Sulit Diakses dan Tak Ada Sinyal Jadi Kendala Penanganan Banjir Desa Tumbang Gagu Kotim

Oleh Marifka Wahyu Hidayat pada 07 Okt 2022, 21:53 WIB
Diperbarui 08 Okt 2022, 07:16 WIB
Banjir
Perbesar
Ilustrasi Foto Banjir (iStockphoto)​

 

Liputan6.com, Palangkaraya - Kecemasan masih terus menghantui warga Desa Tumbang Gagu, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Meski banjir sudah surut sejak Selasa (4/10/2022), namun ancaman banjir masih menghantui warga. Kekhawatiran itu bukan tanpa sebab, pasalnya desa tersebut sulit diakses lantaran kondisi jalan yang rusak, apalagi belum ada sinyal telepon dan jaringan listrik. 

Kondisi itu membuat informasi mengenai banjir tidak bisa diakses dengan baik. Imbasnya penanganan tersendat bahkan bantuan baru datang saat banjir akibat meluapnya Sungai Kalang dari cabang Sungai Mentaya telah surut.

Butuh waktu sekitar 8-10 jam untuk sampai ke Desa Tumbang Gagu dari Sampit, Ibu Kota Kotawaringin Timur, karena jalan yang rusak. Hal inilah yang menjadi kendala bagi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur untuk sampai ke lokasi jika bencana alam seperti banjir melanda.

Kondisi ini juga menjadi ironis, mengingat di lokasi tersebut sebenarnya ada cagar budaya, yakni Rumah Adat Betang, bangunan yang menjadi rumah adat Suku Dayak yang sudah berdiri ratusan tahun.

"Akses jalan dan jarak tempuh sangat jauh, posisi Desa Tumbang Gagu adalah desa paling ujung atau terakhir dari anak Sungai Kalang cabangnya Sungai Mentaya" ungkap Kepala BPBD Kotawaringin Timur Richel, Jumat (7/10/2022). 

Menurut Richel, banjir yang terjadi selama setahun belakangan, disebabkan oleh curah hujan yang tinggi ditambah dengan pendangkalan sungai serta berkurangnya daerah resapan air.

Hal senada juga diutarakan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalteng Bayu Herinata. Menurutnya yang harus dibenahi pemerintah dalam mengenai banjir di wilayah Kotawaringin Timur, salah satunya adalah daya tampung lingkungan seperti Daerah Aliran Sungai (DAS).

"DAS Mentaya menjadi salah satu DAS yang paling kritis di Kalteng, makanya bencana ekologis seperti banjir pasti akan sering terjadi di sana, karena hutanya sudah sangat sedikit tidak sampai 30 persen," tegasnya.

Tak hanya itu, wilayah DAS juga harus dipertahankan keasrian hutannya untuk memberikan daya tampung terhadap bencana lingkungan. Bahkan anomali cuaca yang saat ini terjadi merupakan akumulasi dari kerusakan lingkungan, seperti deforestasi, efek rumah kaca, kebakaran hutan dan lahan.

"Jika kondisi lingkungan dan daya tampung baik, tidak akan berdampak seperti saat ini bencana ekologisnya. Intensitas hujan yang tinggi pun masih akan tertampung," tambahnya.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Akses Jalan

Selain permasalahan banjir yang harus dihadapi warga Desa Tumbang Gagu, mereka juga harus berhadapan dengan sulitnya akses jalan menuju wilayahnya, sebab masih banyak jalan yang belum diaspal.

"Sebenarnya aksesnya masih jalan tanah, kita tahu sendiri kalau jalan tanah saat cuaca buruk dan medannya berbukit bukit. Makanya saya sebagai kepala desa sedikit kesulitan juga apalagi kalau ada bencana kita nempuhnya susah," ujar Timbang selaku Kepala Desa Tumbang Gagu.

Para warga berharap, pemerintah dapat memberikan solusi bagi warga yang hidup di pedalaman. Karena menurutnya, kunci utama untuk membangun masyarakat daerah terpencil yang paling penting adalah akses jalan.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya