Tambah Modal, Produsen Taro Bakal Lepas 1,5 Miliar Saham

Oleh Agustina Melani pada 04 Jul 2019, 13:30 WIB
Diperbarui 04 Jul 2019, 13:30 WIB
Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Perbesar
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA), produsen makanan ringan Taro akan melepas saham sebanyak-banyaknya 1,56 miliar saham dengan nilai nominal Rp 200 dalam rangka penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti ditulis Kamis (4/7/2019), perseroan mengeluarkan saham 1,56 miliar itu merupakan sebanyak-banyaknya 32,77 persen dari jumlah seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan setelah pelaksanaan private placement.

Perseroan meningkatkan modal ini untuk dongkrak pendapatan usaha perseroan. Selain itu juga dalam rangka pengembangan perseroan terutama usai lepas dari penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) pada 11 Juni 2019. "Ini untuk tambah modal," ujar Sekretaris Perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk, Michael Hadylaya, saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.

Hal ini sebagaimana dimaksud dalam sidang Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 121/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN.Niaga.Jkt Pst. Pengeluaran saham dengan mekanisme PMTHMETD itu berdasarkan aturan POJK 14/2019.

Dengan private placement ini diharapkan dapat menurunkan rasio utang terhadap ekuitas perseroan.

Kemudian PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk memperoleh modal kerja untuk membiayai rencana pengembangan kegiatan usaha perseroan, merealisasikan rencana perkembangan usahanya dan jumlah saham perseroan akan bertambah sehingga diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham perseroan.

Untuk melaksanakan aksi korporasi ini, perseroan akan minta restu pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 9 Agustus 2019.

2 dari 4 halaman

Kreditur Sepakat, Produsen Snack Taro Lolos dari Ancaman Pailit

IHSG 30 Mei 2017 Ditutup Melemah 0,33 Persen
Perbesar
Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,33% atau 18,94 poin ke level 5.693,39, Jakarta, Selasa (30/5). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) yaitu PT Putra Taro Paloma (PTP) dan PT Balaraja Bisco Paloma (BBP), produsen makanan ringan Taro akhirnya mendapatkan persetujuan dari kreditur dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Corporate Secretary TPS Food, Michael Hadylala menuturkan, keputusan penyelesaian proses PKPU anak usahanya tersebut didapat pada Selasa 28 Mei 2019. 100 persen kreditur anak usaha TPS Food tersebut setuju proses penyelesaian PKPU. 

"Kemarin voting diterima. Secured (kreditur separatis) 100 persen setuju termasuk UOB. Konkuren 32, kreditur 100 persen setuju," ujar Michael, saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat, Rabu, 28 Mei 2019.

Selanjutnya, perseroan menunggu homologasi atau pengesahan hakim atas persetujuan antara debitur dan kreditur konkruen untuk akhiri kepailitan atau pailit. Kreditur konkuren ini merupakan kreditur yang tidak memegang jaminan apa-apa, sedangkan kreditur separatis memiliki hak untuk melakukan eksekusi objek jaminannya dan mendapatkan piutang terlebih dahulu ketimbang kreditur konkuren.

Michael menuturkan, dengan proses penyelesaian PKPU ini, perseroan dapat mengoptimalkan kembali operasional ke depan.

Selain itu, dengan persetujuan perdamaian dalam proses PKPU ini, Michal menuturkan, pihaknya meminta grace period restrukturisasi utang hingga Juni 2020. Dalam grace period tersebut, dana yang terkumpul akan digunakan untuk modal kerja perseroan.

"Harapannya penjualan bisa ditingkatkan dan nantinya keuntungan operasional digunakan untuk bayar utang," tutur dia.

Adapun kewajiban dari anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk yaitu PTP dan BBP sekitar Rp 500 miliar.

Sebelumnya, anak usaha perseroan hadapi kasus PKPU yang terdaftar di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan Nomor Perkasa 117/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Jkt.Pst. Pemohon kasus PKPU tersebut PT Bank UOB Indonesia.

Kewajiban PTP ke Bank UOB Indonesia sekitar Rp 180 miliar. Michael sebelumnya pernah menuturkan, persetujuan oleh Bank UOB Indonesia ini cukup berpengaruh terhadap proses penyelesaian PKPU.

"Kalau UOB setuju dengan proposal perdamaian di Taro akan sangat berpengaruh dengan kelancaran pelaksanaan proposal perdamaian di PKPU TPS Food dan TPS-PMI. Kalau UOB enggak bersedia mendukung kita di proposalnya Taro dan Taro pailit, itu efeknya akan berpengaruh ke TPS Food dan TPS-PMI," tutur dia.

 

3 dari 4 halaman

Nasib Produsen Taro

Akhir tahun 2017, IHSG Ditutup di Level 6.355,65 poin
Perbesar
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan saham di penghujung tahun ini ditutup langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, manajemen PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) berharap para kreditor dapat menerima proposal perdamaian yang ditawarkan perseroan untuk proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) untuk anak usaha perseroan PT Putra Taro Paloma (PTP) dan PT Balaraja Bisco Paloma (BBP).

Dua anak usaha perseroan ini yang memproduksi makanan ringan atau disebut snack merek Taro. Adapun kasus PKPU anak usaha perseroan ini terdaftar di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan nomor perkara 117/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Jkt.Pst. Pemohon kasus PKPU tersebut PT Bank UOB Indonesia.

Corporate Secretary TPS Food, Michael H.Hadylala menuturkan, saat ini masih dalam proses PKPU yaitu anak usaha perseroan PT Putra Taro Paloma (PTP) dan PT Balaraja Bisco Paloma (BBP). Perseroan akan hadapi proses pemungutan suara (voting) terhadap proposal perdamaian yang diajukan perseroan.

Keputusan diterimanya proses perdamaian dengan kreditur ditentukan pada pekan depan. Michael menuturkan, pihaknya dibantu oleh Deloitte untuk pembuatan proposal perdamaian.

"Kalau Taro pekan depan. Proposal perdamaian sudah kami siapkan. Optimistis, berkah Ramadan. Kreditur bisa terima proposal perdamaian dengan kepastian pembayaran utang-utang. Kreditur tersebut banyak mulai dari bank, pemegang obligasi dan sukuk.  Target sebelum Lebaran ini sudah selesai (proses PKPU)," tutur Michael saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (25/5/2019).

Ia menuturkan, kalau kreditur konkruen mayoritas sudah sepakat. Saat ini nasib produsen Taro berada di tangan kreditur separatis yaitu UOB. Kreditur separatis memiliki hak untuk melakukan eksekusi objek jaminannya dan mendapatkan piutang terlebih dahulu ketimbang kreditur konkuren. 

"Sekarang tinggal UOB sebagai kreditur separatis apakah akah membiarkan Taro pailit? Karena sekarang bola tangan di UOB," tutur dia.

Michael menambahkan, jika proses PKPU anak usaha di bidang makanan ringan ini selesai, perseroan akan fokus untuk menyelesaikan utang-utang perseroan. Selain itu, perseroan juga fokus mengembangkan bisnis makanan setelah bisnis beras perseroan dinyatakan pailit.

Akuisisi Taro oleh TPS Food pada 2011

Makanan ringan Taro ini memang sudah lama beredar di Indonesia dan dikenal publik sejak 1984.

 Sebelum dibeli oleh Tiga Pilar Sejahtera Food, makanan ringan merekTaro dipegang oleh Unilever. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk menyelesaikan akuisisi  merek Taro dan pabrik dari PT Unilever Indonesia pada Desember 2011.  

Nilai akuisisinya diperkirakan Rp 200 miliar lebih. Akuisisi merek Taro tersebut diharapkan dapat mendongkrak pendapatan bagi Tiga Pilar Sejahtera Food.

Saa itu, Unilever Indonesia melepas merek Taro untuk fokus pada bisnis utamanya yaitu home, personal care, food dan ice cream. Sementara itu, Unilever juga akuisisi merek Taro pada 2003 dari PT Rasa Mutu Utama.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓