Ekonomi Lesu, 10 Sektor Saham Kompak Melemah

Oleh Agustina Melani pada 04 Sep 2015, 18:15 WIB
Diperbarui 04 Sep 2015, 18:15 WIB
Ilustrasi IHSG
Perbesar
Ilustrasi IHSG (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Indonesia melambat ditambah nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menekan kinerja pertumbuhan 10 sektor saham di pasar modal Indonesia. Hingga awal September 2015, kinerja 10 sektor saham kompak melemah.

Sektor saham perkebunan dan pertambangan masih cenderung tertekan bahkan mencatatkan pelemahan terbesar. Dari akhir tahun 2014 hingga 2 September 2015, kedua sektor saham itu masing-masing melemah 35,28 persen dan 32,41 persen.

Sementara itu, sektor saham industri dasar dan kimia mencatatkan pelemahan terbesar dengan turun 35,66 persen secara year to date (Ytd). Sektor saham defensif di pasar modal juga ikut terseret ke zona merah. Tercatat, sektor saham barang konsumsi yang biasa dapat bertahan di tengah kondisi ekonomi lesu malah susut 5,75 persen.

Sejumlah analis menilai 10 sektor saham tertekan dipicu dari sentimen domestik dan global. Pelaku usaha cenderung menahan ekspansinya ditambah nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS membuat kinerja emiten lesu sehingga berdampak ke sektor saham.

Analis PT BNI Securities Thendra Crisnanda mengatakan pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 4,6 persen pada kuartal II 2015, ini lebih rendah dibandingkan kuartal I 2015 di kisaran 4,7 persen. Perlambatan ekonomi terjadi membuat kinerja keuangan emiten kurang menggembirakan termasuk sektor saham barang konsumsi.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 32,63 triliun pada semester I 2015. Angka tesebut naik 3,7 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 31,48 triliun. Sementara laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 25,3 persen menjadi Rp 1,73 triliun.

"Adanya perlambatan kinerja keuangan terutama laba bersih membuat hampir seluruh sektor saham catatkan return negatif," kata Thendra saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (4/9/2015).

Hal senada disampaikan Kepala Riset PT Universal Broker Securities Satrio Utomo. Ia mengatakan, perlambatan ekonomi tekan 10 sektor saham terjadi secara merata. "Sejak 2012 Bank Indonesia telah sengaja melambatkan pertumbuhan ekonomi. Ini dilakukan untuk menekan defisit neraca perdagangan agar tidak semakin melebar," kata Satrio.

Sedangkan sektor saham pertambangan dan perkebunan masih mengalami tekanan cukup besar, Satrio menilai hal itu didorong dari harga minyak dunia cenderung melemah sehingga menekan harga komoditas juga mempengaruhi sektor saham pertambangan dan perkebunan. Kini harga minyak acuan AS untuk pengiriman Oktober berada di kisaran US$ 46 per barel.

Sementara itu, Kepala Riset PT Bahana Securities Harry Su mengatakan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS menekan kinerja emiten di pasar modal Indonesia. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah telah melemah 11,94 persen terhadap dolar AS. Dari posisi 12.440 per dolar AS pada 31 Desember 2014 menjadi 14.127 per dolar AS pada 2 September 2015.

2 dari 2 halaman

Prediksi Hingga Akhir 2015

IHSG
Perbesar
IHSG (ANTARA Foto)

Prediksi Hingga Akhir 2015

Thendra menuturkan, saat ini bursa saham masih diliputi ketidakpastian. Hal itu juga membuat pelaku pasar dan emiten cenderung menahan diri. Pelaku pasar kini fokus terhadap perkembangan ekonomi China melambat. Bahkan secara mengejutkan China melemahkan mata uang atau devaluasi Yuan dengan target 10 persen. Jadi ada kemungkinan China kembali melemahkan mata uangnya.

Selain itu, kebijakan bank sentral AS menaikkan suku bunga juga masih membayangi pasar modal Indonesia. Ada spekulasi kenaikan suku bunga akan dimundurkan dari September menjadi Desember 2015. Thendra mengatakan bila rencana kenaikan suku bunga itu ditunda maka jadi hal sensitif di pasar negara berkembang. "Bila The Fed jadi naikkan suku bunga pada September maka itu lebih bagus," kata Thendra.

Hal senada dikatakan Satrio. Prospek sektor saham dan IHSG masih menunggu perkembangan dari pertemuan bank sentral AS dilakukan pada 16-17 September 2015. "Bila The Fed menaikkan suku bunga maka itu dapat mendorong IHSG reli," ujar Satrio.

Untuk rekomendasi sektor saham, Thendra mengimbau pelaku pasar untuk selektif memilih sektor saham di sisa akhir 2015. Sektor saham perbankan, barang konsumsi dan konstruksi dinilai akan menjadi penggerak dan berkinerja cukup baik. "Saham-saham yang dapat jadi pilihan di sektor saham itu antara lain saham Bank Rakyat Indonesia, Wijaya Karya, Semen Indonesia, Jasa Marga, dan Unilever Indonesia. Rekomendasi trading buy," kata Thendra.

Sedangkan Harry memilih sektor saham barang konsumsi dan telekomunikasi untuk jadi pertimbangan pelaku pasar. (Ahm/Igw)

Lanjutkan Membaca ↓