Kapitalisasi Pasar Saham BCA Kalahkan Astra dan Sampoerna

Oleh Agustina Melani pada 05 Okt 2014, 20:05 WIB
Diperbarui 05 Okt 2014, 20:05 WIB
BANK BCA
Perbesar
(Liputan6.com/Johan Tallo )

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang akhir kuartal III 2014, kapitalisasi pasar saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menggeser saham kapitalisasi pasar saham PT Astra International Tbk (ASII) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Bahkan 1 Oktober 2014, kapitalisasi pasar saham PT Bank Central Asia Tbk mampu berada di posisi teratas kapitalisasi pasar saham terbesar di BEI. PT Bank Central Asia Tbk mencatatkan kapitalisasi pasar saham senilai Rp 318 triliun atau 6,2 persen dari total kapitalisasi pasar saham BEI.

Posisi kedua disusul PT HM Sampoerna Tbk membukukan kapitalisasi pasar saham senilai Rp 316 triliun atau 6,2 persen. Posisi ketiga, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan kapitalisasi pasar saham Rp 289 triliun atau 5,6 persen dari total kapitalisasi pasar BEI.

Sedangkan posisi keempat ditempati kapitalisasi pasar saham PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 283 triliun atau 5,5 persen dari total kapitalisasi pasar saham BEI.

Namun sayang berdasarkan data BEI Jumat 3 Oktober 2014, kapitalisasi pasar saham BBCA berada di posisi kedua senilai Rp 296 triliun atau 6% dari total kapitalisasi pasar saham BEI. Kapitalisasi pasar saham merupakan harga saham dikalikan jumlah saham beredar di pasar modal.

Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto menuturkan, ada sejumlah faktor yang membuat kapitalisasi pasar saham BCA bisa menggeser kapitalisasi pasar saham Astra International. Pertama, bisnis BCA cenderung menyasar ritel sehingga mendapatkan keuntungan dari dana murah.

"Selain itu, investor asing juga menyukai saham perbankan. Penetrasi pasar Indonesia yang masih besar membuat bisnis bank masih menarik," ujar David, saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (5/10/2014).

David mengatakan, saat ini PT Astra International Tbk (ASII) mengalami tekanan dari dolar menguat sehingga menekan rupiah. Hal itu ditambah dengan kenaikan upah buruh sehingga menambah beban biaya bagi perseroan.

"Perusahaan manufaktur seperti Astra tergantung dari upah dan nilai tukar rupiah. Apalagi dengan persaingan ketat di industri otomotif menambah tekanan," kata David.

Meski demikian, David menilai baik Bank Central Asia dan Astra International akan menghadapi sejumlah tantangan ke depan. Rencana kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dapat menahan laju bisnis BCA. Sedangkan bagi Astra, rencana harga BBM bersubsidi naik juga mempengaruhi bisnis Astra.

Namun, David masih tetap optimistis terhadap laju saham BCA dan Astra International. Hal itu karena kedua perusahaan tersebut memiliki fundamental baik. "Rekomendasi buy on weakness untuk saham BCA dan Astra International," kata David. (Ahm/)