Tekan Impor Bahan Baku Obat, Kimia Farma Gandeng Perusahaan Korea Selatan

Oleh Agustina Melani pada 17 Feb 2021, 09:05 WIB
Diperbarui 17 Feb 2021, 09:05 WIB
FOTO: PPKM Diperpanjang, IHSG Melemah Pada Sesi Pertama
Perbesar
Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Pada hari ini, IHSG melemah pada penutupan sesi pertama menyusul perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menggandeng perusahaan dari Korea Selatan Sun Wun Pharmacopia Co Ltd untuk menurunkan impor bahan baku obat (BBO).

PT Kimia Farma Tbk meanargetkan penurunan impor bahan baku obat (BBO) hingga sekitar 23 persen pada 2024.

Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk Verdi Budidarmo menuturkan, perseroan sudah membangun fasilitas produksi BBO yang berlokasi di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat dan sudah memiliki sertifikasi cara pembuatan bahan baku obat yang baik dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

"Kami harapkan akan menurunkan impor BBO hingga sekitar 23 persen pada 2024 dengan terus melakukan pengembangan BBO lainnya,” tutur dia, dalam keterangan resmi, dilansir dari Antara, Rabu (17/2/2021).

Ia mengatakan, pengembangan BBO dilakukan sesuai dengan prioritas kebutuhan nasional hingga 2020 telah berhasil memproduksi sembilan item BBO pada 2020.

Selain sertifikasi dari BPOM RI, ia menambahkan, dilakukan juga sertifikasi halal atas produk BBO dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengantisipasi implementasi UU 33/2014 Tahun 2019 tentang jaminan produk halal.

Ia menambahkan, dalam pengembangan BBO, perseroan menjalin kerja sama dengan perusahaan dari Korea Selatan yaitu Sung Wun Pharmacopia Co Ltd.

“Perusahaan asal Korea Selatan itu memiliki kapabilitas riset pengembangan BBO serta memberikan kesempatan bagi para SDM kami untuk memperoleh transfer knowledge dan transfer teknologi dalam pengembangan dan produksi BBO," kata Verdi.

 

2 dari 3 halaman

Tantangan

Kimia Farma
Perbesar
(foto: Liputan6.com)

Dalam mewujudkan kemandirian BBO dalam negeri, dia menuturkan, tentunya ada beberapa tantangan yang harus dihadapi mengingat industri BBO di Indonesia bisa terbilang baru dan masih belum banyak industri yang mengembangkan industri BBO.

Ia menyampaikan beberapa tantangan yang harus dihadapi industri BBO di Indonesia antara lain dari aspek economic of scale, teknologi, SDM dan juga dari sisi regulasi.

"Untuk pengembangan industri BBO ini ke depan, sebagai start up industri tentunya diperlukan dukungan dari seluruh pihak untuk menyelesaikan tantangan industri BBO yang saat ini masih kita hadapi, sehingga ke depan kemandirian industri BBO ini dalam upaya mengurangi ketergantungan impor khususnya impor BBO Farmasi dan penguatan industri farmasi dalam negeri," kata Verdi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓