Meneropong Aksi Korporasi 4 Emiten Ini

Oleh Agustina Melani pada 22 Mar 2017, 11:29 WIB
Diperbarui 22 Mar 2017, 11:29 WIB
20151112--Investor-Summit-2015-Jakarta-AY
Perbesar
Pekerja menunjukan data pasar modal saat pameran Investor Summit 2015 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (12/11/2015). Investor Summit diselengarakan sebagai upaya agar masyarakat Indonesia paham tentang pasar modal. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah emiten atau perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia akan menggelar aksi korporasi. Emiten tersebut ada di sektor tambang, keuangan dan tekstil.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI),seperti ditulis Rabu (22/3/2017), pertama, PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI), perusahaan bergerak di batu bara ini akan melaksanakan pemecahan nilai nominal saham atau stock split. Pemecahan nilai nominal saham dari Rp 50 menjadi Rp 10.

Perseroan telah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 1 Maret 2017. Ada pun akhir perdagangan saham dengan nilai nominal lama Rp 50 di pasar reguler dan negosiasi pada 24 Maret 2017, Sedangkan awal perdagangan saham dengan nilai nominal baru Rp 10 per saham di pasar reguler dan negosiasi.

Tanggal terakhir penyelesaian saham dengan nilai nominal lama Rp 50 per saham di pasar reguler dan negosiasi pada 30 Maret 2017. Seperti diketahui, stock split dilakukan untuk meningkatkan jumlah saham beredar dan menurunkan harga per saham sehingga menjadi lebih murah.

Kedua, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL). Perusahaan bergerak di industri tekstil dan produk tekstil terpadu ini melalui anak usahanya Golden Legacy Pte Ltd akan menerbitkan surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) sekitar US$ 150 juta.

Surat utang tersebut akan ditawarkan kepada investor di luar wilayah negara Indonesia. Surat utang tersebut akan diterbitkan di bursa saham Singapura. Sekretaris Perusahaan PT Sri Rejeki Isman Tbk Welly Salam menuturkan, dana hasil penerbitan obligasi untuk melunasi surat utang senior dengan bunga 9 persen. Surat utang itu jatuh tempo pada 2019. Sisanya akan dipinjamkan ke anak perusahan.

"Surat utang juga akan membiayai kegiatan umum Perseroan yang nantinya juga akan meningkatkan likuiditas dan keuntungan Perseroan," ujar Welly.

2 dari 2 halaman

Verena Multi Finance Rights Issue

Ketiga, PT Verena Multi Finance Tbk (VRNA). Perusahaan bergerak di usaha pembiayaan ini akan menerbitkan saham baru dengan mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dengan lepas 1,5 miliar saham atau 61,24 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai nominal Rp 100.

Harga saham yang ditawarkan Rp 112 per saham. Total dana yang akan diraup dari rights issue mencapai Rp 177,31 miliar. Perseroan akan menggunakan dana hasil rights issue untuk memperkuat struktur permodalan dan mengembangkan usaha perseroan.

Ada pun setiap pemegang 100 saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada 10 Mei 2017, berhak atas 158 saham HMETD. Ada pun PT Bank Pan Indonesia Tbk selaku pemegang saham utama juga akan mengeksekusi pelaksanaan rights issue. Selain itu, yang bertindak sebagai pembeli siaga lDeg-Duetscheinvestititions-undentiwicklungsgesellchaft Mbh (DEG). Perusahaan keuangan asal Jerman ini akan serap 516,77 juta saham atau Rp 57,87 miliar. Jika masih ada sisa maka Bank Pan Indonesia akan menyerap saham tersebut setelah dialokasikan kepada DEG.

Perseroan mengharapkan izin efektif untuk pelaksanaan rights issue oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 27 April 2017.

Keempat, PT Providen Agro Tbk (PALM). Perusahaan bergerak di usaha perkebunan ini akan membagikan pengembalian dana pengurangan modal dengan penurunan nilai nominal saham. Perseroan telah menurunkan nilai nominal saham yang semula Rp 100 per saham menjadi Rp 15 per saham. Perseroan pun mengembalikan dana kepada para pemegang saham sebesar Rp 85 per saham.

Ada pun jadwal aksi korporasi itu antara lain akhir perdagangan dengan nilai nominal lama Rp 100 di pasar reguler dan negosiasi pada 27 Maret 2017. Sedangkan awal perdagangan saham dengan nilai nominal baru Rp 15 per saham di pasar reguler dan negosiasi pada 29 Maret 2017. Untuk pembayaran pengembalian dana akibat pengurangan modal dengan penurunan nilai nominal sebesar Rp 85 per saham dilakukan pada 3 April 2017.

Lanjutkan Membaca ↓