Sektor Saham Konsumsi dan Perdagangan Paling Perkasa

Oleh Agustina Melani pada 07 Mei 2015, 18:01 WIB
Diperbarui 07 Mei 2015, 18:01 WIB
Ihsg
Perbesar
(Liputan6.com/Miftahul Hayat)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah sektor saham masih mencatatkan pertumbuhan memasuki kuartal II 2015 di tengah perlambatan ekonomi Indonesia. Daya beli masyarakat dan harapan terhadap realisasi proyek infrastruktur pemerintah diharapkan dapat menunjang sejumlah sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir 2015.

Kinerja emiten melambat bahkan turun di kuartal I 2015 telah memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal itu berdampak terhadap gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja IHSG memasuki kuartal II 2015 cenderung fluktuaktif. Bahkan IHSG minus 1,46 persen ke level 5.150,49 secara year to date (Ytd) pada penutupan perdagangan saham Kamis 7 Mei 2015.

Meski demikian, ada sejumlah sektor saham yang kinerjanya di atas pertumbuhan IHSG sepanjang awal 2015. Sektor saham barang konsumen atau konsumsi naik 6,71 persen ke level 2.324,11 secara Ytd pada penutupan perdagangan saham Kamis 7 Mei 2015.

Sektor saham perdagangan, jasa dan investasi tumbuh 9,06 persen secara Ytd ke level 958,21. Sementara itu, sektor saham keuangan hanya mampu tumbuh 3,06 persen ke level 753,99. Lalu sektor saham properti, real estate dan konstruksi gedung menanjak 3,12 persen ke level 541,29.

Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan penguatan sektor saham perdagangan itu ditopang potensi kinerja emiten di sektor saham tersebut. Hal itu juga didukung dari likuiditas sektor saham perdagangan.

Akan tetapi, ada sejumlah sektor saham yang kinerjanya masih tertekan. Sektor saham industri dasar dan kimia turun 20,16 persen secara Ytd, dan memimpin penurunan tajam di antara sektor saham BEI. Lalu disusul sektor saham perkebunan merosot 14,30 persen secara Ytd ke level 2.014,93 dan sektor saham infrastruktur, utilitas dan transportasi susut 11,27 persen ke level 1.029,51.

Untuk perdagangan saham hari ini, IHSG ditutup turun 1,46 persen ke level 5.150,49. Hal itu didorong dari aksi jual yang dilakukan investor asing mencapai Rp 350 miliar.

Sektor saham industri dasar memimpin penurunan tajam mencapai 2,6 persen, lalu disusul sektor saham barang konsumen melemah 2,26 persen, dan sektor saham aneka industri susut 1,8 persen.

 

2 dari 2 halaman

Sektor Saham Konsumsi dan Konstruksi Jadi Penopang

Ilustrasi IHSG 10
Perbesar
(Foto: Antara)

Sektor Saham Barang Konsumen dan Konstruksi Jadi Penopang

Sejumlah analis memperkirakan, sektor saham konsumsi atau barang konsumen, konstruksi, keuangan, dan pelayaran masih akan menopang gerak IHSG. Kepala riset PT Bahana Securities Harry Su menuturkan, sektor saham konsumsi, bank, telekomunikasi dan konstruksi yang dapat menguat hingga akhir tahun ini.

Kepala Riset PT Sucorinvest Gani Securities, Maxi Liestyaputra mengatakan, penyerapan belanja pemerintah untuk proyek infrastruktur menjadi sentimen positif bagi sektor saham konstruksi.

Ia menambahkan, kalau sektor saham barang konsumen jadi pilihan mengingat merupakan sektor saham defensif dan permintaan masih cukup baik terhadap barang konsumen masih jadi katalis positif. Menurut Maxi, sektor saham properti juga masih akan tumbuh ditunjang dari ekspansi yang dilakukan perseroan untuk membangun perumahan.

Hal senada dikatakan Kepala Riset PT NH Korindo Securuties Indonesia, Reza Priyambada. Sektor saham konsumsi masih akan tetap tumbuh hingga akhir 2015. Hal itu didukung dari harapan terhadap kinerja perseroan.

PT Unilever Indonesia Tbk masuk sektor saham barang konsumen mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7,8 persen menjadi Rp 9,41 triliun hingga kuartal I 2015. Laba periode berjalan naik 16,95 persen menjadi Rp 1,59 triliun pada kuartal I 2015 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,36 triliun. Kinerja cukup positif membuat saham Unilever terus naik sehingga mencatatkan kapitalisasi pasar saham terbesar di pasar modal Indonesia pada Rabu 6 Mei 2015. Kapitalisasi pasar saham PT Unilever Indonesia Tbk tercatat Rp 345 triliun.

"Selain kinerja keuangan, sektor saham barang konsumen juga didukung dari daya beli masyarakat. Meski ada kenaikan harga produk tetapi masyarakat pasti membeli," ujar Reza, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (7/5/2015).

Selain sektor saham barang konsumen, Reza memprediksikan, sektor saham konstruksi  dan keuangan juga dapat bertumbuh pada akhir 2015. Hal itu ditopang dari percepatan proyek infrastruktur pemerintah.

"Semua tergantung dari kebijakan pemerintah. Untuk percepat proyek infrastruktur maka imbas ke sektor saham konstruksi. Kalau pemerintah dan Bank Indonesia melonggarkan kebijakan moneter maka sektor saham perbankan masih jadi pilihan," kata Reza.

Sedangkan Kepala Riset PT Mandiri Sekuritas, John Rachmat memilih saham-saham berpenghasilan dolar tetapi biaya dalam rupiah. Saham-saham jadi pilihannya masuk ke sektor saham aneka industri dan transportasi. Saham jadi pilihan seperti PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), PT Pan Brothers Tbk (PBRX), PT Soechi Lines Tbk.

Untuk rekomendasi saham dari sektor konsumsi dan konstruksi, Maxi memilih saham-saham yang dapat dicermati pelaku pasar seperti saham UNVR, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Gudang Garam Tbk (GGRM).

Sedangkan sektor saham konstruksi jadi pilihan antara lain PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT PP Tbk (PTPP). Sedangkan Reza memilih saham WIKA, ADHI, dan PTPP. Untuk saham di sektor keuangan, Reza merekomendasikan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). (Ahm/)

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait