Curah Hujan di Jabar Tinggi, Warga Diimbau Waspada Potensi Tanah Bergerak

Oleh Dikdik Ripaldi pada 07 Okt 2022, 06:24 WIB
Diperbarui 07 Okt 2022, 06:24 WIB
Bencana pergerakan tanah di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor
Perbesar
Bencana pergerakan tanah di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

Liputan6.com, Bandung - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, memperingatkan agar masyarakat waspada terhadap potensi bencana tanah bergerak di Jabar seiring curah hujan yang saat ini mulai terpantau tinggi.

Hendra menjelaskan, fenomena tanah bergerak terjadi karena adanya kelindan antara faktor internal pada batuan dengan faktor eksternal seperti hujan. Contohnya, kejadian rayapan tanah di Desa Bojong Koneng, Kabupaten Bogor belum lama ini.

"Gerakan tanahnya lambat, menurut informasi akibat adanya peran batuan, yaitu batuan lempung yang berinteraksi dengan curah hujan yang mulai tinggi,” katanya dalam konferensi pers diikuti Liputan6.com secara daring, Kamis (6/10/2022).

"Hujan atau faktor eksternal ikut membantu terjadinya proses gerakan tanah," imbuh Hendra.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun sebelumnya memprediksi bahwa awal musim hujan 2022/2023 terjadi pada September dan puncaknya pada Januari-Februari 2021. Masyarakat juga diimbau waspada menghadapi masa peralihan pada September-Oktober ini.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Selain Hujan adalah Kemiringan

Selain hujan, kata Hendra, faktor lain yang juga memengaruhi terjadinya gerakan tanah adalah morfologi daerah, khususnya tingkat kemiringan lereng di sebuah kawasan. Gerakan tanah yang dipengaruhi morfologi ini kerap terjadi di Jawa Barat.

"Jabar ini terkenal sebagai daerah berbukit, morfologi, dalam hal ini kemiringan lerengan, membantu terjadinya gerakan tanah. Kebanyakan kasus itu adalah the bread flow, seperti bubur, material rombakan terbawa hujan," katanya.

Hendra mengaku sudah menyampaikan peta kerawanan gerakan tanah yang mereka susun berdasarkan survei lapangan kepada pemerintah provinsi. Harapannya, peta tersebut dapat disosialisasikan secara masif kepada masyarakat sebagai upaya mitigasi.

"Agar masyarakat mendapat pengetahuan yang cukup memadai dalam melihat daerah sekitar rumahnya yang ada potensi gerakan tanah, terutama memang curah hujan di Jabar tinggi," kata Hendra.

 


10 Bulan 354 Kejadian

Disampaikan sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat (Jabar) mencatat, sebanyak 916 kejadian bencana terjadi di Jabar dalam rentang 10 bulan pada 2022 ini.

Merujuk pendataan pada laman resmi kebencanaan yang dikelola BPBD Jabar yakni BARATA (barata.jabarprov.go.id), diakses Liputan6.com pada 5 Oktober 2022 lalu, longsor atau gerakan tanah terpantau sebagai kejadian becana tertinggi kedua setelah angin kencang.

Selama rentang Januari hingga Oktober ini, kejadian tanah longsor sebanyak 354 kasus, angin kencang sebanyak 376 kasus, banjir 157 kejadian, lainnya gempa bumi (18 kasus), kebakaran lahan (8 kasus), dan kekeringan (3 kasus).

Di samping itu, Kabupaten Bogor menjadi daerah yang paling rawan terjadi bencana di Jawa Barat. Merujuk pendataan yang sama, mencapai 196 kejadian bencana. Daerah selanjutnya, adalah Kabupaten Sukabumi dengan 136 kejadian bencana. Untuk wilayah Bandung Raya, sebanyak 119 kejadian bencana.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya