BI Pangkas Suku Bunga Acuan, 4 Sektor Saham Jadi Pilihan

Oleh Agustina Melani pada 23 Agu 2017, 10:51 WIB
Diperbarui 23 Agu 2017, 10:51 WIB
20161125- Sesi Siang IHSG Naik 5 Persen-JAkarta-Angga Yuniar
Perbesar
Ilustrasi laju IHSG

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan atau 7 day repo rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5 persen akan berdampak positif ke empat sektor saham.

Dalam riset PT Sinarmas Sekuritas menyebutkan, relaksasi kebijakan moneter BI akan berdampak ke empat sektor saham antara lain perbankan, properti, otomotif dan konsumen.

Namun, PT Sinarmas Sekuritas melihat penurunan suku bunga ini tidak akan terlalu berdampak pada sektor perbankan seiring kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan segera mencabut kebijakan relaksasi restrukturisasi prebankan. Pasar dinilai akan lebih memilih sikap wait and see untuk mengantisipasi pengumuman yang akan datang mengenai relaksasi OJK yang diperkirakan berakhir pada 24 Agustus 2017.

PT Sinarmas Sekuritas menyebutkan kalau baru-baru ini OJK tidak berencana memperpanjang program relaksasi lantaran ekonomi semakin membaik dan bank lokal memiliki rasio kecukupan modal yang cukup untuk mengantisipasi pergerakan kualitas aset yang mungkin ditimbulkannya.

Berdasarkan data RTI perdagangan saham Rabu (23/8/2017), di antara 10 sektor saham, sektor saham konstruksi memimpin penguatan terbesar dengan naik 0,66 persen. Disusul sektor saham tambang naik 0,59 persen, sektor saham pertanian menanjak 0,55 persen dan sektor saham keuangan menguat 0,42 persen.

Saham-saham bank pun cenderung naik meski terbatas. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 0,40 persen ke level Rp 18.875 per saham, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menguat 3,45 persen ke level Rp 3.000 per saham, saham BBRI naik 0,33 persen ke level Rp 15.350 per saham.

Sedangkan sektor saham lainnya, dalam riset PT Sinarmas Sekuritas memilih properti. Ini lantaran sektor saham yang sedang melambat dengan valuasi dan prediksi yang menarik. Saat ini BI juga memberlakukan loan to value (LTV) spatial untuk meransang permintaan properti di daerah yang pertumbuhan permintaan propertinya kurang baik. Hal itu dharapkan agar rasio loan to value per wilayah dapat bervariasi. Namun itu tergantung pada kondisi ekonomi, harga tanah dan lainnya.

"Kami melihat pemangkasan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi katalis positif untuk sektor properti," tulis PT Sinarmas Sekuritas.

PT Sinarmas Sekuritas juga memandang pemangkasan suku bunga acuan dapat menguntungkan sektor saham otomotif. Pihaknya melihat pasar kendaraan roda empat terganggu dengan pemain baru memasuki pasar. Namun, penjualan kendaraan roda dua mendapatkan angin segar sehingga menunjukkan pemulihan konsumen di kelas bawah. Meski demikian, pihaknya tetap netral di sektor otomotif.

Di sektor konsumen, PT Sinarmas Sekuritas melihat dampak tidak langsung dari pemotongan suku bunga. Pihaknya tetap optimistis terhadap sektor konsumen meski lebih selektif terhadap sejumlah saham seiring pertumbuhan rendah dan valuasi mahal.

PT Ashmore Assets Management Indonesia melihat ada peluang Bank Indonesia (BI) kembali pangkas suku bunga acuan. Langkah BI memangkas suku bunga acuan menunjukkan BI tidak khawatir dengan kebijakan the Federal Reserve (The Fed). Faktor lain jadi pertimbangan, yaitu inflasi relatif terkendali didukung volatilitas rupiah rendah, cadangan devisa tinggi dan imbal hasil obligasi yang stabil.

PT Ashmorea Assets Management Indonesia melihat pemangkasan suku bunga acuan menjadi katalis positif untuk sektor saham otomotif, properti dan bank. "BI juga menekankan mempertimbangkan relaksasi pada kebijakan loan to value secara serius. Ini bisa menjadi katalis besar untuk otomotif dan properti," tulis PT Ashmore Assets Management Indonesia.

Dalam riset itu juga menyebutkan dengan langkah BI memangkas suku bunga acuan juga diikuti pemangkasan suku bunga deposito. Ini dapat perbaiki likuiditas.

 

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

BI Pangkas Suku Bunga Acuan, Ini Saham Pilihannya

Untuk emiten sektor properti yang diuntungkan dari kebijakan BI itu, menurut PT Sinarmas Sekuritas antara lain PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

"Kami memilih saham PT Bumi Serpong Damai Tbk karena memiliki landbank terbesar dan fokus pada segmen menengah. Sedangkan Ciputra Development memiliki lokasi yang paling tersebar sehingga diuntungkan dari ruang lingkup loan to value," tulis PT Sinarmas Sekuritas.

Sedangkan pilihan saham konsumen yang jadi pilihan yaitu PT Indofood Sukses Makmur tbk (INDF). "Kami memilih sektor saham ini mengingat valuasi yang menarik dan diskon dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk," tulis riset PT Sinarmas Sekuritas.

Bank Indonesia (BI) akhirnya memangkas suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,5 persen pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21-22 Agustus 2017. Gubernur BI Agus Martowardojo menjelaskan, dalam rapat yang berlangsung pada 21 dan 22 Agustus, Dewan Gubernur BI memutuskan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) turun menjadi sebesar 4,5 persen dengan suku bunga Deposit Facility turun 25 basis poin menjadi 3,75 persen dan Lending Facility turun 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.

Lanjutkan Membaca ↓