IHSG Tertekan Selama Sepekan Imbas Ketegangan Perang Dagang

Oleh Agustina Melani pada 30 Jun 2018, 09:00 WIB
Diperbarui 30 Jun 2018, 09:00 WIB
IHSG 30 Mei 2017 Ditutup Melemah 0,33 Persen
Perbesar
Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,33% atau 18,94 poin ke level 5.693,39, Jakarta, Selasa (30/5). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah selama sepekan. Hal itu didorong bursa saham global tertekan seiring meningkatnya potensi perang dagang.

Mengutip laporan PT Ashmore Assets Management Indonesia, Sabtu (30/6/2018), IHSG melemah 0,37 dari posisi 5.821 pada Jumat 22 Juni 2018 menjadi 5.799 pada Jumat 29 Juni 2018. IHSG merosot itu didorong potensi perang dagang meningkat. Sementara itu, saham kapitalisasi besar cenderung mendatang dan saham kapitalisasi kecil turun 6,04 persen. Investor asing jual saham USD 151 juta atau sekitar Rp 2,15 triliun (asumsi kurs Rp 14.273 per dolar Amerika Serikat).

Sementara itu, indeks BINDO yang menunjukkan pasar surat utang atau obligasi turun 2,07 persen selama sepekan. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik menjadi 7,7 persen. Investor asing pun juga turut jual di pasar obligasi. Tercatat aksi jual investor di pasar obligasi mencapai USD 340 juta atau sekitar Rp 4,85 triliun.

Sejumlah sentimen pengaruhi pasar saham global termasuk IHSG selama sepekan ini baik eksternal dan internal. Dari eksternal, potensi perang dagang dominasi pasar saham. Uni Eropa dan China memastikan perdagangan multilateral tidak tiba-tiba berakhir karena Trump mengancam menaikkan tarif 20 persen untuk mobil yang dibangun di Eropa dan dijual di AS.

Selain itu, Harley-Davidson menjadi salah satu korban dagang awal perang dagang antara AS dan Uni Eropa. Harley Davidson akan memindahkan produksi dari AS.

Sentimen lainnya dari pengumuman bank sentral AS atau the Federal Reserve mengumumkan ujian tes stress tahunan. Hasillnya, Deutsche Bank menjadi satu-satunya lembaga keuangan utama yang gagal dalam ujian. The Federal Reserve juga menambah kekhawatiran mengingat Goldman Sachs dan Morgan Stanley yang akan batasi kemampuan bank menaikkan dividen dan membeli kembali saham.

Dari Asia, pertemuan bank sentral China menunjukkan fokus pada likuiditas dan keseimbangan kebijakan yang cukup. Ini adalah pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Gubernur Bank Sentral China yang baru yaitu Gubernur Yi Gang.

Bank sentral China juga akan terus mengawasi perkembangan ekonomi domestik dan global serta meningkatkan penyempurnaan kebijakan ke depan. Bank sentral juga lebih memperhatikan stabilisasi pertumbuhan di tengah perlambatan ekonomi domestik dan meningkatnya ketegangan perang dagang. Bank sentral China pun dilihat akan memperlonggar sedikit kebijakan moneternya.

2 dari 3 halaman

Sentimen Internal

Suku Bank Bank
Perbesar
Ilustrasi Foto Suku Bunga (iStockphoto)

Lalu bagaimana dari sentimen internal? Ashmore menyoroti pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Ketakutan potensi pemungutan suara yang berpotensi memecah belah tidak akan terjadi. Pilkada yang berlangsung di 171 wilayah berlangsung dengan damai. Ini memberikan kenyamanan bagi investor domestik dan asing, serta pelaku bisnis.

Hasil pertemuan rapat dewan gubernur Bank Indonesia (BI) pada 28-29 Juni 2018 menunjukkan BI berupaya stabilkan rupiah. BI menaikkan 7-day reverse repo rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. BI juga menaikkan bunga deposit facility dan lending facility.

“Keputusan BI ini menunjukkan komitmen BI untuk menjalani kebijakan pre-emptive dan ahead of the curve untuk mempertahankan nilai tukar di tengah perubahan moneter global,” tulis Ashmore.

 

3 dari 3 halaman

Cermati Faktor Fundamental

Suku Bank Bank
Perbesar
Ilustrasi Foto Suku Bunga (iStockphoto)

IHSG melemah sekitar 20 persen selama 88 hari. Tekanan IHSG terjadi di tengah pasar mengharapkan kenaikan suku bunga acuan untuk menstabilkan rupiah dan pelaksanaan pilkada tenang. Lalu memasuki semester II 2018, apakah pelaku pasar harus khawatir tentang fundamental ekonomi Indonesia?

Ashmore menyatakan, hasil kinerja keuangan perusahaan akan lebih berisiko terutama dampak dari pergerakan nilai tukar rupiah ketimbang kenaikan suku bunga acuan. Dolar AS menguat berarti biaya impor lebih tinggi buat banyak perusahaan. Ini akan memukul sebagian besar pendapatan perusahaan dalam rupiah dengan asumsi tidak ada kenaikan harga,

Hal tersebut akan terlihat pada semester II 2018. Sentimen itu dapat merusak harapan konsensus  soal pertumbuhan EPS sebesar 13 persen.

Adapun harga minyak akan berdampak terhadap inflasi. Pemerintah klaim dapat menjaga inflasi dengan mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Lalu bagaimana dengan valuasi saham? Ashmore menyatakan, bagi investor saham jangka panjang akan melihat valuasi. Ashmore melihat valuasi saham di Indonesia sudah di bawah rata-rata lima tahun. Saat ini price earning ratio 14,5 kali. Diperkirakan, PE ratio sekitar 14,8 kali dengan asumsi pertumbuhan laba terpangkas sembilan persen dari konsensus sebelumnya 13-14 persen.

Ashmore juga mencermati situasi politik. Patut disyukuri pelaksanaan pilkada berjalan damai. Namun risiko tetap ada karena masalah politik dapat menjadi risiko dalam sembilan bulan ke depan. Secara fundamental, kestabilan politik, data konsumsi baik dapat mendorong dana investor asing kembali masuk.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓