Menanti Hasil Pertemuan FOMC Pekan Depan

Oleh Agustina Melani pada 14 Mar 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 14 Mar 2021, 11:26 WIB
Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat selama sepekan. Tercatat IHSG naik 1,59 persen ke posisi 6.358,20 dari pekan lalu 6.258,74.

Meski demikian, investor asing melakukan aksi jual saham selama sepekan. Tercatat aksi jual sekitar Rp 1,4 triliun pada 8-12 Maret 2021. Sepanjang 2021, investor asing mencatat aksi beli bersih Rp 12,79 triliun.

Lalu sentimen apa yang akan pengaruhi pergerakan IHSG pada pekan depan? Pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve menjadi salah satu yang akan dicermati investor.

Lalu apa yang akan diharapkan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC)?

Mengutip laporan Ashmore Asset Management Indonesia, imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun meningkat sejak awal 2021. Pada pekan lalu seiring data makro ekonomi AS yang menguat mendorong kenaikan obligasi bertenor 10 tahun.

Hal ini sebelum menarik investor global untuk membeli US Treasury. Dibandingkan tahun lalu, imbal hasil obligasi AS telah menguat yang sebelumnya cenderung mendatar. Hal itu menimbulkan pertanyaan apakah the Federal Reserve akan turun tangan dan intervensi?

Ada sejumlah hal yang diharapkan terjadi pada rapat the Federal Reserve pekan depan yang dari paling kecil kemungkinannya. Hal itu mulai dari quantative easing (QE) tambahan hingga menurunkan suku bunga acuan karena akan menghasilkan neraca lebih besar. "Kami yakin the Federal Reserve kemungkinan besar menghindarinya,” dikutip dari laporan Ashmore, Minggu (14/3/2021).

Ada peluang meski kecil untuk skenario berikutnya dengan the Federal Reserve umumkan operation twist atau putaran operasi. Operation twist ini the Federal Reserve melepas obligasi tenor jangka pendek dan membeli obligasi jangka panjang sehingga dapat meratakan kurva.

Jika hasil skenario ini cukup positif untuk imbal hasil obligasi tetapi mekean pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Kemungkinan besar terjadi skenarionya dengan the Federal Reserve menekan imbal hasil obligasi yang tinggi untuk prospek ekonomi yang lebih baik. Namun, the Federal Reserve diharapkan mempertahankan tingkat QE.

2 dari 3 halaman

Obligasi RI Masih Menarik

obligasi-131001b.jpg
Perbesar
ilustrasi obligasi

Selain itu, the Federal Reserve juga kemungkinan besar akan meningkatkan suku bunga jangka pendek yang juga turun baru-baru ini. Namun, hal itu dinilai seharusnya tidak terjadi.

Meski demikian, secara keseluruhan, ketidakpastian jangka pendek jelang rapat the Federal Reserve meningkatkan volatilitas baik pasar obligasi dan saham di seluruh dunia. Indeks volatilitas (VIX) yang mengukur kecemasan investor telah melonjak ke posisi 37 pada Januari.

Namun, ketika kepastian meningkat, pasar akan cenderung lebih nyaman untuk meningkatkan aset berisiko. Dengan perkembangan yang terjadi, Ashmore menilai obligasi Indonesia terlihat menarik dengan tingkat inflasi rendah.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓