Sentimen Domestik Ini Bakal Mampu Imbangi Volatilitas Bursa Saham Global

Oleh Agustina Melani pada 28 Mar 2021, 16:00 WIB
Diperbarui 28 Mar 2021, 16:00 WIB
FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan mengambil gambar layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 111 saham menguat, 372 tertekan, dan 124 lainnya flat. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot selama sepekan. Pada periode 22-26 Maret 2021, IHSG turun 2,5 persen ke posisi 6.195,56 dari posisi pekan lalu 6.356,16.

Investor asing melakukan aksi beli bersih saham Rp 294,94 miliar pada Jumat, 26 Maret 2021. Sepanjang 2021, investor asing mencatatkan aksi beli Rp 13,29 triliun. Demikian mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (28/3/2021).

Dalam laporan PT Ashmore Asset Management Indonesia, pernyataan ketua The Federal Reserve Jerome Powell dan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen memicu volatilitas. Powell dan Yellen berbicara mengenai kondisi ekonomi seiring pandemi COVID-19 di depan komite senat AS.

Selama sesi, Powell menuturkan tidak khawatir dengan peningkatan kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun.

"Tampaknya imbal hasil menanggapi berita tentang vaksinasi COVID-19 dan akhirnya tentang pertumbuhan. Akibatnya ada yang mendasari prospek ekonomi membaik,” ujar dia.

Selain itu, Yellen dan Powell mengakui kalau harga aset menjadi sangat berharga di pasar.

Ashmore juga menyoroti mengenai apakah pasar meragukan pertumbuhan? Hal ini setelah kemungkin inflasi, pasar tiba-tiba merespons sejumlah sentimen mulai dari varian COVID-19 baru, perdebatan mengenai suplasi vaksin AstraZeneca,dan hal tersebut mempengaruhi kepercayaan investor terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap ketegangan Amerika Serikat dan China kembali menambah ketakutan atas prospek pasar saham.

2 dari 3 halaman

Katalis yang Imbangi Bursa Saham Global

Akhir tahun 2017, IHSG Ditutup di Level 6.355,65 poin
Perbesar
Pekerja tengah melintas di dekat papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Pada penutupan perdagangan saham, Jumat (29/12/2017), IHSG menguat 41,60 poin atau 0,66 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apa saja kunci katalis yang mengimbangi volatilitas bursa saham global?

Pertama, neraca transaksi berjalan pada kuartal I 2021 diperkirakan turun antara -0,5 persen-0,5 persen. Kedua, Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan rendah dan melanjutkan stimulus untuk mendukung ekonomi domestik.

Tidak seperti negara berkembang lainnya yang tanpa peringkat layak investasi, Indonesia memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga dan tidak mengorbankan mata uang.

Ketiga, stabilitas rupiah relatif terkendali dan prospek investasi asing baik sektor riil dan portofolio akan mendukung nilai tukar rupiah.

Keempat, program vaksinasi COVID-19 di Indonesia mencapai 400 ribu per hari dibandingkan target pemerintah 1 juta per hari. Hal ini masih menunjukkan tren positif untuk tingkat vaksinasi COVID-19. Kelima, penerapan UU Cipta Kerja akan berdampak untuk meningkatkan neraca pembayaran seiring repatriasi dividen.

Dengan katalis tersebut bagaimana dengan sektor siklikal lebih besar dibandingkan defensif masih menjadi strategi yang baik untuk saham? Dengan ada kekhawatiran, sikap defensif menjadi pilihan.

Ashmore melihat sejumlah nilai untuk sektor defensif sektor saham barang konsumsi. Sektor ini dinilai masih menjadi pilihan baik sampai batas tertentu seiring aliran dana asing yang masuk.

"Namun untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, kami memandang sektor siklikal tetap strategi baik di tengah potensi komoditas dan jika rencana insentif pemerintah di sektor properti berjalan lancar,” demikian mengutip dari laporan Ashmore.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓