akuisisi bertujuan khusus atau SPAC menarik perhatian sejak tahun lalu karena diminati beberapa perusahaan terutama perusahaan rintisan atau startup yang hendak melakukan penawaran saham perdana (IPO) di bursa saham.

Melihat fenomena global ini, Direktur Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat menegaskan, perlu ada aturan yang jelas apabila SPAC ini akan dilakukan di pasar modal Tanah Air.

"Saya kira kalau yang perusahaan realnya belum ada sama sekali dan tujuannya melakukan akuisisi sebuah perusahaan ini akan repot, karena pengikatannya belum ada," ujar dia kepada Liputan6.com, ditulis Sabtu, (17/4/2021).

Samsul juga melihat, sistem yang digunakan oleh SPAC mirip dengan backdoor listing. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau berbagai pihak untuk lebih cermat melihat perkembangan yang ada.

"Ini saya enggak tahu juga seberapa jauh informasi yang diberikan ke investor terkait proses IPO (dengan sistem SPAC). Atau mungkin IPO dulu nanti company lain bergabung. Ini semacam backdoor. Jadi rights issue masuklah saham baru. Artinya mungkin perusahaan yang memilih hal ini agak sulit memenuhi syarat IPO," tuturnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Analis  Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menegaskan, perlu ada aturan yang jelas terkait SPAC apabila akan diimplementasikan di Indonesia.

"Di Indonesia masih belum punya itu sistemnya. Tapi pasar modal di kita masih bisa berkembang. Tapi itu, semuanya harus memiliki regulasi yang jelas," ujar dia. 

2 dari 3 halaman

Masih Dalam Tahapan Kajian dan Diskusi BEI

FOTO: IHSG Akhir Tahun Ditutup Melemah
Perbesar
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Nyoman Gede Yetna menuturkan, saat ini BEI masih dalam tahapan kajian dan diskusi dengan beberapa pemangku kepentingan terkait untuk mendapatkan referensi pengaturan SPAC. Hal ini juga berkaitan dengan rencana penerapan aturan SPAC di Indonesia.

"Pada proses penyusunan peraturan, tentunya BEI perlu mempertimbangkan kesesuaian penerapan peraturan berdasarkan perbandingan yang kami lakukan atas best practise di bursa lain,” ujar dia, kepada wartawan, 31 Maret 2021.

Ia menuturkan, BEI tentu juga mengkaji beberapa hal seperti aspek corporate governance, perlindungan investor publik dan kesesuaian peraturan dengan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait