Wall Street Beragam Imbas Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga

Oleh Agustina Melani pada 27 Feb 2021, 06:20 WIB
Diperbarui 27 Feb 2021, 06:20 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street beragam pada perdagangan saham Jumat, 26 Februari 2020. Indeks saham Dow Jones bergerak liar mendekat level terendah seiring berjuang menghilangkan kekhawatiran kenaikan suku bunga yang cepat.

Pada penutupan wall street, indeks saham Dow Jones melemah 469,64 poin atau 1,5 persen ke posisi 30.932,37 setelah sempat menghijau. Indeks saham S&P 500 turun 0,5 persen menjadi 3.811,15 dipicu sektor saham energi dan keuangan yang tertekan.

Sementara itu, indeks saham Nasdaq menguat 0,6 persen ke posisi 13.192,34 setelah saham perusahaan raksasa teknologi menguat. Saham Facebook, Microsoft, dan Amazon masing-masing naik lebih dari satu persen.

Selama sepekan, indeks saham acuan tertekan karena ketakutan suku bunga lebih tinggi dan inflasi. Indeks saham S&P 500 melemah 2,5 persen pada pekan ini. Indeks saham Dow Jones turun 1,8 persen dan indeks saham Nasdaq tergelincir 4,9 persen.

Pelemahan yang terjadi di wall street terjadi seiring indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi menunjukkan inflasi yang terkendali pada Januari.

Indeks PCE yang diawasi oleh the Federal Reserve naik 0,3 persen pada Januari. Angka itu di atas harapan 0,2 persen tetapi hanya naik 1,5 persen secara  year on year. Hal tersebut sesuai dengan perkiraan Dow Jones.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

Dibayangi Kenaikan Yield Obligasi, Indeks Saham Acuan Menguat pada Februari

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Yield US treasury turun 10 basis poin menjadi sekitar 1,42 persen pada Jumat pekan ini setelah melonjak di atas 1,6 persen. Imbal hasil obligasi awalnya turun setelah rilis data inflasi, tetapi kembali menguat memicu penurunan intraday di indeks saham acuan.

Meski imbal hasil obligasi akhirnya melemah, saham gagal untuk bangkit seiring kekhawatiran terhadap suku bunga masih terjadi.

“Meski aksi jual sulit ditahan, selisih kredit tetap terkendali, tetapi jika selisih melebar secara material dan terjadi aksi jual, the Federal Reserve dan pasar akan benar-benar memiliki sesuatu yang perlu dikhawatirkan,” ujar Chief Market Strategist Prudential Quincu Krosby seperti dilansir dari CNBC, Sabtu (27/2/2021).

Suku bunga yang melonjak mengkhawatirkan investor saham dan mendorong indeks saham Nasdaq ke level terburuk sejak Oktober. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun naik lebih dari 50 basis poin sejak awal 2021. Kenaikan tajam untuk tingkat bunga obligasi digunakan sebagai patokan untuk suku bunga hipotek dan kredit mobol.

Terlepas dari koreksi pada pekan ini, indeks saham acuan cenderung menguat pada Februari. Indeks saham Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik 2,6 persen dan 3,2 persen. Indeks saham teknologi menguat 0,9 persen.

Sektor Saham Energi dan Keuangan Melonjak

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Ekonom dan manajer investasi mengatakan, pasar obligasi bereaksi terhadap ekonomi positif karena program vaksinasi yang diluncurkan dan perkiraan produk domestik bruto (PDB) yang membaik. Akan tetapi, hal tersebut juga menandakan inflasi yang lebih cepat dari perkiraan.

“Jika pasar mulai percaya the Federal Reserve entah bagaimana telah kehilangan kendali atas ke mana arah pasar obligasi, semua gagasan tentang taper tantrum akan muncul,” ujar Direktur UBS, Art Cashin.

Investor mengalihkan dana ke sektor saham yang berdampak terhadap pemulihan ekonomi. Hal itu terutama sektor saham yang diuntungkan dari peluncuran vaksin dan aktivitas seperti perjalanan yang akan kembali normal.

Sektor saham energi naik 4,3 persen pada pekan ini mendorong sektor saham tersebut menguat lebih dari 21 persen pada Februari 2021. Sektor saham energi mencatat performa terbaik di tengah harapan masyarakat akan kembali melakukan aktivitas normal. Sektor saham keuangan juga melonjak 11 persen diuntungkan dari kenaikan suku bunga.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓