BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,75 Persen, Laju IHSG Melemah Terbatas

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 21 Jan 2021, 14:51 WIB
Diperbarui 21 Jan 2021, 14:52 WIB
Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Perbesar
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas di Jakarta, Rabu (14/11). Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin atau 0,39% ke 5.858,29. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona merah setelah pengumuman Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 20-21 Januari 2021 yang memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 3,75 persen.

Pada pukul 14.41 WIB, IHSG merosot 0,29 persen ke posisi 6.412,40. Pelemahan IHSG pun mulai terbatas. Indeks saham LQ45 turun 0,28 persen ke posisi 1.012.

Sebanyak 266 saham melemah sehingga menekan IHSG. Akan tetapi, 215 saham menguat sehingga menahan pelemahan IHSG. 140 saham diam di tempat. Total volume perdagangan 16,5 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 17 triliun. Investor asing lepas saham Rp 223,58 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 14.005.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham melemah, dan sektor tambang memimpin pelemahan dengan turun 0,90 persen.

Sektor saham konstruksi susut 0,85 persen dan sektor saham keuangan melemah 0,88 persen. Sektor saham pertanian naik 1,18 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Diikuti sektor saham aneka industri naik 1,36 persen dan sektor saham infrastruktur menguat 0,69 persen.

Langkah BI mempertahankan suku bunga acuan 3,75 persen sesuai diperkirakan analis. BI tetap mempertahankan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas.

“Sepertinya (suku bunga acuan) tetap. Ini untuk menjaga stabilitas,” ujar Head of Equity Ekuator Swarna Sekuritas, David Setyanto kepada Liputan6.com, Kamis, 21 Januari 2021.

Sepanjang 2020 BI telah memangkas suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7DRRR) hingga lima kali. Tercatat, BI telah memangkas suku bunga sebanyak 125 basis points (bps), dari semula 4 persen menjadi 3,75 persen.

Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya turut menuturkan hal serupa. “Investor mencermati keputusan Bank Indonesia mengenai suku bunga kebijakan hari ini (Konsensus Ekonom Kami dan Bloomberg memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakannya hari ini,” kata dia.

Sehubungan dengan hal tersebut, Haryanto memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperdagangkan lebih tinggi hari ini. Selain itu, IHSG juga dipengaruhi sentimen positif dari Pemerintah AS yang baru.

2 dari 3 halaman

BI Tahan Suku Bunga Acuan

BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5 Persen
Perbesar
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/12/2019). RDG tersebut, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 5 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 20-21 Januari 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 3,75 persen persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, selain mempertahankan suku bunga acuan, suku bunga deposito facility juga tetap pada 3 persen, dan suku bunga lending facility 4,5 persen.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20-21 Januari 2021, memutuskan untuk mempertahankan BI-7DRR sebesar 3,75 persen. Suku bunga deposito facility juga tetap sebesar 3 persen, dan suku bunga lending facility tetap sebesar 4,5 persen," ujar Perry dalam video konferensi Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI, Kamis (21/1/2021).

Perry mengatakan, keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah dan stabilitas eksternal, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga serta upaya bersama untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.

"BI akan memperkuat sinergi kebijakan dan mendukung berbagai kebijakan lanjutan untuk membangun optimisme pemulihan ekonomi nasional," ujar Perry.

Kebijakan tersebut dilakukan melalui pembukaan sektor ekonomi produktif dan aman covid-19, akselerasi stimulus fiskal dalam APBN 2021, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran, melanjutkan stimulus moneter dan makroprudensial, serta akselerasi digitalisasi keuangan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓