Bursa Saham Asia Melonjak Sambut Keputusan The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan

Oleh Dian Tami Kosasih pada 18 Mar 2021, 08:43 WIB
Diperbarui 18 Mar 2021, 08:43 WIB
Pasar Saham di Asia Turun Imbas Wabah Virus Corona
Perbesar
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia menyambut keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan mendekati nol.

Di bursa saham Asia, indeks saham Nikkei 225 naik 1,4 persen, sedangkan indeks saham Topix menguat 0,93 persen. Indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 1,17 persen dan indeks saham Kosdaq bertambah 0,83 persen.

Sedangkan bursa saham Australia bergejolak. Indeks saham ASX 200 melemah 0,26 persen seiring sebagian besar sektor saham tertekan. Akan tetapi, sektor saham energi dan material masing-masing naik 0,59 persen dan 0,45 persen.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat sehingga mendorong indeks saham Dow Jones menyentuh posisi di atas 33.000 untuk pertama kali. Sedangkan imbal hasil obligasi AS turun dari posisi tertinggi sebelumnya.

Adapun sentimen bank sentral AS atau the Fed mempengaruhi bursa saham Asia. The Federal Reserve meningkatkan harapannya untuk pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain mengindikasikan kemungkinan tidak akan ada kenaikan suku bunga hingga 2023.

Ketua The Fed Jerome Powell memperkirakan inflasi akan naik pada 2021. Akan tetapi, kenaikan inflasi tidak akan cukup untuk mengubah kebijakannya. Inflasi di atas 2 persen untuk jangka waktu tertentu, jika itu membantu untuk mencapai pekerjaan penuh dan inklusif.

2 dari 3 halaman

Perkiraan FOMC

Rudal Korea Utara Bikin Bursa Saham Asia Ambruk
Perbesar
Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Adapun empat dari 18 anggota Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC sedang mencari kenaikan suku bunga pada 2022 dibandingkan dengan hanya satu pada pertemuan FOMC Desember. Jika itu berdasarkan dot plot dari perkiraan masing-masing anggota.

Pada 2023, tujuh anggota FOMC melihat kenaikan dibandingkan lima anggota lainnya pada Desember. Setiap kuartal, anggota FOMC memperkirakan kemana suku bunga akan bergerak dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Proyeksi ini disajikan secara visual dalam bagan dan disebut dot plot.

"Pernyataan FOMC sangat mirip dengan Januari. Namun, Komite  mencatat indikator aktivitas dan ketenagakerjaan telah berubah lebih tinggi baru-baru ini,” dikutip dalam cacatan Strategist Commonwealth Bank of Australia, dilansir dari CNBC, Kamis, (18/3/2021).

 Namun demikian, pernyataan tersebut menyatakan krisis kesehatan yang sedang berlangsung terus menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap prospek ekonomi dan bahwa tingkat akomodasi kebijakan saat ini tetap sesuai.

“Kombinasi dari dot plot dan komentar dovish Ketua Powell mendorong imbal hasil obligasi AS dan imbal hasil obligasi lebih rendah (setelah kenaikan imbal hasil pada awal hari),” tulis Strategist CBA.

Indeks dolar AS turun dari level 91,90. Indeks dolar AS sentuh 91,37 pada perdagangan Kamis pagi. Sedangkan Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 108,92.  Harga minyak Amerika Serikat berada di kisaran USD 64,54, sedangkan harga minyak Brent turun 0,1 persen menjadi USD 67,93.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓