Krisis Italia hingga Suku Bunga Acuan BI Bayangi IHSG

Oleh Agustina Melani pada 01 Jun 2018, 09:05 WIB
Diperbarui 01 Jun 2018, 09:05 WIB
20170210- IHSG Ditutup Stagnan- Bursa Efek Indonesia-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat terbatas pada perdagangan saham selama sepekan. Hal itu didorong saham kapitalisasi besar cenderung tertekan.

Mengutip laporan PT Ashmore Assets Management Indonesia, IHSG hanya naik 0,1 persen dari 5.975 pada 25 Mei 2018 menjadi 5.983 pada perdagangan saham 31 Mei 2018. Hal itu dipicu saham kapitalisasi besar masuk indeks saham LQ45 susut 0,25 persen.

IHSG mampu menguat ditopang kenaikan saham kapitalisasi kecil pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Selain itu, aksi beli investor asing tercatat USD 21 juta atau sekitar Rp 292,07 miliar (asumsi kurs Rp 13.908 per dolar Amerika Serikat) pada pekan ini.

Sementara itu, indeks saham BINDO yang menunjukkan kinerja surat utang atau obligasi naik 1,2 persen selama sepekan. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik menjadi tujuh persen. Nilai tukar rupiah pun menguat ke posisi USD 13.896 pada pekan ini.

Hal itu juga didorong aksi beli investor asing di obligasi mencapai USD 223 juta atau sekitar Rp 3,1 triliun.

Ashmore menyebutkan sejumlah sentimen pengaruhi pasar keuangan termasuk IHSG. Dari eksternal, ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,2 persen pada kuartal I 2018. Angka ini di bawah perkiraan sekitar 2,3 persen.

Hal itu lantaran belanja konsumen, investasi dan ekspor naik terbatas. Sementara itu, belanja peralatan, struktur dan properti direvisi menguat.Perkembangan pembicaraan sektor perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China juga menjadi sorotan.

Usai menunda kesepakatan perdagangan, Menteri Perdagangan AS berkunjung ke Beijing, China untuk melanjutkan diskusi dengan China. Situasi saat ini menunjukkan AS cenderung memperbaharui negosiasi perdagangan dengan China.

Pemerintahan AS di bawah pimpinan Presiden AS Donald Trump menyatakan, AS akan rilis daftar final pengenaan tarif impor dari China yang nilainya USD 50 miliar. AS akan rilis daftar impor yang kena tarif hingga 25 persen itu pada 15 Juni 2018. Rencana tersebut dapat menambah risiko pembicaraan perdagangan dengan China.

AS juga berencana umumkan pembatasan investasi yang artinya mencegah China akuisisi teknologi AS. Rencananya pengumuman investasi dilakukan pada 30 Juni 2018. China pun tak tinggal diam. China akan minta dukungan dari Eropa dan Asia untuk melawan AS.

China pun akan perlonggar investasi asing untuk mendapatkan akses pasar lebih baik. China pun memutuskan akan menekan tarif impor mesin cuci, kosmmetik dan barang konsumsi lain mulai 1 Juli 2018.

Dari Eropa, inflasi diharapkan naik menjadi 1,9 persen hingga Mei 2018. Angka ini di atas pencapaian pada April 2018 sebesar 1,2 persen. Pasar harapkan inflasi mencapai 1,6 persen, dan tertinggi sejak April 2017 yang didorong kenaikan harga minyak.

 

2 dari 3 halaman

Italia Jadi Sorotan

IHSG
Perbesar
Pekerja mengecek layar indeks saham gabungan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (4/4). Pada pemukaan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini naik tipis 0,09% atau 4,88 poin ke level 5.611,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Krisis Italia pun jadi sorotan. Italia alami perebutan kekuasaan yang dramatis antara populis dan anggora parlemen yang pro Uni Eropa. Italia alami krisis polik usai sejumlah kelompok gagal hasilkan pemerintahan koalisi baru.

Ini menambah kekhawatiran kalangan investor karena ekonomi Italia termasuk terbesar ketiga di zona euro. Hal tersebut menjadi perhatian signifikan bagi Uni Eropa dan pasar global karena utang Italia sekitar 36 persen dimiliki investor asing. Nilainya mencapai 2,3 triliun euro atau hampir 135 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Italia.

Ini adalah rasio utang terhadap PDB tertinggi kedua di zona euro usai Yunani. Mood'ys berencana akan turunkan peringkat utang Italia. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah naik di atas tiga persen.

Dari internal, Bank Iindonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau 7 day reverse repo rate menjadi 4,75 persen pada rapat tambahan Dewan Gubernur 30 Mei 2018. Hal tersebut sesuai harapan pasar.

Alasan mendasari kenaikan suku bunga itu karena tekanan nilai tukar rupiah di tengah faktor eksternal terutama pada dinamika ekonomi AS.

Di sisi lain, BI melihat fundamental makro domestik tetap sehat ini tercermin dari inflasi terkendali dan defisit transaksi berjalan.

BI juga menekankan komitmen menyediakan likuiditas dengan menerapkan sejumlah langkah antara lain meningkatkan frekuensi transaksi pertukaran mata uang menjadi tiga kali per minggu.

 

3 dari 3 halaman

Hal yang Perlu Dicermati ke Depan?

20170210- IHSG Ditutup Stagnan- Bursa Efek Indonesia-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lalu hal apa yang perlu dicermati ke depan?

BI memutuskan menaikkan 7 day reverse repo rate dua kali dalam dua minggu terakhir. Ini sebagai langkah stabilkan rupiah dan antisipasi pertemuan bank sentral AS atau the Federal Reserve pada 12-13 Juni 2018.Terakhir kali BI gelar pertemuan tambahan pada November 2014.

Langkah tersebut untuk mengendalikan inflasi usai pemerintah menaikkan harga gas dan solar bersubsidi. Ini pertama kalinya BI menaikkan suku bunga meski prospek inflasi stabil.Pelaku pasar memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada kuartal III 2018.

Hal ini terutama jika rupiah tetap di bawah tekanan dari penguatan dolar AS. BI menunjukkan kalau suku bunga naik, pihaknya tetap melonggarkan kebijakan makro prudensial untuk melanjutkan dukungan ekonomi dan penyaluran kredit.

Lalu apa yang menjadi indikasi yang digunakan BI untuk menaikkan suku bunga acuan pada kuartal III 2018?

Ashmore melihat, BI akan memakai dua indikator utama yaitu neraca pembayaran dan imbal hasil surat berharga AS. Neraca pembayaran terdiri dari neraca perdagangan dan aliran dana investor asing dalam portofolio jika terus defisit dapat sebabkan kenaikan suku bunga.

Sementara itu, imbal hasil surat berharga AS dapat ciptakan tekanan untuk suku bunga acuan BI jika terus diperdagangkan di atas tiga persen.

"Dengan surat berharga AS tetap di atas tiga persen, dolar AS tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan potensi kenaikan dan CPI bertahan di level 2,25 persen-2,5 persen," tulis Ashmore.

Selain itu, dalam satu bulan terakhir, Ashmore melihat pergerakan di emerging market terutama yang serupa dengan Indonesia yaitu Turki. Presiden Turki Erdogan agresif promosikan suku bunga lebih rendah dan memberikan tekanan kepada bank sentral untuk pertahankan suku bunga.

Namun setelah Lira depresiasi sebesar 24 persen pada April. Bank sentral bergerak menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin dan 300 basis poin masing-masing pada April dan Mei 2018.

Usai pasar melihat Lira naik lima persen dan imbal hasil obligasi melonjak 95 basis poin, Ashmore melihat kasus Indonesia sedikit berbeda. Tidak ada tekanan langsung dari pemerintah kepada BI mempertahankan suku bunga rendah seperti yang dilakukan Erdogan.

Alasan utama pertahankan suku bunga rendah karena inflasi Indonesia lebih rendah dari target. Akan tetapi, selama dua minggu ini, BI membuat pernyataan berani memprioritaskan stabilitas atas pertumbuhan dan kirim sinyal kuat menaikkan suku bunga 25 basis poin dalam dua kali.

Hasilnya? Obligasi ungguli saham dalam dua minggu lantaran imbal hasil obligasi turun 60 basis poin dan rupiah naik 2,4 persen.Dengan kenaikan suku bunga acuan BI, dua sektor ini paling sensitif yaitu bank dan properti.

Ashmore menyatakan bank biasanya akan lebih tinggi karena dapatkan margin lebih tinggi.Namun karena BI menegaskan kembali likuiditas pasar masih cukup. Oleh karena itu tidak ada alasan menaikkan suku bunga kredit untuk capai pertumbuhan kredit 10-12 persen.

"Kami akan melihat pertumbuhan marjin lambat pada sektor bank. Kami netral di sektor bank," tulis Ashmore.Di sisi lain, properti dengan relaksasi prudensial makro kemungkinan akan dapat dorong pertumbuhan lebih tinggi di masa depan.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓