IHSG Tetap Menghijau Saat Ekonomi Indonesia Minus 2,07 Persen, Kenapa?

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 05 Feb 2021, 12:34 WIB
Diperbarui 05 Feb 2021, 12:34 WIB
IHSG Menguat 11 Poin di Awal Tahun 2018
Perbesar
Layar indeks harga saham gabungan menunjukkan data di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Angka tersebut naik signifikan dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencatat penutupan perdagangan pada level 5.296,711 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 yang terkontraksi 2,07 persen. Sehubungan dengan rilis tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergerak fluktuatif.

IHSG dibuka menguat 0,60 persen ke level 6.143,85. Pada pukul 9.25, Indeks sempat melemah pada level 6.099. Tak lama berselang, IHSG bertolak pada posisi 6.125.

Mengutip data RTI, IHSG naik 0,32 persen atau 19,62 poin ke posisi 6.126,84 pada penutupan sesi pertama. Indeks saham LQ45 justru melemah 0,08 persen ke posisi 948,58. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Head of Equity Ekuator Swarna Sekuritas, David Setyanto menilai, dari sisi pertumbuhan ekonomi memang belum mencatatkan perbaikan yang berarti sehingga pergerakan IHSG terbatas. 

"Saya melihatnya memang masih berat ya untuk pertumbuhan ekonomi. Apalagi jika melihat Q4 masih negatif. Makanya indeks belum bergerak banyak ya hari ini,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (5/2/2021).

Selain rilis BPS, David menyebutkan pengumuman cadangan devisa juga perlu untuk dicermati. “Ada rilis cadev hari ini. Itu mungkin bisa jadi sentimen positif,” kata dia.

Adapun Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia sebesar USD 138 miliar pada Januari 2021. Angka tersebut naik 1,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya, USD 135,9 miliar.

Kepala Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengungkapkan posisi cadev tersebut setara dengan pembiayaan 10,5 bulan impor atau 10,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Selain itu, cadev juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"IHSG masih positif 0,07 persen,” ujar Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji saat dihubungi secara terpisah.

Nafan menambahkan, sentimen lain yang bisa dipertimbangkan untuk perdagangan Jumat pekan ini adalah US nonfarm payroll (NFP).

 

2 dari 3 halaman

Penutupan IHSG Sesi I pada 5 Februari 2021

20161110-Hari-ini-IHSG-di-buka-menguat-di-level-5.444,04-AY2
Perbesar
Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak perkasa hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham Jumat, 5 Februari 2021. Penguatan IHSG di tengah rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 dan cadangan devisa Januari 2021.

Mengutip data RTI, IHSG naik 0,32 persen atau 19,62 poin ke posisi 6.126,84. Indeks saham LQ45 justru melemah 0,08 persen ke posisi 948,58. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Sebanyak 260 saham menghijau sehingga mengangkat IHSG ke zona hijau. 180 saham melemah dan menahan penguatan IHSG. 165 saham diam di tempat.  IHSG sempat berada di level tertinggi 6.149,97 dan terendah 6.090,98.

Total frekuensi perdagangan saham 677.686 kali dengan volume perdagangan 8,5 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,3 triliun. Investor asing jual saham Rp 122,28 miliar. Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau kecuali sektor saham aneka industri turun 0,89 persen dan sektor saham manufaktur susut 0,02 persen.

Sektor saham pertanian naik 1,62 persen, dan catat penguatan terbesar. Disusul sektor saham perdagangan naik 1,33 persen dan sektor saham konstruksi mendaki 1,05 persen.

Saham-saham catat top gainers antara lain saham MTPS naik 34,83 persen, saham POLA menguat 34,34 persen ke posisi Rp 133 per saham, saham LAND melonjak 34,18 persen ke posisi Rp 212 per saham, saham BANK mendaki 24,84 persen ke posisi Rp 392 per saham, dan saham UFOE naik 24,84 persen ke posisi Rp 382 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan tajam atau top losers antara lain saham FORU turun 7 persen ke posisi Rp 93 per saham, saham DGNS melemah 6,92 persen ke posisi Rp 605 per saham, saham BBSI susut 6,9 persen ke posisi Rp 1.215 per saham, dan saham AIMS merosot 6,9 persen ke posisi Rp 162 per saham.

Saham-saham yang dibeli investor asing pada sesi pertama antara lain saham BBRI sebanyak Rp 48,6 miliar, saham AKRA sebanyak Rp 32,7 miliar, saham BBTN sebanyak Rp 17 miliar, saham UNTR sebanyak Rp 16,1 miliar, dan saham KLBF sebanyak Rp 7,4 miliar.

Sedangkan saham-saham yang dilepas investor asing antara lain saham BMRI sebanyak Rp 61,9 miliar, saham EXCL sebanyak Rp 23,7 miliar, saham ICBP sebanyak Rp 9,5 miliar, saham INDF sebanyak Rp 8,1 miliar, saham HMSP sebanyak Rp 7,4 miliar.

Bursa saham Asia cenderung kompak menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,52 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,29 persen, indeks saham Jepang Nikkei naik 1,2 persen. Lalu ineks saham Thailand menguat 0,67 persen, indeks saham Shanghai bertambah 0,47 persen, indeks saham Singapura naik 0,14 persen dan indeks saham Taiwan menguat 0,53 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓