IHSG Berpeluang Menguat, Cek Saham Pilihan Jelang Akhir Pekan

Oleh Dian Tami Kosasih pada 22 Jan 2021, 06:30 WIB
Diperbarui 22 Jan 2021, 06:30 WIB
IHSG Awal Pekan Ditutup di Zona Hijau
Perbesar
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak konsolidasi pada perdagangan saham Jumat, (22/1/2021).

Presiden Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Suryawijaya menuturkan, pergerakan IHSG masih betah berada dalam rentang konsolidasi wajar. IHSG akan bergerak di kisaran 6.238-6.460 pada Jumat pekan ini.

Untuk pilihan saham yang dapat dicermati investor, William memilih saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Sementara itu, Analis PT Bina Artha Sekuritas Nafan Aji menuturkan, IHSG masih berpeluang menguat dan menuju ke level resistance terdekat terbuka lebar.

"Berdasarkan rasio fibonacci, adapun support maupun resistance berada pada 6366.09 hingga 6463.88. Berdasarkan indikator, MACD, Stochastic maupun RSI masih menunjukkan sinyal positif,” ujar dia.

Nafan memilih sejumlah saham yang dapat dicermati investor antara lain:

1.PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Ia menuturkan, pergerakan harga saham telah menguji garis MA 10 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. “Akumulasi Beli” pada area 35.300 – 35.400, dengan target harga secara bertahap di level 36.025, 37.600 dan 39.050. Support: 35.300, 34425 dan 33.000.

2.PT Elnusa Tbk (ELSA)

"Akumulasi Beli” pada area 990 – 1.000, dengan target harga secara bertahap di level 1.030, 1.060 dan 1.185. Support: 990 dan 935,” ujar Nafan.

3.PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)

Nafan menuturkan, akumulasi beli di area level 2.050-2.100 dengan target harga secara bertahan di level 2.200, 2.400 dan 2.600. Sedangkan support di 2.050, 2.000 dan 1.955.

2 dari 3 halaman

Penutupan IHSG pada 21 Januari 2021

IHSG Dibuka di Dua Arah
Perbesar
Pekerja duduk di depan layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) fluktuaktif hingga akhirnya berada di zona merah pada penutupan perdagangan saham Kamis, 21 Januari 2021.

Aksi ambil untung setelah ada sentimen Joe Biden dan pembatasan kegiatan juga mempengaruhi laju IHSG.

Mengutip data RTI, IHSG melemah 0,25 persen atau 15,86 poin ke posisi 6.413,89. Indeks saham LQ45 merosot 0,36 persen ke posisi 1.011,20. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Sebanyak 241 saham melemah sehingga menekan IHSG. Sedangkan 248 saham menguat dan menahan pelemahan IHSG. 140 saham diam di tempat. Pada Kamis pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.504,99 dan terendah 6.399,66.

Total frekuensi perdagangan 1.544.917 kali dengan volume perdagangan 18 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 19,2 triliun. Investor asing lepas saham Rp 136,67 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 14.030.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham tertekan kecuali sektor saham pertanian naik 1,7 persen, sektor saham aneka industri menguat 1,4 persen, dan sektor saham infrastruktur mendaki 0,96 persen. Sementara itu, sektor saham keuangan melemah 0,99 persen, sektor saham tambang melemah 0,66 persen dan sektor saham barang konsumsi turun 0,35 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas Nafan Aji mengatakan, pelaku pasar merealisasikan keuntungan ketika euforia pelantikan Biden sudah mereda sehingga menekan IHSG. Selain itu, kebijakan perpanjangan masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) juga memberikan sentimen negatif ke pasar saham.

“Kebijakan perpanjangan masa PPKM juga memberikan sentimen bagi terjadinya aksi profit taking, setelah IHSG berhasil mencapai 6.500, maka aksi profit taking terjadi,” ujar Nafan, saat dihubungi Liputan6.com.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓