Kapitalisasi Pasar Saham RI Tembus Rp 4.800 Triliun

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 18 Mar 2014, 19:33 WIB
Diperbarui 18 Mar 2014, 19:33 WIB
Kapitalisasi Pasar Saham RI Tembus Rp 4.800 Triliun
Perbesar
Kapitalisasi pasar modal Indonesia mencapai Rp 4.800 triliun pada Senin pekan ini.

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kapitalisasi pasar modal mencapai Rp 4.800 triliun pada Senin (17/3/2014).

Direktur Utama BEI, Ito Warsito menilai, kapitalisasi pasar saham yang mencapai Rp 4.800 itu menandakan kapitalisasi pasar saham telah mendekati posisi kapitalisasi pasar saham pada Mei 2013. Ketika itu, kapitalisasi pasar saham menembus Rp 5.000 triliun atau sekitar US$ 500 miliar.

Dengan kapitalisasi pasar saham itu, Ito melihat, saat ini kondisi baik untuk go public. Hingga pertengahan Maret 2014, perolehan dana dari penawaran saham perdana/initial public offering (IPO) mencapai Rp 790 miliar.

Sementara itu, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad mengharapkan, kapitalisasi pasar saham Indonesia dapat mendekati kapitalisasi pasar saham Malaysia dan saat ini sudah melebihi kapitalisasi pasar saham Thailand.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida, ada 51 emiten yang mencari dana di pasar modal senilai Rp 51,8 triliun pada 2013. Total dana itu berasal dari penawaran saham perdana/initial public offering (IPO) senilai Rp 16,7 triliun, right issue/penawaran umum terbatas senilai Rp 32,97 triliun, dan waran senilai Rp 2 triliun.

"Dari sisi emitennya dibandingkan tahun 2012 ada peningkatan sebesar 25%," kata Nurhaida, Selasa (18/3/2014)

Jumlah emiten di pasar modal Indonesia

Muliaman mengakui, memang jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia masih sedikit ketimbang Malaysia, Singapura dan Thailand. Muliaman mengatakan, jumlah perusahaan di BEI baru 448 emiten, sedangkan Thailand mencapai 585 emiten, Singapura mencapai 774 emiten dan Malaysia mencapai 889 emiten.

Menurut Muliaman, data itu harusnya menjadi inspirasi untuk mengatasi ketertinggalan jumlah emiten tercatat di pasar modal. Apalagi Indonesia merupakan negara terbesar di Asean.

"Seharusnya dalam waktu tidak terlalu lama perusahaan tercatat dapat melebihi negara tetangga, namun mengatasi ketertinggalan ini tidak mudah, " kata Muliaman.