Bentenan, Kain Tenun Khas Manado yang Hanya Ada 10 di Dunia

Oleh Switzy Sabandar pada 02 Okt 2022, 23:00 WIB
Diperbarui 02 Okt 2022, 23:00 WIB
20161217-Bunaken Masih Jadi Primadona Wisata Manado-Sulawesi
Perbesar
Turis mancanegara usai melihat keindahan taman laut di Pulau Bunaken, Manado, Sabtu (17/12). Tiongkok mendominasi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Manado pada pertengahan tahun hingga mencapai 34 ribu wisatawan. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Manado - Kain bentenan merupakan kain khas Manado yang memiliki sejarah panjang. Kain ini juga merupakan kain tenun khas Sulawesi Utara.

Kain bentenan dibuat di Tombulu, Tondano, Ratahan, Tombatu, dan wilayah lainnya di Minahasa. Namun, nama 'bentenan' diambil dari nama wilayah pelabuhan utama di Sulawesi Utara, yaitu Bentenan.

Dari pelabuhan inilah, kali pertama kain Bentenan diekspor, tepatnya pada abad ke-15 hingga ke-17. Kain ini terbuat dari bahan alami, seperti serat kulit kayu dari pohon sawukouw dan lahendong yang disebut 'fuya'.

Namun, ada juga kain bentenan yang terbuat dari serat nanas, bambu, bahkan pisang yang kemudian disebut 'koffo'. Motifnya pun sangat beragam, yakni tonilama, kokera, pinatikan, sinoi, tinontom mata, tinompak kuda, serta kaiwu patola.

Saat ini, kain bentenan yang terakhir ditenun pada 1880, jumlahnya tak sampai sepuluh buah di dunia. Bahkan, kini hanya tersisa dua kain bentenan di Indonesia yang disimpan di Museum Nasional.

Kain bentenan merupakan kain yang sakral dan langka dari Manado. Dikatakan sakral karena kain ini dahulu hanya digunakan oleh kalangan tertentu pada waktu tertentu.

Dahulu, cara memakai pun tidak bisa sembarangan. Kain bentenan hanya digunakan para pemimpin adat (Tonaas) dan pemimpin agama (Walian) untuk dikenakan dalam berbagai upacara adat, seperti upacara membangun rumah, menentukan masa tanam, hingga berperang.

Selain itu, kain Manado ini juga digunakan dalam berbagai upacara daur hidup, seperti digunakan sebagai kain pembungkus bayi yang baru lahir, upacara pernikahan, hingga pembungkus jenazah bagi kalangan tertentu. Dalam upacara tersebut, Walian dan Tonaas akan memohon perlindungan pada Opo-Opo (dewa) dengan membaca mantra khusus.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan Video Pilihan Ini:


Terakhir Ditenun pada Abad ke-18

Dalam beberapa literatur, dituliskan bahwa kain ini terakhir ditenun di daerah Ratah pada akhir abad ke-18. Kain bentenan asli bahkan sempat menghilang karena tidak diproduksi selama lebih dari 200 tahun.

Tak heran jika jumlah tersebut membuat kain bentenan tergolong langka. Kain bentenan yang tersimpan di Museum Nasional adalah kain bentenan bermotif patola.

Seorang kurator tekstil, Yudi Achyadi mengatakan, kain bentenan tersebut merupakan satu-satunya di dunia yang bermotif patola. Motif patola ini diduga dipengaruhi oleh motif patola India.

Kain bentenan dibuat dengan proses yang cukup panjang. Kain ini dibuat dengan teknik ikat yang rumit.

Proses pembuatannya dimulai dari pemintalan benang, pengikatan dan pewarnaan benang, hingga penjemuran. Selanjutnya, kain akan ditenun tanpa terputus hingga berbentuk seperti sarung.

Proses menenunnya pun dilakukan dengan alat tenun tradisional yang kini sudah tidak bisa ditemukan lagi. Dalam sebuah tulisan yang diulas dalam koran “Tjahaya Siang” terbitan 1880, sebelum menenun kain, penenun akan melantunkan lagu “Ruata”, yang berarti Tuhan agar mereka dapat menghasilkan kain tenun yang indah.

Jumlahnya yang semakin menipis dan tergolong langka ini lambat laut membuat kain bentenan mulai dilupakan. Konon, salah satu penyebabnya berkaitan dengan penyebaran agama Kristen yang dibawa para misionaris Belanda.

Masyarakat setempat yang sudah memeluk agama Kristen meninggalkan upacara dan berbagai ritual adat. Hal tersebut menjadikan kain bentenan yang dahulu sering dipakai untuk upacara adat pun perlahan ditinggalkan.

Selain itu, penggunaan kain tenun di masa sekarang pun dianggap kuno dan kurang modern oleh masyarakat. Banyak orang lebih memilih mengenakan pakaian modern, seperti yang dikenakan orang Belanda pada masa kolonial.

Meski demikian, untungnya kini para pengrajin dan desainer setempat kembali mempopulerkan kain tenun ini. Namun, ketiadaan alat tenun asli yang dahulu digunakan membuat kualitas kain bentenan yang baru-baru ini dihasilkan belum dapat menyamai kain tenun bentenan yang asli.

Kini, kain bentenan banyak dijual di toko online dengan harga beragam. Sebuah akun instagram @kainbentenan pun juga hadir dengan menciotakan beragam pakaian dan tas dari kain bentenan.

(Resla Aknaita Chak)

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya