Teknologi Makin Berkembang, Bagaimana Peluang Bisnis Netflix?

Oleh Dian Tami Kosasih pada 25 Feb 2021, 14:02 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 14:02 WIB
Ilustrasi Netflix
Perbesar
Ilustrasi Netflix. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan teknologi yang terjadi membuat terciptanya perusahaan baru, salah satu yang menarik perhatian ialah streaming digital untuk film dan musik.

Melihat hal ini, Armand Hartono, Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjelaskan bila perusahaan yang sudah berkembang seperti Netflix dan Spotify tak semata-mata mampu mencapai kesuksesan tanpa melihat peluang yang ada saat itu.

"Ke depannya pasti bisa (berkembang terus), karena mereka penggunaannya berkembang terus. Sekarang mereka sudah profitable dan bisnis modelnya berkembang terus," katanya di Marketeers Hangout 2021, Kamis (25/2/2021).

Armand juga mencotohkan bagaimana perjuangan Netflix untuk bisa mencapai kesuksesan. Sempat ditolak perusahaan besar, kerja keras dan peluang bisnis yang diambil membuat Netlix menjadi pilihan masyarakat saat ini.

"Saya ambil contoh Netflix. Awalnya cuma sederhana kok, mereka berpikir kalau mau pinjam video harus menyetir jauh. Kenapa videonya enggak dikirim saja, tapi ternyata ada masalah saat dikirim. Akhirnya mereka ide gunakan internet, tapi saat itu masih mahal dan lambat, matematikanya merugikan," ujarnya.

Tak hanya memberikan kemudahaan menonton film melalui teknologi yang ada saat ini, Netflix juga menjadi production house yang aktif melakukan produksi.

"Jadi jawaban saya seperti ini, saya enggak bisa jamin sebuah bisnis bisa tetap bertahan atau enggak entah itu Netflix atau Sportify. Tapi semuanya yang berani berusaha pada sesuatu yang baru dan customer fokus, seharusnya bisa terus bertahan. Tapi memang model bisnis berikutnya harus menarik dan sesuai dengan kebutuhan nasabah dan memang akan butuh teknologi," tuturnya. 

 

2 dari 3 halaman

Pandemi COVID-19 Jadi Kesempatan Masyarakat Teknologi Digital

Sebelumnya, gaya hidup baru harus dilakukan seluruh masyarakat dunia untuk mencegah penularan COVID-19. Tak hanya menggunakan masker dan menjaga jarak, penggunaan teknologi juga harus dilakukan.

Melihat hal ini, Armand Hartono, Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjelaskan bila teknologi yang banyak digunakan saat ini sudah ada cukup lama.

Hanya saja, pola kehidupan yang berjalan belum bisa melakukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi yang tercipta. Namun, hal itu berbeda semenjak ada pandemi COVID-19.

"Saya ingatkan teknologi penting tapi intel inside dan idiot outside percuma. Akan selalu terjadi distrubsi dan ini selalu memaksa kita menggunakan teknologi, contohnya ada distrubsi pandemi," katanya di acara Marketeers Hangout 2021, Kamis, 25 Februari 2021.

Oleh karena itu, Armand juga menyebut, krisis adalah kesempatan manusia untuk mengadopsi sesuatu dengan terpaksa, seperti yang dialami saat ini.

Dalam pemaparannya, Armand menegaskan salah satu contoh yang banyak terjadi saat ini ialah penggunaan video untuk bertatap muka saat harus melakukan rapat penting atau bertemu klien.

"Kita sudah bicara video konferensi sejak 10 tahun lalu. Tapi baru setahun ini tiba-tiba menggunakan ini. Dari dulu saya sudah bicara dengan nasabah, ayo mau enggak kita bertemu melalu video, tapi mereka maunya tetap ketemu. Akhirnya harus terbang 7 jam ke Jayapura, balik lagi ke Jakarta. Tapi hari ini enggak apa-apa lewat video," ujarnya.

Meski demikian, Armand menegaskan bila teknologi juga bisa dikontrol oleh masyarakat. Biasanya hal ini terjadi karena mereka terbiasa menggunakannya setiap hari.

"Tapi ada beberapa hal hal yg kita bisa kontrol, apalagi kalau dibuat komunitas-komunitas, dia gunakan suatu teknologi bareng bareng secara terus menerus sehingga terbiasa," tuturnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓