Kapitalisasi Pasar Saham AS Susut US$ 1 Triliun di Awal 2016

Oleh Agustina Melani pada 13 Jan 2016, 17:10 WIB
Diperbarui 13 Jan 2016, 17:10 WIB
Bursa Saham AS 1
Perbesar
(Foto: Istimewa)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan saham dengan kurang menggembirakan di awal 2016. Kapitalisasi pasar sekitar US$ 1 triliun lenyap dari bursa saham.

Kecemasan terhadap ekonomi China dan harga minyak dunia makin merosot menjadi kekhawatiran pelaku pasar. Sentimen negatif itu membebani indeks saham acuan Dow Jones dan S&P 500 di awal 2016.

Nilai valuasi saham S&P 500 merosot sekitar US$ 1,04 triliun sejak akhir 2015. Hal itu berdasarkan indikasi S&P, Dow Jones.

Valuasi saham merosot itu seperti gabungan dari kapitalisasi pasar saham antara lain Google sekitar US$ 508 miliar, Facebook sekitar US$ 281 miliar, Intel sekitar US$ 154 miliar, Netflix sekitar US$ 50 miliar, dan Yahoo sekitar US$ 29 miliar.

Untuk Dow Jones, kapitalisasi pasar sahamnya merosot US$ 310 miliar. Ini berdasarkan penutupan perdagangan saham Senin pekan ini. Itu setara dengan kapitalisasi pasar saham Exxon Mobil US$ 309,50 miliar.

Indeks saham Nasdaq, yang merupakan bintang pada 2015 juga mengalami hal sama. Indeks saham Nasdaq susut sekitar tujuh persen sepanjang 2016.

Meski demikian, bursa saham AS lebih stabil pada pekan ini seiring bursa saham China relatif tenang. "Risiko terjadi penurunan indeks saham masih rendah tanpa resesi. Ekonom kami juga melihat itu tak mungkin. Tetapi memang tak menjamin pertumbuhan pendapatan membaik dalam waktu dekat," ujar Analis Bank of America Merrill Lynch Savita Subramanian seperti dikutip dari laman CNN Money, Rabu (13/1/2016).

Selain faktor China, harga minyak tertekan juga menjadi pendorong besar penurunan di pasar saham. Sejumlah saham di sektor energi mengalami penurunan terbesar salah satunya saham Freeport-McMoran turun 44 persen. Ditambah William Companies anjlok 34 persen sejak awal 2016.

Akan tetapi, sejumlah pihak menilai kalau ketakutan pasar di awal 2016 berlebihan. Morgan Stanley menyebutkan kalau pemulihan ekonomi AS dapat bertahan hingga 2020. (Ahm/Igw)