Jejak Perjuangan Suprapto, Mantan Ajudan Jenderal Sudirman yang Gugur di Tangan PKI

Oleh Sefan Angeline Reba pada 01 Okt 2022, 16:00 WIB
Diperbarui 01 Okt 2022, 16:00 WIB
[Bintang] Mengenal Pahlawan Revolusi
Perbesar
Letnan Jenderal TNU Anumerta Suprapto | Via: id.wikipedia.org

Liputan6.com, Jakarta - Letnan Jenderal Suprapto dikenal sebagai salah satu pahlawan revolusi yang gugur dalam Gerakan 30 September (G30S PKI). 

Mantan ajudan Jenderal Sudirman ini lahir di Purwokerto, Jawa Tengah 20 Juni 1920. Ia mengawali pendidikan militernya di Koninklijke Militaire Bandung. Suprapto tidak bisa menyelesaikan pendidikannya sampai tamat karena pada saat itu pasukan Jepang datang ke Indonesia.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Mengenal Pahlawan Revolusi Korban G30S/PKI
Perbesar
G30SPKI menjadi kenangan kelam bangsa ini sebab di masa itu para pahlawan dibantai secara keji.

Selepas itu, tentara Jepang menangkap Suprapto. Namun, ia berhasil melarikan diri dari penjara kemudian mengisi waktunya dengan mengikuti kursus Pusat Latihan Pemuda, latihan keibodan (barisan pembantu polisi), seinendan (barisan pemuda), dan syuisyintai (barisan pelopor).

Dan berakhir menjadi salah satu pekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat. 

Saat revolusi kemerdekaan berkecamuk di mana-mana, ia terlibat pelucutan senjata pasukan Jepang di Cilacap. Setelah itu, ia menjadi salah satu anggota Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto, yang dimana hal tersebut awal mula dirinya secara resmi masuk sebagai tentara Indonesia.

Suprapto juga sempat menentang rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima, unsur pertahanan keamanan Republik Indonesia yang digagas PKI. Angkatan ini diambil dari kalangan buruh dan petani yang dipersenjatai.

20150722-Museum ANRI-Jakarta
Perbesar
Diorama pahlawan revolusi di Museum Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (22/7/2015). Museum tersebut menyimpan ribuan arsip dari era tahun 1600 tentang sejarah negara Indonesia. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Tragedi dimulai pada 30 September 1965 dini hari. Pada malam itu, Letjen Suprapto begadang menunggu salah satu putrinya, Sri Lestari yang tak kunjung pulang.

Pasalnya, pada saat itulah keluarga Suprapto melihat ayah mereka untuk kali terakhir dalam keadaan sehat. Kemudian sekitar pukul 04.00 pagi, Letjen Suprapto diculik gerombolan berseragam tentara dengan baret Tjakrabirawa dan dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur. 

Saat kejadian itu, Suprapto dituduh tergabung dalam Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Presiden Ir Sukarno, sehingga menyebabkan ia harus diculik oleh pasukan Tjakrabirawa. 

Perwira senior ini gugur dalam usianya yang ke-45 tahun. Pemerintah pun menaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Letnan Jenderal, kemudian empat hari selepas kematiannya, ia diangkat menjadi Pahlawan Revolusi

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya