Kekhawatiran Ekonomi Global Melambat Bikin IHSG Melemah selama Sepekan

Oleh Agustina Melani pada 30 Mar 2019, 14:30 WIB
Diperbarui 30 Mar 2019, 14:30 WIB
Awal 2019 IHSG
Perbesar
Layar monitor pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (2/1). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan saham 2019 menguat 10,4 poin atau 0,16% ke 6.204. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah selama sepekan ini. Hal tersebut didorong kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global.

Mengutip laporan PT Ashmore Asset Management Indonesia, Sabtu (30/3/2019), IHSG turun 0,87 persen dari posisi 6.525 pada 23 Maret 2019 menjadi 6.468 pada 30 Maret 2019. Saham-saham berkapitalisasi besar yang masuk indeks LQ45 merosot 0,67 persen selama sepekan ini.

Investor asing juga beli saham sebesar USD 63,5 juta atau sekitar Rp 902,90 miliar (asumsi kurs Rp 14.218 per dolar AS).

Sementara itu, indeks obligasi juga turun 0,33 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun mendatar di posisi 7,63 persen.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke posisi 14.241. Investor asing beli obligasi mencapai USD 345,3 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun hingga perdagangan Rabu pekan ini.

Ada sejumlah sentimen bayangi laju pasar keuangan termasuk IHSG. Dari eksternal, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China masih mempengaruhi fokus pelaku pasar. Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin menulis dalam akun media sosial twitter, kalau ia dan perwakilan dagang AS Robert Lightizer menyimpulkan pembicaraan perdagangan “konstruktif” di Beijing.

"Saya berharap dapat menyambut Wakil Perdana Menteri China Liu He untuk melanjutkan diskusi penting ini di Washington pada pekan depan," ujar dia.

Pada Kamis pekan lalu, Perdana Menteri China Li Keqiang menuturkan, pemerintahan China akan memperluas akses pasar untuk bank-bank asing dan perusahaan sekuritas serta asuransi.

Ini menambah spekulasi China akan segera mengumumkan peraturan baru untuk memungkinkan perusahaan keuangan asing meningkatkan kehadirannya di dalam negeri.

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow menuturkan, AS mungkin menurunkan beberapa tarif jika kesepakatan perdagangan tercapai sambil menjaga yang lain untuk memastikan kepatuhan pemerintahan China.

 

2 dari 3 halaman

Sentimen Lainnya

Pembukaan-Saham
Perbesar
Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sentimen lainnya pengaruhi pasar pada pekan ini juga dipicu imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun yang merosot.

Kebijakan bank sentral AS atau the Federal Reserve mengguncang pasar pada pekan lalu. Intensitas penurunan imbal hasil obligasi AS telah membingungkan banyak pengamat.

Obligasi menguat setelah the Federal Reserve memberikan isyarat tidak menaikkan suku bunga lagi. Sentimen itu juga dorong imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun merosot ke level terendah sejak 2017.

Kemudian sentimen lain yang pengaruhi pasar yaitu rilis data neraca perdagangan AS. Defisit perdagangan AS menyempit menjadi USD 51,1 miliar pada Januari 2019 dari USD 59,9 miliar yang direvisi naik pada bulan sebelumnya. Angka ini terbesar sejak 2008.

Penurunan Januari untuk defisit barang dan jasa mencerminkan defisit barang dari USD 8,2 miliar menjadi USD 73,3 miliar dan terjadi kenaikan surplus di jasa menjadi USD 22,1 miliar.

Dari Eropa, kepercayaan bisnis Uni Eropa (UE) menurun. Ini ditunjukkan dari indikator iklim bisnis (BCI) untuk wilayah Eropa turun menjadi 0,53 pada Maret dari periode bulan sebelumnya 0,69. Angka itu terendah sejak November 2016. Hal ini seiring komponen indikator memburuk.

Proses Brexit juga masih membayangi pasar. Perdana Menteri Inggris Theresa May akan melakukan kesepakatan Brexit dengan pemungutan suara pada Jumat pekan ini. Namun, dia menahan bagian dari paket yang fokus pada hubungan perdagangan dan keamanan di masa depan.

Yang menjadi pertanyaan, apakah Perdana Menteri Inggris akan memenangkan pemilihan kali ini, setelah kesepakatannya ditolak secara berlebihan pada dua kesempatan sebelumnya. Jika anggota parlemen mendukung kesepakatan Perdana Menteri Inggris Theresa May, Inggris akan keluar dari blok UE pada 22 Mei. Jika tidak, lebih banyak ketidakpastian akan terjadi.

 

3 dari 3 halaman

Sentimen Internal

Awal 2019 IHSG
Perbesar
Layar monitor pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (2/1). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan saham 2019 menguat 10,4 poin atau 0,16% ke 6.204. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari internal, Indonesia akhirnya memiliki MRT pertama setelah 34 tahun sejak awal direncanakan.

MRT diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 24 Maret. Warga Jakarta dapat menikmati layanan MRT dengan rute sepanjang 15,7 KM dan memiliki 13 stasiun dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Waktu perjalanan diperkirakan memakan waktu 30 menit.

Pada kesempatan sama, Jokowi juga mengumumkan pengembangan MRT tahap II dengan rut eke Jakarta Utara. Diperkirakan MRT Tahap II selesai pada 2024.

Lalu apa yang dicermati ke depan?

Ashmore melihat pemilihan umum (Pemilu) menjadi sentimen yang dilihat pasar. Ashmore melihat ketidakpastian berkurang dan investor akan kembali ke fundamental dengan pertimbangan ada pesta demokrasi.

Terlepas dari siapa pemenang dalam Pemilu 2019, pelaku pasar melihat ada sedikit penyimpangan dalam pertumbuhan ekonomi untuk lima tahun ke depan.

Ashmore juga menemukan, laju IHSG diperdagangkan dalam kisaran terbatas pada satu minggu terakhir. Ini karena kurangnya katalis. “Agar dapat menembus ke atas, tampaknya pelaku pasar mengharapkan pemilu berjalan baik dan jelas pemenangnya pada 17 April,” tulis Ashmore.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

 

Lanjutkan Membaca ↓