Wall Street Cetak Rekor Setelah Joe Biden Resmi Jadi Presiden ke-46 Amerika Serikat

Oleh Agustina Melani pada 21 Jan 2021, 05:41 WIB
Diperbarui 21 Jan 2021, 05:58 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street mencetak rekor ketika Joe Biden dilantik menjadi Presiden AS.   Joe Biden resmi menjadi Presiden AS memicu harapan untuk paket stimulus lain dan distribusi vaksin yang lebih lancar ke depan.

Selain pelantikan Joe Biden, sentimen lainnya yang pengaruhi wall street yaitu kinerja kuartalan perusahaan termasuk dari Netflix yang melonjak 16,9 persen.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu, 20 Januari 2021 waktu setempat, indeks saham Dow Jones melonjak 257,86 poin atau 0,8 persen ke posisi 31.188,38. Indeks saham S&P 500 naik 1,4 persen ke posisi 3.851,85.

Kenaikan indeks saham S&P 500 dipimpin oleh sektor jasa komunikasi. Indeks saham Nasdaq melonjak hampir dua persen ke posisi 13.457,25, dan mencatat rekor baru.Selama perdagangan, tiga indeks saham acuan tersebut menyentuh level tertinggi intraday.

Sementara itu, saham Netflix melonjak setelah perusahaan melaporkan pertumbuhan pelanggan yang kuat dan menyatakan sedang mempertimbangkan pembelian kembali saham. 

Netflix mengalahkan perkiraan untuk penambahan pelanggan yang berbayar secara global melaporkan terdapat 8,5 juta pelanggan. Angka ini di atas perkiraan analis 6,47 juta analis. Perusahaan juga menyatakan akan mencapai break event point atau titik impas berdasarkan arus kas pada 2021.

Joe Biden dilantik sebagai Presiden ke-46 AS. Ia menggantikan Presiden Donald Trump. Investor tetap berharap rencana bantuan COVID-19 sebesar USD 1,9 triliun dari Joe Biden akan mendukung pemulihan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan pendapatan.

 

2 dari 4 halaman

Rencana Joe Biden

Joe Biden dan Kamala Harris Resmi Pimpin Amerika Serikat
Perbesar
Presiden Joe Biden berbicara selama Pelantikan di US Capitol di Washington, Rabu (20/1/2021). Joe Biden mengalahkan Donald Trump di pemilu AS 2020 dengan perolehan 81 juta suara. (AP Photo/Patrick Semansky, Pool)

Janet Yellen, calon yang ditunjuk Biden untuk Menteri Keuangan mendukung bantuan lebih tinggi dan mendesak anggota parlemen untuk “bertindak besar”. Proposol stimulus akan itu akan menyalurkan USD 1.400 kepada warga AS dan tambahan tunjangan pengganguran serta bantuan pemerintah negara bagian dan lokal.

Biden juga mengumumkan rencana besar-besaran untuk memerangi pandemi COVID-19 yang mencakup kampanye vaksin nasional untuk mempercepat peluncuran.

Biden juga berencana teken lebih dari selusin perintah eksekutif untuk membatalkan banyak perintah yang dikeluarkan oleh Trump termasuk apa yang disebut larangan perjalanan dan pembangunan tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko.

"Saya yakin kami akan mampu membalik halaman. Saya memperkirakan pasar akan terus bergerak dengan ekspektasi pemulihan yang kuat pada 2021 ketika vaksin didistribusikan secara luas,” ujar Chief Global Market Strategist Invesco, Kristina Hooper seperti dilansir dari CNBC, Kamis, (21/1/2021).

3 dari 4 halaman

Kinerja Perusahaan

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Selain itu, korporasi terus menunjukkan hasil kuartalan yang solid karena pendapatan pulih dari pandemic COVID-19. Morgan Stanley membukukan pendapatan yang melampaui harapan pada hasil perdagangan dan manajemen yang solid. Saham Morgan Stanley ditutup melemah 0,2 persen.

Procter and Gamble menaikkan perkiraan fiskal 2021 dan menyatakan pendapatan kuartal lalu melonjak seiring permintaan yang lebih tinggi untuk produk pembersih saat pandemi COVID-19. Namun, saham P&G turun 1,3 persen.

“Kami memulai awal musim pendapatan yang cukup solid. Yang lebih menggembirakan adalah panduan positif yang diproyeksikan oleh perusahaan. Jadi, meski ada beberapa rintangan yang tak terhindarkan di jalan, pelaku pasar dan perusahaan mulai melihat cahaya di terowongan,” kata Direktur E-Trade Financial, Chris Larkin.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by