Saham Tesla Naik, Kekayaan Elon Musk Bertambah Rp 359,9 Triliun dalam Satu Hari

Oleh Dian Tami Kosasih pada 10 Mar 2021, 22:06 WIB
Diperbarui 10 Mar 2021, 22:07 WIB
Elon Musk
Perbesar
Elon Musk, founder Tesla dan SpaceX. Sumber: Business Insider

Liputan6.com, Jakarta - Saham Tesla melonjak hampir 20 persen pada sesi reguler Selasa, 9 Maret 2021. Peningkatan saham Tesla tersebut menjadi yang terbesar pada 2021.

Seperti dilansir Yahoo Finance, hal ini terjadi karena saham teknologi menguat tajam di Wall Street karena imbal hasil obligasi turun.

Akibatnya, kekayaan Elon Musk mengalami kenaikan hingga USD 25 miliar atau sekitar Rp 359,9 triliun (asumsi kurs Rp 14.397 per dollar AS) dan berhasil mencatat pendapatan tertinggi di antara pengusaha teknologi pada Selasa lalu.

Meski mengalami kenaikan, saham Amazon hanya melonjak sebesar 3,8 persen, hal ini membuat Jeff Bezos mendapatkan tambahan harta sebesar USD 6 miliar atau sekitar Rp 86,42 triliun pada hari yang sama.

Menurut Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Bezos mencapai USD 179,9 miliar, diikuti Musk dengan kekayaan bersih USD 174,1 miliar. Indeks tersebut menunjukkan peringkat terbaru 500 orang terkaya di dunia.

Bezos dan Musk memang sering dikaitkan karena berada di posisi teratas. Sebelumnya, Musk berhasil unggul dari Bezos dan menyandang gelar sebagai orang terkaya di dunia pada Januari tahun ini.

Kekayaan yang dimiliki bos Tesla tersebut, menyentuh USD 210 miliar. Tak berlangsung lama, Bezos kembali mendapatkan gelar orang terkaya di dunia setelah saham Tesla turun 36 persen. Namun demikian, jarak kekayaan dua miliarder tersebut kurang dari USD 6 miliar.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Saham Tesla Melambung 20 Persen

Tesla
Perbesar
Logo Tesla

Sebelumnya, saham teknologi di bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan saham Selasa, 9 Maret 2021 setelah imbal hasil obligasi AS turun. Sentimen itu mendorong kenaikan saham Tesla hampir 20 persen.

Kenaikan harga saham Tesla terjadi setelah alami aksi jual selama lima hari. Namun, saham Tesla masih turun 25 persen dari level tertinggi intraday USD 900 per saham pada 25 Januari 2021.

Sentimen lainnya yang angkat saham Tesla berasal dari data penjualan yang dirilis the China Passenger Car Association (CPCA). CPCA melaporkan penjualan ritel mobil di China meningkat pada Februari 2021 menjadi sekitar 1,2 juta kendaraan dibandingkan Februari 2020. Demikian mengutip laman CNBC, Rabu, 10 Maret 2021.

Produsen mobil yang didirikan Elon Musk tersebut menjual 18.318 model 3s dan Ys dari pabrik di Shanghai, China. Hal itu berdasarkan data CPCA. Penjualan yang kuat itu terjadi meskipun ada libur Tahun Baru Imlek dari 11-17 Februari 2021.

Sementara itu, mobil mikro yang sangat populer di China dibuat oleh perusahaan patungan antara SAIC, GM dan Wuling terjual 20.819 unit pada Februari 2021, melampaui volume Tesla untuk penjualan kendaraan listrik. Namun, Wuling mini harganya kurang dari USD 5.000 dibandingkan harga awal model 3 sekitar USD 36.500.

Sejumlah pendukung Tesla telah mulai mengakui meningkatnya persaingan untuk Tesla di pasar kendaraan listrik. Akan tetapi, sisi lain banyak melihat penurunan harga saham baru-baru ini sebagai peluang pembelian.

Analis UBS menaikkan target harga dalam 12 bulannya untuk saham Tesla dari USD 325 menjadi USD 730. Mereka mengharapkan Tesla menghasilkan Tesla lebih banyak dana dari perangkat lunak pada tahun-tahun mendatang.

Pelaku pasar juga mengapresiasi pendekatan Tesla untuk baterai dari produksi baterai insourcing hingga baterai teknologi Tesla. Pendiri Ark Invest Cathie Wood pun mengambil kesempatan untuk akumulasi saham Tesla sebanyak lebih dari 100.000 saham untuk dana Ark pada Jumat pekan lalu.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓